Langit ujung kulon berwarna jingga, pertanda sore hari segera berakhir. Arjuna sengaja memilih waktu senja untuk meninggalkan Jim Mambang istrinya di Padepokan Pring Cendani. Ia rela melepas mimpi-mimpi indahnya guna menapaki jalan kasunyatan. Jalan yang dipenuhi onak dan duri, menuju hutan Wanamarta, tempat saudara-saudaranya membuka hutan.

Tidak seperti di Pring Cendani, tempat Arjuna mengalami puncak kebahagiaan bersama Jim Mambang. Di Wanamarta, Arjuna bakal mengalami tahapan sengsara bersama dengan Puntadewa dan saudara-saudara yang lain.

Semenjak Arjuna dibawa paksa orang tak dikenal yang ternyata adalah Begawan Wilawuk, Puntadewa memerintahkan Wrekudara untuk mencarinya. Saat ditinggal keduanya yang merupakan tulang punggung Pandawa, Puntadewa mengalami puncak kecemasan. Walaupun ada sepasukan prajurit Hastina yang berjaga, hal tersebut tidak menjamin ketenangan hati Puntadewa. Karena senyatanya mereka tidak mampu berbuat banyak tatkala Arjuna dibawa pergi sosok misterius yang bergerak amat cepat.

Namun kecemasan Puntadewa tidak berkepanjangan. Karena tidak lama kemudian Wrekudara segera datang bersama orang asing yang berwujud gandarwa, Anggaraparna namanya. Sebelum Puntadewa bertanya lebih jauh, Anggaraparna lebih dahulu memperkenalkan diri. Bahwa dirinya adalah sahabat Arjuna. Kedatangannya untuk menolong Arjuna yang sedang mengalami kesulitan.

“Tetapi Arjuna sedang tidak ada di tempat, ia diambil paksa oleh orang sakti yang tak dikenal,” kata Puntadewa.

“Iya aku tahu, melalui aji pameling Arjuna minta pertolongan karena dirinya dalam ancaman bahaya, namun tidak lama kemudian tanda bahaya itu berubah menjadi tanda bahagia. Oleh karenanya aku merubah langkah, tidak mencari Arjuna melainkan menuju Wanamarta tempat saudara-saudara Arjuna yang sedang dalam kesulitan di Wanamarta. Di tengah jalan bertemu dengan Wrekudara. Ia mau saya ajak kembali ke Wanamarta.

“Tujuanku datang di tempat ini untuk membantu para Pandawa dalam mewujudkan rumah bersama yang nyaman dan tenteram untuk ditinggali di Wanamarta. Hal tersebut saya lakukan sebagai balas budi kepada Arjuna yang pernah mengampuni ketika mengalahkan aku dan membiarkan aku hidup hingga sampai saat ini.”
“Anggaraparna sebaiknya menunggu kêdatangan Arjuna. Karena Arjunalah yang berhak menerima balas-budimu, bukan aku.”

“Raden Punta, bukankah Arjuna adalah Pandawa dan Pandawa adalah Arjuna. Demikian juga Raden Punta adalah Pandawa dan Pandawa adalah Raden Punta? Oleh karenanya perkenankanlah sekarang juga aku mewujudkan sebuah rumah bersama yang megah dan indah.”

Tidak perlu menunggu persetujuan Puntadewa, Anggaraparna melakukan semedi, menjernihkan pikiran, membersihkan hati dan mengosongkan diri, masuk dalam suasana hening, heneng dan henung. Hal tersebut dimaksudkan untuk memohon Sang Hyang Pencipta Jagad berkenan hadir bersemayam dalam dirinya. Jika antara Hyang Pencipta dan ciptaan bersatu, manunggaling kawula Gusti, tidak ada sesuatu pun yang tidak mungkin, semuanya serba mungkin termasuk munculnya bangunan kraton yang sangat indah secara tiba-tiba di tengah hutan Wanamarta.

Wouw!! Bangunan ajaib! Pandawa terpana menyaksikan hutan yang masih perawan itu hilang berganti bangunan kraton yang megah. Belum pernah kami melihat bangunan seindah ini. “Benar Raden Punta, bangunan seindah ini belum pernah ada di dunia, kecuali di kahyahan Batara Indra. Maka dari itu keraton tiban ini aku namakan Indraprasta”

Konten Terkait:  Kisah Sebelum Perang 10 November di Surabaya

“Mimpikah ini?”

“Bukan mimpi Raden, ini adalah kenyataan. Kenyataan dari sebuah mimpi. Kenyataan ini senyatanya adalah nyata, bahwa Pandawa telah berhasil membuka hutan dan mendirikan keraton Indrapasta. Untuk menyakinkan bahwa keraton itu bukan fatamorgana, masukalah dan telitilah setiap sudut dengan seksama.”

“Anggaraparna kami tidak berhak atas keraton itu. Karena keberadaannya bukan atas jerih payah kami, melainkan karena sabdamu.”

“Ha ha ha, Raden Punta bukan aku yang menyabda, tetapi Sang Sabda sendiri yang hadir dalam diriku dan menganugerahkan untuk kalian. Anugerah ini diberikan bukan karena jerih payah kalian. Bukan pula karena laku sengsara yang telah kalian jalani, melainkan karena kebaikanNya semata. Oleh karenanya jangan ragu-ragu, terimalah dengan penuh syukur.”

Anggaraparna tidak sabar menunggu keraguan Puntadewa untuk melangkah ke tangga istana,
maka kemudian didoronglah para Pandawa memasuki istana baru. Mereka pun kemudian menempati tempat dan bagiannya masing-masing, sesuai dengan kedudukkannya, termasuk Kunthi dan Durpadi.

Setelah mereka semua tinggal dalam keraton, Anggaraparna memohon diri, waktu itu Arjuna belum datang. Sehingga walaupun sudah menempati sebuak kraton baru yang megah, mereka belum sepenuhnya tenang.

Mulai dari Puntadewa yang selalu gelisah. Ia sering melihat mahkluk lain yang mirip sekali dengan dirinya. Mahkluk tersebut mengikuti dan mengawasi Puntadewa, dimanapun Puntadewa berada.

Puntadewa tidak menyadari bahwa sesungguhnya mahkluk yang persis dirinya itu bernama Prabu Yudistira raja Mrentani. Kerajaannya tidak kelihatan. Bagi orang pada umumnya yang kelihatan adalah hutan lebat bernama Wanamarta. Tetapi sesungguhnya hutan tersebut merupakan kerajaan mahkluk halus yang bernama Mrentani. Ketika Anggaraparna menyabda Wanamarta menjadi kraton, hal tersebut sesungguhnya bahwa ia telah membuka tabir misteri. Menampakan Kerajaan Mrentani yang semula tidak tampak menjadi tampak. Yang semula tidak dilihat manusia menjadi kamangnungsan.

Dengan perubahan itu, seperti halnya Raden Putadewa, Prabu Yudistira pun tidak menyadari bahwa kerajaan Mrentani telah dilihat manusia, dan sekarang sudah diduduki para Pandawa. Oleh karenanya Prabu Yudistira heran dengan perubahan perilaku Pandawa. Mereka mulai menggunakan fasilitas dan perlengkapan miliknya, yaitu ruangan, kamar, meja kursi, tempat tidur, dan fasilitas-fasilitas yang lain, yang sebelumnya tidak tersentuh manusia. Sebagai pemilik semua itu, wajarlah jika Prabu Yudistira tidak rela Puntadewa duduk di kursinya, tidur di tempat tidurnya, mandi di kamar mandinya. Ia marah dan mengusir paksa Puntadewa.

Puntadewa tidak melawan. Karena merasa bukan dirinya yang mempunyai keraton, ia pun keluar dari kompleks keraton Indraprasta (bersambung)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here