Dhanyang dalam masyarakat Jawa sering dimaknai sebagai penunggu gaib sebuah tempat, lokasi, atau wilayah. Penunggu gaib ini bisa berasal dari makhluk hidup yang telah mati atau moksa yang dipercaya arwahnya menjadi penunggu suatu lokasi, tempat, atau wilayah. Dapat juga apa dimaknai dhanyang adalah makhluk gaib yang asalnya bisa dari antah berantah yang bahkan gambaran visualnya bisa demikian beragam dalam benak masing-masing orang yang mempercayainya sekali pun sering juga disampaikan deskripsinya oleh orang yang dipercayai.

Dhanyang juga sering dimaknai sebagai yang mbaurekso (menguasai-mengelola), lurah, dan juga dedengkot. Tema dhanyang itulah yang diangkat dalam pameran drawing di Bentara Budaya Yogyakarta 14-22 September 2019 yang pembukaannya dilakukan oleh wartawan serba bisa, Khocil Birawa dan juga dimeriahkan dengan Orkes Keroncong Sakpenake dan pembacaan puisi ‘Cintaku Naik Itu Perahu’ oleh Rama Dr. GP Sindhunata SJ.

Pameran ini melibatkan 15 perupa, yakni Aliem Bakhtiar, Bambang Herras, Bambang Pramudyanto, Bartimeus Yayan “Meuz”, Bonaventura Gunawan, Budi Ubrux, Edi Sunaryo, Fajar Sungging Pramudito, Felix S Wanto, Harindarvati, Hermanu, Ismail Sukribo, Reza Hasibuan, Sri Pramono, dan Yuswantoro Adi.

Seniman peserta pameran, pengelola Bentara Budaya Yogyakarta berfoto bersama Khocil Birawa dalam pembukaan Pameran Bengawan Sore-Foto-A.Sartono

Pameran ini berawal dari sebuah pembacaan dan pemaknaan cerita yang terkandung dari sebuah buku lama yang ditulis oleh Radem Adipati Arya Reksa Kusuma, seorang Bupati dari Bojanegara, Jawa Timur. Bupati tersebut menuliskan riwayat Bengawan Solo yang berada di dalam wilayah Kabupaten Bojanegara. Dimulai dari daerah Ngawi ke utara sampai ke Cepu terus ke timur sampai daerah Lamongan dan Gresik.

Perlu diketahui bahwa nama Bojonegoro seperti yang dikenal sekarang pada masa pemerintahan Mataram maupun VOC belum dikenal. Kala itu namanya adalah Kabupaten Jipang. Nama Bojanegara muncul setelah Raffles sebagai Gubernur Jenderal Inggris tahun 1811 membagi Pulau Jawa dalam beberapa karesidenan dan dipakai terus oleh Pemerintah Hindia Belanda. Bojanegara akhirnya diubah menjadi Bojonegoro sampai sekarang. Dulu, Karesidenan Bojonegoro meliputi Kabupaten Bojonegoro, Tuban, dan Lamongan.

Konten Terkait:  Merah Muda: Semangat Muda Menuju Perupa Prima
Benawa Getas, 73 x 40 cm, pensil di atas kertas, 2019, karya Aliem Bakhtiar-Foto-A.Sartono

Buku tersebut juga menerangkan tempat-tempat yang mengandungi sejarah atau kisahan seperti punden, petilasan, dan tempat-tempat yang diyakini ada penunggunya, misalnya tempat yang dinamakan Bengawan Pasar Sore tempat pertarungan Arya Penangsang dan Sutawijaya di masa lalu.

Tempat-tempat yang memiliki latar belakang mistis di sepanjang alirang Sungai Bengawan Solo lainnya juga dituliskan, seperti Kerek, Kedhung Maya, Kedhung Werpitu, Kedhung Waleyan, Kedhung Srungga, Gua Sentana, Blacak Ngilo, Tinggang, Pundhen Tulung, dan Buyut Kencana. Semua itulah yang direspon oleh perupa Yogyakarta untuk divisualisasikan dan dipamerkan di Bentara Budaya Yogyakarta. Demikian seperti dituliskan oleh Manajer Bentara Budaya Yogyakarta Hermanu.

Kedung Srungga, 56 x 38 cm, cat air di atas kertas, 2019, karya Yuswantoro Adi-Foto-A.Sartono

Bengawan Sore, Danyang-Danyang Bengawan Solo dijadikan tema atau judul pameran ini dengan maksud menggambarkan suasana Bengawan Solo pada waktu sore/senja/candikala yang dipercaya sebagai waktu yang gawat bagi masyarakat Jawa (Nusantara), terutama di masa lalu, dimana pada saat semacam itu dunia gaib termasuk dunia pedhanyangan dipandang mulai aktif dan bahkan mencari “sasaran”. (*)

1 KOMENTAR

  1. Sangat menarik…memberitakan tentang seni dan perkembangannya,serta menyertakan karya seniman seniman berbakat….salam seni budaya…dari Agung penghobi lukis surabaya

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here