Pertunjukan puisi di Sastra Bulan Purnama edisi 96, yang diselenggarakan Jumat, 13 September 2019 di Tembi Rumah Budaya, tidak hanya berupa pembacaan puisi, tetapi juga diolah dalam satu fragmen yang dilakukan Viki dan Intan, keduanya mahasiswa jurusan Teater Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.

Sastra Bulan Purnama yang diisi peluncuran antologi puisi berjudul ‘Investigasi Pohon-Pohon’ karya Chairul Anwar, seorang pengajar di Jurusan Teater ISI Yogya, selain dibacakan sendiri oleh penyair, sebagian besar dibacakan oleh mahasiswanya, atau alumni jurusan teater ISI, dan seorang dosen di jurusan yang sama.

Karena dari jurusan teater, yang tentu saja sudah diberi pelajaran akting, para mahasiswa ini betul-betul menghadirkan puisi Chairul Anwar sebagai satu pertunjukan. Fragmen hanyalah salah satu dari beberapa pertunjukan lainnya. Memang ada yang hanya membaca laiknya orang membaca puisi, setidaknya seperti yang dilakukan Chairul Anwar, mengawali dengan membacakan dua puisi karyanya.

Pembaca lain, Agus Leylor, seorang pengajar di Jurusan Teater ISI Yogya, memang tampil membaca puisi dan diiringi musik. Bukan jenis musik ‘live’ tapi merupakan lagu dari MP3, atau lagu dari siaran radio, sehingga seolah Leylor hendak menunjukan bahwa membaca puisi bisa disambi sambil mendengarkan lagu.

Mukhlis Muarif, foto Indra

Evi Putrantri dan Iis Wulandari, keduanya juga dari ISI Yogya jurusan teater, tampil membacakan puisi karya Chairul. Keduanya sungguh membaca laiknya pembaca puisi membacakan puisi. Keduanya tampil pada urutan yang berbeda, dan tampaknya malah saling melengkapi.

Fragmen yang lain dibawakan oleh Mukhlis Muarif, dari jurusan teater ISI Yogya. Ia mencoba menafsirkan puisi Chairul Anwar melalui kultur lokal Mukhlis berasal, yakni Riau. Dari bahasa yang digunakan, ketika dia membacakan puisi Chairul Anwar, orang kiranya sudah menduga, bahwa Mukhlis bukan berasal dari Yogya.

Konten Terkait:  Selasa , Rabu, Kamis Tidak Baik untuk Mantu

“Melalui bahasa yang saya gunakan ini, saya kira orang bisa tahu dari mana asal saya,” kata Mukhlis sebelum membacakan puisi Chairul Anwar.

Eko Winardi, alumni jurusan teater ISI Yogya, salah seorang murid Chairul Anwar dari angkatan awal jurusan teater ISI, membacakan puisi Chairul dengan gaya yang berbeda, yakni dia menghafalkan teks puisi yang akan dibacakan, sehingga seolah dia sedang melakukan deklamasi. Karena dalam deklamasi, teks puisi dihafalkan, bukan dibacakan.
“Saya senang bisa membacakan puisi karya guru saya semasa saya masih giat belajar atau kuliah,” kata Eko Winardi.

Dalam pertunjukan puisi ini, ada diselipkan satu pertunjukan yang dikenal sebagai stand up comedy. Penampilnya adalah Chairul Awar, yang agaknya, ingin menyajikan satu jenis sajian yang lain dalam pembacaan puisi. Barangkali ingin suasana segar dalam membaca puisi. Kalau terbiasa melihat stand up comedy yang sering disiarkan di televisi, yang mengundang tawa, setidaknya seperti apa yang ditampilkan Radiya Dika atau Panji. Stand up comedy ini lain, tidak segera mengundang gelak tawa, namun menghadirkan senyuman.

Agus Leylor, foto Indra

Fragmen yang lain dipentaskan oleh Viki, Intan, Sulaiman, dan Miftahul Jannah. Model fragmen yang disajikan, sebenarnya tidak berbeda dengan apa yang kita kenal sebagai dramatic reading, atau istilah lain, yakni pentas baca. Pembacaan puisi yang disajikan dalam bentuk fragmen, setidaknya memberikan pembeda, bahwa puisi tidak harus selalu dibacakan secara sendirian, tetapi bisa ditampilkan secara kolektif, dalam arti dibacakan oleh lebih dari 2 orang.

Karena Chairul Anwar, sehari-hari sebagai pengajar di jurusan teater ISI Yogya, tampaknya ingin menyajikan tampilan yang lain dari pertunjukan puisi yang membawakan puisi-puisi karyanya yang terkumpul dalam buku puisi ‘Investigasi Pohon-Pohon’. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here