Tahun 2019 ini lembaga Bentara Budaya Yogyakarta (BBY) berusia 37 tahun. Sejak berdiri di tahun 1982 BBY telah memberikan sumbangsihnya yang banyak dan panjang, terutama untuk kalangan seniman. Telah begitu banyak seniman yang merasa terbantu, terdorong, tersemangati dalam berkarya oleh kehadiran BBY, bahkan BBY ikut membidani lahirnya seniman-seniman besar (khususnya perupa).

Bentara Budaya Yogyakarta telah cukup lama mengawal seni dan budaya di Yogyakarta. Bukan hanya pameran seni rupa yang dihelat lembaga ini, namun juga diskusi, pementasan seni, dan juga kegiatan-kegiatan seni budaya yang lain. Pada sisi lain, Bentara Budaya Yogyakarta pun telah menerima banyak dari seniman untuk perkembangan diri dan eksistensinya.

Sebagian seniman yang karyanya dipamerkan dalam Pameran Tanda Mata XIII di BBY-Foto-A.Sartono

Dalam perjalanannya selama itu BBY pun mendapatkan kenang-kenangan manis dari banyak seniman (perupa) berupa karya yang jumlahnya hingga saat ini mencapai 531 karya seni dari berbagai jenis (lukisan, patung, grafis, foto, keramik, kriya seni, dan kerajinan). Semua itu adalah tanda mata dari para seniman yang berpameran di BBY sebagai imbal balik dan ucapan terima kasih karena mereka telah berpameran di lembaga ini.

Koleksi Bentara Budaya Yogyakarta ini pun akhirnya dipamerkan untuk publik juga. Pameran koleksi tanda mata tersebut dimulai pada tahun 1997 ketika BBY berulang tahun yang ke-15. Pada saat itu ada sekitar 61 karya yang dimiliki BBY. Akan tetapi oleh karena keterbatasan tempat, hanya 50 karya saja yang dapat dipamerkan.

Pemukiman Kali Code, AOC, 60 x 50 cm, 2018, karya Ramadhyan Putri Pertiwi-Foto-A.Sartono

Untuk bulan September 2019 dalam rangka ulang tahun yang ke-37 Bentara Budaya Yogyakarta kembali menggelar pameran koleksinya yang berasal dari periode 2018-2019, pada 3-11 September 2019, dengan tema Tanda Mata XIII.

Ron Layar (Deforestasi) mix media, daun awar-awar, heliconia, resinglass di atas canvas, 80 x 100 cm, 2018, karya Pambudi Sulistio-Foto-A.Sartono

Pameran kali ini diikuti oleh 25 senirupawan yang telah memberikan tanda mata kepada Bentara Budaya Yogyakarta. Ada pun nama-nama seniman tersebut adalah Adi Ardiyansyah, Agung Suryahadi, Arbi Putra, Bagus Sadewa, Djaduk Ferianto, Eiwand Suryo, Fitriani Dwi Kurniasih, Gunadi Uwuh, Harindarvati, Haryo SAS, Hery Sudiono, I Wayan Sukadana, Irwan Widjayanto, Moelyoto, Nanang Widjaya, Kiki Juliansah, Kusbudiyanto, Luddy Astaghis, Moch. Basori, Mola, N. Rinaldy, Pambudi Sulistio, Putri Pertiwi, Ramadhyan Putri Pertiwi, Ruslan Pangeran, Subandi Giyanto, dan Widi S Martodiharjo.

Konten Terkait:  Mangsa Surya III Mulai Panen Palawija
We March for All Human Right, wordcut, 61 x 81 cm, 2018, karya Fitriani Dwi Kurniasih-Foto-A.Sartono

Ada berbagai karya seni sebagai tanda mata itu, yakni patung, lukisan, foto, dan kriya. Kuda Kuning, yakni tanda mata berupa lukisan yang berasal dari seniman Subandi Giyanto dipilih untuk dijadikan sampul katalog dalam pameran ini. Ada pun alasannya karena di samping memang menarik, karya ini menyuguhkan kerumitan, ketelatenan, detail, dan “ketepatan” seni menyungging wayang kulit yang dipadukan dengan seni modern. Bentara Budaya Yogyakarta memberikan apresiasi terhadap karya ini. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here