Bangunan Hotel Oranje (dibaca: Oranye) Surabaya dibangun pada tahun 1910 semasa pemerintahan Hindia Belanda. Hingga saat ini gedung tersebut masih berdiri kokoh dan menjadi Bangunan Cagar Budaya (BCB) yang dilindungi oleh pemerintah. Gedung tersebut telah berganti nama menjadi Hotel Majapahit.

Sebelum berubah menjadi Hotel Majapahit, gedung itu pernah bernama Hotel Yamato dan Hotel Hoteru. Semasa perang revolusi kemerdekaan, hotel ini menjadi saksi bisu perjuangan arek-arek Surabaya merobek bendera Belanda bagian birunya hingga tinggal warna merah putih.

Kala masih masa kolonial, Hotel Oranje pernah diabadikan majalah berbahasa dan beraksara Jawa yakni Kajawen. Bahkan foto Hotel Oranje dijadikan sampul Majalah Kajawen edisi nomor 31 tanggal 16 April 1940.

Halaman sampul majalah Kajawen tahun 1940 yang memuat hotel Oranje-repro-suwandi

Di bawah foto terdapat tembang Macapat Pocung bertuliskan aksara Jawa, bunyinya: //Bapak Pucung adining sawangan luhung, gedhong-gedhong endah, marga gung oto tan sepi, kang mangkonoa adining tanah ngamanca// Nanging klentu jatinira kang kadulu, gedhong ing Tunjungan, jroning kitha Surabanggi, lah sawangen kacetha miwah tetela//. Terjemahannya kurang lebih: //Bapak Pocung (nama tembang Macapat) tebaklah indahnya pemandangan, tampak gedung-gedung indah, jalan kelihatan ramai oleh kendaraan, yang demikian itu indahnya tanah sebrang (situasi luar negeri)// Tetapi itu keliru jika dicermati, sebenarnya itu gedung-gedung di Jalan Tunjungan, di Kota Surabaya, nah lihatlah dengan cermat dan jelas//.

Hotel Majapahit sekarang yang dulu bernama hotel Oranje-foto-istimewa

Saat ini, Jalan Tunjungan dan Hotel Majapahit menjadi salah satu ikon Kota Surabaya. Nuansa kuno hotel itu sampai sekarang masih sangat kelihatan.(*)

Konten Terkait:  Museum Tembi Menyemarakkan Karnaval Museum 2019

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here