Puisi Aming Aminoedhin

2
85

Titik Nol Surabaya

Berhenti pada pal titik nol Surabaya
terasa hidup berlarian
bagai kendaraan bersliweran
tanpa henti tanpa kesudahan
ribuan bahkan jutaan

Pada pal titik nol Surabaya
kulihat Tugu Pahlawan
gagah tinggi menjulang
mengajakku tak bimbang
menapak kehidupan
kian jumpalitan

Pada pal titik nol Surabaya
kulihat gedung tua memanggul jam
jarumnya terus berputar, seperti
mentari setiap hari bersinar
terasa langkah hidup menuju tua
seperti gerahnya siang kota
menuju senja

Pada pal titik nol Surabaya
kuingin mengeja usia negeri ini
seberapa panjang jika negara
terus dikorupsi, jika
rakyat tidak dimengerti pejabat
jika rakyat hanya diapusi
punya mandat hanya dipolitisasi?

Surabaya, 13/5/2019

 

Tanggal Awal Rembulan

Langit kota benderang awan terasa hilang
ada lengkung sabit rembulan di langit
sendiri tanpa bingung tanpa jerit

Hari-hari berdiri sepi di sini, ada malam
terasa kian sunyi. Suara detak jam
seperti melengkapkan sunyi

Pada tanggal awal rembulan, pada
musim kemarau nan parau. Hati tak perlu galau
tak perlu bingung. Sebab segala lengkung
pasti ada juntrung. Segala risau
pasti ada ujung. Segala musim
pasti bisa bawa dingin. Segala resah
bisa berujung pasrah. Segala lelah
pasti punya istirah. Segala badai
akan juga landai. Segala salah
pasti akan patah. Percayalah!

Tanggal awal rembulan kali ini
ada lengkung sabit rembulan di langit
kianlah kuat hati atas bebatu uji
harus dilalui tanpa ada jerit

Malam telah wingit, berkaca pada suara
alam kian berdenyit. Terasa tak harus
mengernyit. Apa lagi jerit!

Hidup harus bergerak. Tanpa gerak
terasa tak ada detak. Detak kehidupan
harus menemu kebaruan

Tanggal awal rembulan kali ini
kupijakkan kakiku hentak menghentak
bergerak. Agar hidup
ada detak menemu detak!

Ngawi, 7/8/2019

Dinding-Dinding Rumah Kayu Itu

Dinding-dinding rumah kayu itu
terbaca waktu, betapa lama rumah
bertahan menjaga Ibuku
Beberapa catnya telah mengelupas
dimakan waktu. Dan usianya nan panjang
bersama kasabaran sembahyang
terus saja berlalu dari waktu ke waktu
teguh dalam keyakinan dan iman
butuh kesadaran baca Al-Quran
selepas Maghrib dan Subuh
secara kontinyu

Barangkali bacaan Al-Quran itu
menjaga Ibu dalam sehat
dalam kesadaran dan kesabaran
sedang dalam jalani kehidupan ini
taklupa berbagi sesama, tanpa
hitungan angka

Menunggu Ibuku, aku berkaca
ada sesuatu yang tak terbaca
olehku selama ini, rasa ikhlas itu
jadi kunci semua bagas
semua trengginas semua waras

Menunggu Ibuku, aku dapat
sesuatu filsafat: memberi adalah kunci
sedekah adalah berkah. Hidup pasti
tak akan gelisah. Percayalah!
Percayalah!

Konten Terkait:  Puisi Bontot Sukandar

Ngawi, 8/8/2019

 

Terkadang Memang Terasa Susah

terkadang memang terasa susah mengaku kalah
dalam pertarungan berbekal perhitungan
yang telah digodok demi kemenangan
meski pakai jurus segala cara, termasuk curang
hanya kata menang adalah tujuan
tapi kadang kita lupa, kata menang
memang tak lepas dari isyarat tangan Tuhan
berjuta jurus dirumuskan
patah di tengah jalan

terkadang memang terasa susah mengaku kalah
menang memang harus diperjuangkan, tapi
hati nurani harus diajak bicara dalam meniti
arah jalan kemenangan

hidup memang harus terus berjalan
hidup memang harus diperjuangkan

kalah, hanya bagian ragam kehidupan
perjuangan ke arah menang, memang
tak harus berbuat curang, sebab
kebenaran Ilahi harus jadi kendali

terkadang memang terasa susah mengaku kalah
tapi waktu telah menjawab kebenaran

Desaku Canggu, 19/4/2017

 

Ada Yang Terasa Lepas

malam terasa panjang sekali, dan pagi
terasa lama berdiri hari ini
subuh itu berdiri, fajar pagi tiba-tiba luruh
seperti membawa ruh pergi

barangkali ada yang terasa lepas pagi ini
beban berat yang hingga kautangisi
diterpa badai gonjang-ganjing setiap hari
bahkan omongan tanpa juntrungan
masih saja kaupercayai

pagi, selepas subuh itu
ada yang terasa lepas
sakit berkepanjangan harus berhenti
beban dan gunjingan pun pergi
hari-hari akan seperti sediakala
tanpa ada kata putus asa

ada yang terasa lepas
mesti harus juga kita tangisi

Desaku Canggu, 14/12/2017

 

Aming Aminoedhin, nama aslinya: Mohammad Amir Tohar, lahir di Ngawi, 22 Desember 1957. Ia alumnus Fakultas Sastra, Universitas Sebelas Maret Surakarta, Jurusan Sastra Indonesia. Aktif kegiatan teater, dan pernah menyandang predikat “aktor terbaik” festival drama se-Jatim tahun 1983 dari Teater Persada Ngawi, pimpinan Mh. Iskan. Penggagas kegiatan malam sastra Surabaya atau “Malsasa” di Dewan Kesenian Surabaya yang berada kompleks Balai Pemuda, Surabaya. Punya predikat ‘Presiden Penyair Jatim’ dijuluki oleh doktor kentrung Prof. Suripan Sadi Hutomo, almarhum. Tampil di Tembi Rumah Budaya Yogya pernah beberapa kali, bersama almarhum Lik Gir (R. Giryadi), PPSJS, FSBS, Komunitas Penyair Indonesia 1987, dlsb. Sekarang sedang giat melukis, dan akan pameran bertajuk “Sastrawan Jatim Pamer Lukisan” pada akhir tahun 2019.Jabatan sekarang masih Ketua FSBS (Forum Sastra Bersama Surabaya), dan pernah bekerja di Balai Bahasa Surabaya, yang berlokasi di Sidoarjo. Alamat: Puri Mojobaru az-23 Canggu, Kecamatan Jetis – Mojokerto 61352 – email: [email protected] atau [email protected]

2 KOMENTAR

  1. Terima kasih, Pak Ons Untara
    Ternyata saya masih bisa menulis puisi, betapapun sederhananya. Sukses buat Tembi Rumah Budaya Yogya. Titip salam ajakan berkreativitas buat Dedet Setiadi, Bagus Putu Parto, Widodo Basuki, Ida Nurul Chasanah, DenyTri, Wieranta, Suharmono K, Tengsoe Tjahjono, Djoko Saryono, Junaidi HS dll. untuk terus menulis puisi.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here