Sebanyak 100 orang peserta yang berasal dari berbagai wilayah di Indonesia mengikuti ajang Festival Sastra Yogyakarta (Joglitfest) 2019. Mereka terdiri dari 50 orang peserta dari Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan 50 orang lainnya berasal dari luar DIY. Selain itu, ada peserta dari luar negeri berjumlah 9 orang. Festival ini juga diikuti oleh pelajar dan mahasiswa yang terlibat dalam bentuk mengikuti workshop, bincang sastra, dan lain sebagainya.

Joglitfest berlangsung sejak tanggal 2 hingga 30 September 2019, dan terdiri dari dua kategori kegiatan, yakni kegiatan pertunjukan dan kegiatan nonpertunjukan. Puncak kegiatan acara ini akan digelar pada tanggal 27 sampai dengan 30 September 2019. Sedangkan grand opening akan dilaksanakan tanggal 27 September 2019, dan bertempat di Monumen Serangan Oemoem 1 Maret Yogyakarta.

Lokasi utama kegiatan dipusatkan di Museum Benteng Vredeburg. Beberapa lokasi yang dipilih sebagai tempat berlangsungnya kegiatan (lokasi pendukung), antara lain di hotel, Desa Budaya, Kantung Budaya Komunitas Sastra, PKKH UGM, UIN Sunan Kalijaga, UNY, sekolah-sekolah, dan Kantung Budaya Kabupaten dan Kota.

Secara simbolik Festival Sastra Yogyakarta (Joglitfest) 2019 resmi dibuka oleh Kepala Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta, Aris Eko Nugroho, S.P., M.Si., pada Senin, 2 September 2019 di Ruang Bima, Dinas Kebudayaan DIY, Jalan Cendana no. 11, Yogyakarta.

Dalam sesi Laporan Kerja Joglitfest, Suharmono Arimba, M.A., selaku ketua panitia menjelaskan bahwa festival ini merupakan perhelatan yang merangkum kepentingan stakeholder sastra di Yogyakarta, baik itu Dinas Kebudayaan DIY, Dirjen Kebudayaan Kemendikbud RI, sastrawan atau penggerak sastra, akademisi, perguruan tinggi, komunitas, penerbit, pelajar, lembaga pemerintah dalam bidang literasi, maupun lembaga swasta, dalam rangka mendekatkan dunia sastra dengan publik, sekaligus menjalin keterhubungan antarmasyarakat sastra di dalam dan luar Yogyakarta.

Aris Eko Nugroho selaku Kepala Dinas Kebudayaan Yogyakarta sedang memaparkan apa itu Festival Sastra Yogyakarta foto – dok Joglitfest

“Setelah sekian lama, akhirnya Yogyakarta menyelenggarakan acara yang benar-benar merangkul peserta dari berbagai daerah, dengan persiapan dan pelaksanaannya melibatkan seluruh elemen, dan bukan bersifat parsial,” ujarnya.

Aris Eko Nugroho juga mengungkapkan tujuan dari perhelatan ini untuk mendekatkan dunia sastra dengan publik, sekaligus menjalin keterhubungan antarmasyarakat sastra di dalam dan luar Yogyakarta. Selain itu, kegiatan ini juga dimaksudkan untuk mengembangkan nilai-nilai luhur bangsa dengan mengangkat khazanah sastra daerah sebagai tiang sastra nasional.

“Hal ini sesuai asas, tujuan, dan objek Pemajuan Kebudayaan yang tercantum UU No. 5 Tahun 2017, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI mencetuskan kegiatan ‘Indonesiana’. Indonesiana adalah bentuk gotong royong lintas kementerian dan lembaga, lintas tingkat pemerintahan, dan lintas sektor untuk menyelenggarakan kegiatan budaya berstandar nasional,” ungkapnya. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here