Dari sekian objek arkeologis di kompleks Candi Dieng terdapat objek yang dinamakan Gangsiran Aswatama, yang berupa terowongan atau saluran air bawah tanah. Para ahli arkeologi menduga bahwa saluran air itu dibuat oleh masyarakat Hindu pada waktu itu untuk mengeringkan air di kompleks Candi Arjuna yang tergenang oleh luapan air dari Telaga Bale Kambang yang terletak di sisi selatan kompleks Candi Arjuna. Lokasi saluran air ini berada di Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara.

Lubang Gangsiran Aswatama yang telah diberi perkuatan di bagian atasnya-Foto- Willy Oktavian Pati

Gangsiran berasal dari kata dasar dalam bahasa Jawa, “gangsir”. Gangsir dapat dimaknai sebagai nama binatang sejenis jangkrik yang biasa membuat lubang atau sarang di dalam tanah. Gangsiran dapat dimaknai sebagai hasil dari aktivitas “menggangsir” (melakukan pengerukan untuk membuat lubang/gorong-gorong/lorong) di bawah tanah. Sedangkan Aswatama adalah salah satu tokoh pewayangan dari pihak Kurawa. Ia adalah anak dari Pandita Drona dengan ibu Batari Wilutama.

Tinggalan purbakala di Dieng hampir semuanya dinamai dengan nama-nama yang berkait dengan cerita Mahabarata. Demikian pula halnya dengan Gangsiran Aswatama. Gangsiran atau saluran air ini dinamakan demikian dengan mengacu pada salah satu episode cerita Mahabarata yang berisi kisah tentang Aswatama yang melakukan tindakan menggangsir di dalam tanah untuk menuju ke kubu Pandawa di akhir Perang Baratayuda untuk melampiaskan dendamnya. Aswatama ingin membalas dendamnya pada orang atau tokoh yang selama hidup telah membuat Kurawa dan dirinya pada posisi yang kalah dan terpojok.

Salah satu lubang Gangsiran Aswatama Dieng-Foto- Willy Oktavian Pati

Ketika menggangsir Aswatama mendapat bantuan ibunya dengan memberinya sinar penerangan di dalam lorong bawah tanah itu. Aktivitasnya membuahkan hasil dengan gugurnya beberapa ksatria Pandawa oleh tangannya. Raden Drestajumena yang telah membunuh Pandita Drona tewas di tangannya. Demikian pula Srikandi, Banowati, Pancawala, Dewi Wara Sembadra, Niken Larasati, dan Dewi Sulastri.

Kehendak Aswatama untuk membunuh Parikesit yang masih bayi gagal karena instingnya, Parikesit menangis dan tanpa sengaja menendang keris Pasopati yang diletakkan di bawah kakinya. Keris Pasopati melesat menembus dada Aswatama. Aswatama pun tewas. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here