Merdeka memiliki makna bebas, berdiri sendiri, lepas dari tuntutan, tidak tergantung pada pihak tertentu. Namun penyanyi asal Yogyakarta, Nisfulail Dwi Puspita, memaknai merdeka secara individu, lewat lagu-lagu yang dibawakan dalam pertunjukannya bertajuk “Merdeka, Hidup Baru” di Auditorium Galeri Indonesia Kaya beberapa waktu lalu.

Ninis, begitu sapaannya membawakan beberapa karya Guruh Soekarno Putra yang sudah diaransemen ulang juga karya-karya miliknya sendiri. Finalis ajang pencarian bakat Indonesian Idol ini menggabungkan elemen musik modern dan sentuhan tradisional yang dikemas secara minimalis dengan piano-synthesizer oleh Rizqi Khaitsul, gitar akustik oleh Ragipta Utama, cello oleh Indra Waskito, dan soprano saxophone oleh Noerman Rizky.

‘Jenuh’, ‘Aji Mumpung’, dan ‘Renjana’ karya Guruh Soekarno Putra dibawakan dengan apik oleh Ninis, aransemen pun terdengar lebih baru dan modern. Di tengah pertunjukan Ninis mengungkapkan makna kemerdekaan bagi dirinya, berawal dari ruang yang lebih kecil dan personal. “Kita harus memulai merdeka dan memperbaharui hidup dari segala bentuk belenggu yang ‘menjajah’ kreativitas hingga jati diri kita, ayo, dimulai dari diri kita sendiri,” ujar Ninis.

Nisfulail Bersama Tim Musisi foto – Galeri Indonesia Kaya

Karya-karya Ninis berjudul ‘Suryamu’, ‘Tersesat, Menetap’, ‘Langkah’, dan lainnya tak kalah apik dengan karya-karya Guruh. Salah satu karyanya ‘Patah Dalam Genggaman’ adalah karya terbaru yang baru saja dirilis, merupakan single pertama yang ditulis sendiri olehnya. “Sebuah cerita sekaligus dari pengalaman hidup bahwa seringkali upaya dalam hidup diabaikan atau bahkan tak tersampaikan. Namun satu-satunya hal terbaik yang bisa kita pilih pada akhirnya adalah tetap menjadi diri sendiri dan melanjutkan langkah lagi dengan berani,” ungkap perempuan kelahiran Malang ini.

Lagu terakhir, ‘Zamrud Khatulistiwa’ milik Guruh Soekarno Putra yang dibawakan Ninis, mengundang penonton ikut bergoyang dan bernyanyi bersama.

Konten Terkait:  Titik Balik Karya Putri Pertiwi, Menggugah Kesadaran Publik
Nisfulail Dalam Pertunjukan Merdeka, Hidup Baru foto – Galeri Indonesia Kaya

Dari kompetisi ke kompetisi
Nisfulail Dwi Puspita; akrab dipanggil Ninis, lahir di Malang, 9 Februari 1992, dan kini menetap di Yogyakarta, menekuni profesi sebagai penyanyi, penulis lagu juga pelatih vokal.

Memulai debut bernyanyi sejak usia 10 tahun melalui kompetisi bernyanyi di Malang, mulai tingkat kota sampai tingkat Asia. Berlatih vokal di bawah bimbingan Eduardus Suseno Harjito selama 7 tahun. Ia melanjutkan pendidikan di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, mengambil jurusan Musik pada tahun 2011-2018. Kemudian Nisfulail dibimbing oleh Siswanto selaku dosen mayor vokal pop-jazz.

Nisfulail Usai Pertunjukan foto – Galeri Indonesia Kaya

Dalam pengalamannya bernyanyi, antara lain ia pernah mengikuti vocal masterclass oleh Indra Aziz, dan berkolaborasi dengan musisi jazz Brazil, Lica Cecato. Turut serta dalam workshop jazz di Lassale College of Art Singapore. Nisfulail pernah menjadi Finalis 20 Besar Indonesian Idol 2012. Ia juga memenangkan Juara 1 Bintang Radio Indonesia 2012; Juara 1 Bintang Radio Asean 2013. Juara 1 I-Sing Yogyakarta dan Juara 2 I-Sing Nasional 2018.

Nisfulail juga aktif bergabung di Forum Musik Tembi sejak tahun 2012 dan berhasil menggelar resital vokal tunggal bertajuk “Smaradhana” Tribute To Guruh Soekarno Putra pada tahun 2015 di Tembi Rumah Budaya. Selain terus menabung karya Nisfulail juga sedang giat membangun sekolah vokal di Yogyakarta “Pitch Vocalwork” sejak 2018. Saat ini ia juga aktif menjadi vocal director beberapa penyanyi Yogyakarta. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here