‘Sinergi dalam Religi’ adalah tema yang dipilih oleh dua orang perupa yang sekaligus guru, yakni Muhajirin dan Suranto dalam pameran duet mereka di Tembi Rumah Budaya, 27 Agustus-15 September 2019. Sinergi bagi kedua perupa dan guru ini merupakan bentuk aktualisasi diri mereka sebagai guru yang selalu menjadi panutan bagi peserta didiknya dan sekaligus dalam perannya sebagai makhluk ciptaan yang cukup umur.

Tangise Ibu, 60 x 40 x 75 cm, akrilik di atas fiberglass, karya Muhajirin-Foto-A.Sartono

Di samping itu, sinergi merupakan usaha mereka untuk mengingatkan eksistensi mereka kepada Sang Pencipta melalui karya-karya yang mereka ciptakan. Pameran ini juga menjadi bagian atau cara mereka untuk menunjukkan rasa syukur mereka atas karunia dan kenikmatan dalam berolah seni sekaligus peran mereka sebagai guru. Pada sisi lain mereka juga saling bersinergi antar persona. Setidaknya bertukar gagasan dan saran dalam mempersiapkan duet pameran mereka.

Sinergi menautkan dua atau lebih hal yang kemungkinan besar berbeda. Baik itu menyangkut ide, gaya, visi-misi, dan lain-lain yang pada puncaknya mereka mau berbagi. Bersinergi merujuk pada pengertian tidak mementingkan diri sendiri atau ego, tidak menang-menangnya sendiri, serta tidak ada pihak yang dirugikan atau dikebelakangkan.

Titian Ilmu, cat minyak di atas harboard, 40 x 40 cm, 2004, karya Suranto-Foto-A.Sartono

Bersinergi adalah memadukan semua elemen, unsur, atau apa pun namanya sehingga menjadi satu kesatuan tanpa menghilangkan elemen, unsur atau apa pun bagian yang membentuk atau mewujudkannya. Bersinergi selalu mengandung pengertian dinamis dan prosesual yang pada gilirannya menghasilkan harmoni.

‘Sinergi dalam Religi’ yang menjadi tema dalam pameran Muhajirin dan Suranto mengajak apresian untuk masuk ke wilayah gagasan mereka berkait dengan dunia religiusitas mereka yang mereka tuangkan dalam karya. Alhasil orang dapat menikmati sekian jumlah karya mereka dalam berbagai judul yang mewakili gagasan dan kerja kreatif mereka.

Dr. Basuki Sumartono, S.Sn. yang menjadi kurator pameran ini menyatakan bahwa karya seni tiga dimensi Muhajirin secara konseptual tidak beranjak jauh dengan karya-karya dua dimensinya, masih dalam lingkaran misteri dan menganut faham bahwa pencarian itu tidak perlu berhenti, pencarian yang diolah terus menerus adalah pencarian terhadap jiwanya, profesinya maupun religinya.

Sang Pencerah, cat minyak di atas kanvas, 100 x 100 cm, 2019, karya Suranto-Foto-A.Sartono

Karya-karya yang ditampilkan Suranto, lanjut Basuki, masih setia pada teknik realis. Tampak dengan jelas dalam karya Suranto lebih banyak menampilkan simbol-simbol yang akrab dengan dirinya walaupun simbol-simbol tersebut sudah biasa dijadikan objek ekspresi oleh kebanyakan orang. Hal demikian tidak salah, karena tantangan yang kuat dalam proses kreatif adalah mencari dan memilih simbol yang tepat dengan gagasannya. Tentunya simbol yang dijadikan sebagai subjek matter dapat diolah menjadi lebih unik, memiliki daya pukau serta mampu berkomunikasi dengan tepat. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here