Guna semakin meningkatkan pengetahuan dan pendalaman akan sejarah, Dinas Kebudayaan Kabupaten Bantul mengadakan Sosialisasi Sejarah di empat tempat, yakni di Balai Desa Segoroyoso (Pleret), Balai Desa Panggungharjo (Sewon), Plataran Gua Selarong (Pajangan), dan Balai Desa Wonokromo (Pleret). Empat tempat tersebut menjadi pilihan untuk penyelenggaraaan karena di keempat tempat tersebut terdapat peninggalan dan kisah sejarah yang penting.

Di Segoroyoso berkait dengan bekas Kerajaan Mataram Pleret dan Gunung Kelir, di Panggungharjo terdapat Panggung Krapyak yang merupakan bangunan yang dibangun oleh Sultan Hamengku Buwana I dan menjadi salah satu titik dari Sumbu Filosofi. Sedangkan di Plataran Gua Selarong karena Selarong merupakan salah satu markas Pangeran Diponegoro dan pasukannya, dan Wonokromo karena hal itu berkait dengan sejarah Masjid Wonokromo, Kayi Abdullah Faqih, Upacara Rebo Pungkasan, dan tokoh Kyai Jejer.

Indriyanto, S.IP. selaku Sekretaris Disbud Bantul dan mewakili Kepala Dinas dalam sambutannya menyampaikan bahwa generasi muda perlu selalu di-charge dengan pengetahuan sejarah agar dapat mengerti sejarah dengan benar. Merekalah yang kelak akan menyampaikan sejarah pada generasi-generasi selanjutnya. Indriyanto juga menyampaikan agar informasi mengenai sejarah yang disampaikan di empat tempat tersebut hendaknya disimak dan diserap dengan baik.

Dalam kesempatan sosialisasi sejarah di Plataran Gua Selarong tersebut, Kabid Sejarah, Bahasa, dan Sastra Disbud Bantul, Drs. Dahroni, M.M. juga menyampaikan bahwa sosialisasi sejarah dimaksudkan untuk memberikan informasi (meluruskan) sejarah di Kabupaten Bantul, terutama pada lokasi tempat diselenggarakannya acara. Harapannya para generasi muda juga semakin tahu akan sumber-sumber sejarah secara lebih baik.

Para narasumber Sosialisasi Sejarah di Balai Desa Wonokromo-Foto-A.Sartono

Lebih lanjut Dahroni menyampaikan bahwa sosialisasi sejarah di Bantul memang baru dilakukan pada tahun 2019 ini. Apa yang telah dilakukan ini kiranya juga mendorong kajian-kajian lebih lanjut mengenai sejarah di Bantul sekaligus melestarikannya. Dengan kajian-kajian pula yang muncul bukan lagi sejarah versi orang per orang. Kegiatan itu sendiri dilaksanakan mulai tanggal 20, 26, 27, dan 28 Agustus 2019.

Dalam kaitannya dengan sosialisasi sejarah tersebut, utamanya pada dua hari terakhir penyelenggaraan, Disbud Bantul mengundang beberapa narasumber yang kompeten si bidangnya, di antaranya adalah Baha’uddin, S.S., M.Hum. (Sejarah UGM) dengan judul materi ‘Jejak Laku Lelono Pangeran Diponegoro di Wilayah Bantul’, Dr. Diah Kumalasari, M.Pd. (Prodi Sejarah FIS UNY) dengan judul materi ‘Pendidikan Sejarah tentang Pangeran Diponegoro’, Yustina Hastrini Nurwanti (BPNB) dengan judul materi ‘Filosofi Nilai-nilai Perjuangan Pangeran Diponegoro’, Masduki Rahmat, S.IP. (Lurah Desa Guwosari) dengan judul materi ‘Pengaruh Nilai-nilai Perjuangan Pangeran Diponegoro terhadap Masyarakat’, Drs. Musadad, M.Hum (Departemen Arkeologi UGM) dengan judul materi ‘Sejarah Rabu Pungkasan’ dan ‘Jejak Peninggalan Masjid Wonokromo’, Dr. Miftahuddin, M.Hum. (Prodi Ilmu Sejarah FIS UNY) dengan judul materi ‘Islam dan Kearifan Lokal: Kasus Tradisi Rebo Wekasan’, Dra. Siti Munawaroh (BPNB) dengan judul materi ‘Filosofi Upacara Adat Rebo Pungkasan’, dan Kyai Jawis Masruri Nawawi (Pimpinan Pondok Pesantrfen Amumarta-Penyusun Buku Kyai Jejer) dengan judul materi ‘Sejarah Kyai Jejer’. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here