Puisi Sus S. Hardjono

0
50

Gajah Wong

: sungai
Membelah nadi mengalir jauh ke hulu sejarah
Tentang titah raja dan sultan
Berserah mesti ikhlas mengucapkan janji sumpah
Sebagai hamba yang amanah

Amarah hanya akan membawa celaka
Pada janji dan kesetiaan
Ucapan adalah titah paduka
Kata kata
Ucapan harimaumu

Gajah yang besar dan pawangnya
Amsal pengingat untuk berhati hati
Atas keselarasan ucapan dan tindakan

Yogyakarta , 2019

 

Sungai Pepe

Lampion lampion bercahaya di atas sungai
Itu turun dari puncak malam cahaya merah
Dan mantel yang melekat itu tak lagi
Menahan musim dingin kotamu

Suara barongsai berpadu di kali pepe
Dalam cahaya merah lampu

Ah udara pandai tersipu
Saat tak satupun yang bisa mengganggu
Saat pingin sendiri

Air membelah jantung tuaku
Saat Kau itu mungkin sangat gagah
Dan air yang dibawah dalam riak riak batuan
Itu mungkin lebih ramah
Tapi aku air yang lebih suka berdiam di dasar paling bawah
Tak satupun bisa menemukan hilangmu
Mengalir malam dialiran sungai pepe
Mengalir semua riwayat tentang bengawan
Saat gendang dan barongsai berpadu
Dimana engkau itu ?

Solo , 2019

 

Kretek

: Kudus

Gusjigang
Bagus ngaji dagang
Filosofi kudus untuk tetap semarak

Menara mu mengisyaratkan waktu
Tentang piring dari tiongkok
Tentang puisi
Yang tertulis dan dibacakan
Dalam tabuhan terbang papat

Menara itu merangkum sejarah dari masa lalu
Saat kita menyatu dalam nasi jangkrik
Sang kyai Kudus
Meninggalkan wasilah dan warisan
: gusjigang

Akhlag bagus, ngaji dan dagang

Bertakjim
Berguru pada kyai
Menaiki tangga Menara
Bedug dari kayu
Yang tersimpan dalam riwayat Kudus

Kudus, 2019

 

Kintamani

Puisi berkata kata
Tentang riwayat dan legenda
Abadai dalam sukma

Kau yang membawa canang dan bunga
Atur puja bakti sang hyang widi wasa
Gadis gadis berambut panjang
Di sunting bunga kamboja di telinga
Bekebaya putih dan doa
Doa

Menemukan cinta berkah dewata
Kecantikan Kintamani yang berkilau

Permata yang bersinar
Di kecipak air
Gunung dan danau bersatu
Menyatu dalam kaki Batur

Semua tentang Kintamani
Cinta kita bersatu
Rasa yang selalu menyeduh rindu
Kintamani dalam dingin beku

Kehangatan pepohonan
Bukit meneteskan airmata bahagia
Engkau yang abad di Kintamani

Bali , 2019

Merapi

Piijar cahaya merah
di pucuk merapi
Pagi membelah lereng
Puisi jadi saksi
Adamu di depan jalanku
Awan awan berarak
Memeluk lembut
Sementara di timur
Malu matahari membuka kalbu
Betapa lembut sentuhan
Hangatnya tatapan mata
Mengalir jernih
Gemericik sungai di nadiku
Membuka kembali rindu
Yang hangati dingin musim beku
Engkau cairkan
Dekap hangat
Sehangat pagj ini
Hingga yang tersisa
Hanya kerinduan
Pada cahaya pijar merah bata
Merapiku
Menunggu tegar menjaga
Pulangku

Semarang , 2019

Sus S. Hardjono, lahir 5 November l969 di Sragen, Jawa Tengah. Pada 1990-an aktif menulis puisi, cerpen dan geguritan, dan novel sejak masih menjadi mahasiswa, serta mempublikasikannya di berbagai media massa yang terbit di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Puisinya dimuat di Bernas, KR, Pelopor Jogja, Merapi, Solo Pos, Joglo Semar, Suara Merdeka, Wawasan, Swadesi, Radar Surabaya, Minggu Pagi, Cempaka Minggu Ini, dll. Sejumlah puisinya sudah diterbitkan dalam bentuk buku, baik buku puisi tunggal karyanya, maupun antologi puisi bersama sejumlah penyair lainnya, dari sejumlah antologi puisi bersama, salah satunya berjudul ‘Negeri Pesisiran’ (2019).

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here