Dua perempuan ini tinggal di kota berbeda, dan masing-masing terus menulis puisi. Yuliani Kumudaswari tinggal di Siodiarjo, dan Ristia Herdiana tinggal di Jakarta. Keduanya menerbitkan buku puisi secara tunggal. Yuliani, buku puisinya berjudul ‘Wajah Senja’ merupakan buku keempat karyanya, dan Ristia, judul buku puisinya ‘Sihir Hujan’ dan merupakan buku puisi ketiga.

Kedua buku puisi tersebut sudah diluncurkan di Sastra Bulan Purnama, Juli 2019. Kedua perempuan penyair ini, seolah seperti saling berjanji, di bulan Juli, secara berturut-turut menerbitkan buku puisi tunggal, dan diluncurkan secara bersama. Keduannya memilih Sastra Bulan Purnama untuk meluncurkan buku puisi karyanya.

Puisi dan Koneksitas Yuliani
Yuliani Kumudaswari sudah menerbitkan tiga antologi puisi karyanya. Selain itu, sejumlah puisinya tergabung dalam antologi puisi bersama sejumlah penyair dari berbagai kota. Ini kali, 100 puisi karyanya diterbitkan lagi. Setidaknya, setiap tahun dari mulai tahun 2016, 100 puisi karyanya terbit menjadi buku. Dari 4 buku puisi karya Yuliani, artinya sudah ada 400 puisi yang sudah diterbitkan menjadi buku. Rasanya, dia masih terus berkarya di luar puisi-puisi yang sudah diterbitkan.

Sebagai seorang ibu yang hidup di era digital, Yuliani tidak meninggalkan media sosial sebagai ruang untuk koneksi dengan orang lain. Bahkan melalui media sosial koneksitasnya semakin luas dan menemukan teman-teman baru, di luar teman-teman lama seperti teman-teman sekolah dari tingkat sekolah dasar sampai perguruan tinggi, yang umumnya mereka memiliki group Whatshapp, sehingga seolah masa lalu tidak terpisahkan, atau dalam istilah Goenawan Mohamad, masa lalu tidak (pernah) mati.

Melalui Facebook, Yuliani bisa berinteraksi dengan teman-teman ‘barunya’; yang dia kenal melalui jejaring sosial, dan mungkin, terkadang saling berjumpa darat untuk saling meneguhkan dalam persahabatan.

Wajah Senja

Rupanya, koneksitas Yuliani kepada sahabat-sahabatnya tidak ‘hanya’ melalui media sosial, tetapi juga melalui karya sastra, dalam hal ini puisi. Tentu, puisinya tidak lepas dari media sosial, dalam hal ini Facebook. Melalui puisi karyanya, Yuliani dipertemukan dengan sahabat-sahabat lain, dan mungkin mengembangkan persahabatannya. Bahwa pergaulan yang dia miliki tidak hanya dari kelompok sosial tertentu, tetapi juga dari kalangan pecinta seni. Maka, melalui puisi Yuliani bisa bertemu antarpenggemar sastra dan para penyair lainnya, yang datang dari kota yang berbeda-beda.

Dalam keseharian, pergaulan melalui puisi tersebut bisa dirawat dan diteguhkan melalui media sosial. Masing-masing saling memberi komentar atas apa yang sedang dilakukan dan di-upload melalui Facebook. Ambil contoh misalnya, ketika Yuliani sedang meng-upload foto dirinya sedang berada di satu tempat, teman-temannya, tentu dari kelompok sosial yang berbeda-beda saling merespon.

Secara personal, persahabatan bisa saling dirawat melalui kontak pribadi, misalnya melalui WA, atau bertemu langsung saling berbincang dan bergurau, tentu tidak bisa dilepaskan dari kuliner. Dan puisi, adalah medan lain pergaulan Yuliani, yang rasanya dia nikmati. Melalui kreativitasnya menulis puisi, yang semakin terus meningkat kesungguhannya. Lagi-lagi melalui puisi, Yuliani bertemu dengan sahabat-sahabatnya yang juga memiliki kreativitas yang sama, dan secara bersama pula membacakan puisi di hadapan penggemar sastra, yang datang dari berbagai tempat, dan dari segi usia berbeda-beda. Ada anak-anak muda, orang-orang seusia dia dan orang yang usianya di atas dia. Semuanya saling bersahabat tanpa melihat latar belakang sosial yang dimiliki, termasuk Yuliani bersahabat dengan perupa.

Sebut saja, melalui puisi persahabatan akrab terbentuk, dan yang menyenangkan membaca puisi Yuliani kali ini sudah terlihat bahwa dia mulai selektif dalam pemilihan kata. Puisinya memang menyajikan beragam tema, yang berselancar dari pengalaman hidupnya yang ditempuh di beberapa kota. Di tempat di mana dia berkunjung, atau bahkan tinggal, mengingat dia pernah berpindah tempat tinggal di kota-kota yang berbeda, dia bisa menangkap momentum puitik, dan dituliskannya dalam bentuk puisi.

Ristia Herdiana dalam “Sihir Hujan”
Di panggung sastra Ristia Hediana tidak gegap gempita, dan ‘jarang hadir’ di perhelatan sastra yang diselenggarakan di banyak tempat, tetapi bukan berarti dia menghidari dari kegiatan sastra. Saya sering melihat dia berada kegiatan sastra di TIM Jakarta misalnya, ketika ada acara sastra. Rupanya, kehadiran tidak terlalu urgen bagi Ristia, yang lebih urgen adalah mencipta puisi. Ini yang saya kira lebih penting ketimbang banyak hadir, tetapi sepi dari karya. Ini kali ketiga dia mempunyai buku puisi tunggal, selain tentu saja, buku kumpulan puisi bersama di antara sejumlah penyair lainnya.

Ristia Herdiana

Buku puisinya diberi judul ‘Sihir Hujan’, memang terasa puitis judulnya. Judul buku ini diambil dari salah satu puisi dari sejumlah puisi yang ada di dalam buku. Melalui puisi, Ristia menyajikan kisah persoalan kehidupan, bukan saja kehidupan di Jakarta di mana dia tinggal, tetapi karena dia sering bepergian, atau sebut saja traveling, pengalamannya itu mengkristal menjadi puisi. Pendek kata, Ristia menulis puisi tidak dari ruang kosong, tetapi dari pengalaman hidup, yang dia ramu dengan imajinasi, dan tentu saja pilihan diksi dan pilihan kata yang cukup cermat, sehingga puisinya terasa enak dibaca, selain tidak rumit dipahami, puisinya memiliki makna.

Penyair memang tidak bisa berhenti menulis puisi, meskipun cukup produktif menulis puisi, tetapi tidak harus selalu disebut sebagai penyair. Sebut saja, predikat penyair hanyalah akibat, bukan tujuan. Menulis puisi tiada henti jauh lebih penting ketimbang predikat penyair. Ristia, ibu dari dua orang anak ini, masih menyisakan waktu untuk menulis puisi, artinya kreativitasnya tidak hilang di tengah kesibukannya sebagai ibu rumah tangga, yang terkadang rutin dan menjenuhkan. Rupanya, selain memberi ruang untuk puisi dalam hidupnya, Ristia juga mempunyai aktivitas lain, yang tidak berkaitan dengan puisi, melainkan untuk kepentingan ikut menyangga kehidupannya sebagai rumah tangga, dan keduanya, antara puisi dan kegiatan sehari-harinya, dia bisa menjaga agar keduanya tidak saling mengganggu.

Rendra pernah memberi nasihat, bahwa menulis puisi dari yang dikenali, bukan menulis sesuatu yang jauh dari kehidupannya, dan agaknya, meski mungkin Ristia belum pernah mendengar nasehat itu, dalam menulis puisi Ristia berangkat dari yang dia kenal dan alami, dan agar tidak jatuh seperti curhat, apa yang dia alami itu diendapkan dulu, agar, dalam bahasa Jawanya menep baru kemudian dia tuliskan menjadi puisi. Maka, tidak heran jika kapan membaca puisi karyanya, lebih-lebih puisi yang terkumpul dalam judul ‘Lebaran Tanpa Ibu’ Risa menangis sambil membaca puisi, sehingga sempat berhenti sejanak, agar tangisnya tidak menggangu dalam membaca puisi. Karena bagi Ristia, membaca puisi adalah membaca hidupnya.

Sihir Hujan

Puisi-puisi yang terkumpul dalam ‘Sihir Hujan’ ini, agaknya persoalan kehidupan yang dialaminya sungguh ‘menyihirnya’ namun tidak membuatnya terlelap dan tumbang. Persoalan kehidupan itu dia kelola agar menjadi energi, dan karena dia rajin menulis puisi, energi itu dia tumpahkan untuk menulis puisi, sehingga tidak membuat dia marah-marah, dan puisinya juga tidak marah-marah; meskipun sebenarnya gurat persoalan kehidupan menggores hati dan menyita pikirannya. Ristia meresponsnya dengan ikhlas dan syukur.

Kedua perempuan penyair ini, kiranya hanyalah sedikit dari sejumlah perempuan penyair yang terus tumbuh di Indonesia. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here