Sejumlah perempuan dari berbagai kota, dan latar belakang yang bebeda-beda, yang semuanya suka menulis, bersama ‘menghidupkan’ Rumah Nin di Sastra Bulan Purnama edisi ’95, yang diselenggarakan Senin, 19 Agustus 2019 di Tembi Rumah Budaya, Sewon, Bantul, Yogyakarta.

Mereka datang dari Semarang, Malang, dan Yogyakarta. Mereka memiliki aktivitas yang berbeda, ada yang berprofesi sebagai dosen, pegawai swasata, penulis, guru, dan tentu ibu rumah tangga. Dari 7 perempuan yang hadir, 3 di antaranya tidak bisa datang, dan beberapa pembaca lainnya, termasuk ada pembaca laki-laki. Mereka menghidupkan Rumah Nin di Sastra Bulan Purnama Tembi Rumah Budaya.

Apa itu Rumah Nin dan ‘Menghidupkan’?

Rumah Nin adalah judul antologi cerpen karya 10 cerpenis perempuan. Cerpen-cerpen itu dibacakan sebagai bentuk untuk menghidupkan teks yang beku, menjadi teks yang bisa ‘didengar’. Masing-masing cerpenis membacakan karyanya, memang tidak utuh, tapi diambil penggalannya agar hadirin tidak jenuh mendengarkan.

Nurul Indarto, foto Edo

Dyah Merta, penulis yang tinggal di Yogya, seperti sedang merindukan menjadi seorang pengantin. Maka, dia membaca cerpen karyanya yang berjudul ‘Pengantin’. Cerpennya menjadi terasa hidup, mungkin karena imajinasi Dyah Merta untuk menjadi pengantin masuk di dalamnya.

Rosana Hariyanti, yang biasa dipanggil Ocha, pengajar Jurusan Bahasa Perancis di FIB Unibraw, membacakan cerpennya yang berjudul ‘Rumah Nin’. Ocha seolah seperti memilih rumah, yang kemudian ditinggali Nin. Padahal Nin tinggal di Yogya, dan Ocha sangat kenal dengan nama itu. Tapi Nin dalam cerpen Ocha bukan Nin yang dia kenal dan tinggal di Yogya. Mungkin, Nin itu adalah dirinya sendiri.

Ada pembaca yang lain, meskipun baru pertama kali membaca cerpen di Sastra Bulan Purnama, mungkin karena sudah terbiasa berbicara di depan kelas mengajar mahasiswa di FEB UGM, ia seperti sudah terbiasa membacakan karya sastra, Nurul Indarti namanya, seorang dosen di FEB UGM, membacakan cerpen karya Endah Raharjo yang berjudul ‘Pohon Kenanga di Halaman Belakang Rumah’.

Menakjubkan, Nurul bisa menghadirkan dramatik dari cerpen karya Endah. Membacanya lancar, intonasinya jelas, dan bisa membedakan karakter dari tokoh yang satu dan tokoh lainnya, sehingga masing-masing tokoh nada suaranya berbeda.

Yanti Sastro, seorang pengajar dari Undip, Semarang, mengawali membaca cerpennya dengan tembang. Seolah dia sedang membangun suasana, dan begitu masuk membacakan cerpennya, Yanti seperti ‘menyihir’ orang untuk mendengarkan.

Ninuk dan Rani bersama membacakan satu cerpen karya Ninuk. Keduanya seperti sedang melakukan dialog, sehingga cerpen berjudul ‘Pohon Trembesi Ibu’, yang dibacakan dua orang ibu, memberikan kesan yang menyenangkan.

Endah Sr, foto Edo

Lain lagi dengan Endah Sr dia merekam cerpennya dan diiringi musik. Lalu dia tampil dengan gerak-gerak bangau putih, seolah sedang menari, sementara dia terus bergerak, suara dan musik menyertai dalam pembacaan cerpen yang sudah direkam. Endah memang mempunyai teknik tersendiri dalam membaca. Tidak sampai di situ, selesai gerakan dia membaca satu aliena cerpennya.

“Supaya afdol, saya juga akan membaca cerpen saya, hanya pendek, satu alinea saja,” kata Endah Sr.

Ida Fitri sedang merindukan laki-laki, dalam cerpennya ‘Lelaki dari Negeri Bianglala’. Mestinya, yang merindukan laki-laki Dyah Merta, dalam imajinasi pengantinnya. Seperti bianglala yang penuh warna, jarik yang dikenakan Ida seperti bianglala. Mestinya, Ida dan Dyah, diminta membaca bersama, agar klop, antara ‘lelaki’ dan ‘pengantin’ keduanya merindukan bianglala.

Ini pembaca tamu yang tidak terduga. Seorang rektor Universiats swasta di Yogya, ternyata membaca cerpen dengan bagus. Suaranya mantap, dan cerpen Yeni Mada, yang berjudul ‘Rabu Kaba’ sungguh ‘dihidupkan’ dengan suara mantap dari Fathul Wahid, Rektor Universitas Islam Indonesia Yogya.

Begitulah, Rumah Nin telah dihidupkan bersama di Tembi, dan penghuninya menikmati. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here