Pameran lukisan cat air kembali digelar di Galeri Tembi Rumah Budaya. Pameran kali ini yang dibuka secara resmi oleh Yani Sapto Hudoyo, Kamis malam, 15 Agustus 2019, tidak kalah memukau dibandingkan dengan pameran lukisan cat air sebelumnya. Exotic of Light, itulah tema yang diangkat oleh Irwan Widjayanto dalam pameran tunggal karya cat airnya. Seperti diketahui, melukis dengan cat air memiliki tingkat kesulitan dan kerumitan tersendiri.

AA Nurjaman yang menuliskan pengantar untuk pameran ini menyatakan bahwa proses melukis cat air memiliki tingkat kesulitan yang khas, baik yang dilukiskan di atas kertas maupun di atas kanvas, secara teknik sama hasilnya. Dimulai dengan menggoreskan objek secara keseluruhan dengan warna transparan.

Transparansi warna pencahayaan diperoleh dengan mencampur cat air supaya masih memperlihatkan warna putih media kertas atau kanvas sebagai bidang gambaran. Sedangkan bentuk dan bayangan objek utama diperoleh dengan menimpakan polesan warna berulang kali sehingga terbentuk subjek matter sesuai rasa artistiknya. Sedangkan objek-objek yang dijadikan latar belakang dikaburkan bentuknya oleh bloboran air bercampur cat warna.

Irwan Widjayanto dan Yani Sapto Hudoyo dalam pembukaan pameran Exotic of Light di Tembi Rumah Budaya-Foto-A.Sartono

Perlu ditegaskan pula bahwa dalam seni logika yang digunakan bukan jenis logika penalaran, melainkan “logika perasaan”. Logika perasaan adalah efek asosiasi bentuk dan metafora tentang esensi sesuatu, seperti bentuk-bentuk rumah yang padat melahirkan rasa sesak, bentuk air mengalir menimbulkan perasaan sejuk, warna langit putih berlabur hitam memberikan perasaan menakutkan. Dengan demikian, setiap bentuk, goresan, sapuan warna, dan tekanan-tekanan cahaya dalam lukisan bisa melahirkan efek rasa tertentu bagi yang melihatnya.

Kebenaran dalam seni bukanlah kebenaran ilmiah, bukan kebenaran relijius, bukan pula kebenaran moral, doktrin, dokma, agama atau keyakinan apa pun yang sifatnya konvensional, melainkan kebalikannya. Justru munculnya realitas-realitas yang awalnya tersembunyi, yang tidak disadari namun nyata dan seringkali bertabrakan dogma, religi, ilmiah, kebenaran modal atau budaya.

Memasang Cundhuk Mentul, 90 x 80 cm, waco on canvas, 2018, karya Irwan Widjayanto-Foto-A.Sartono

Seni adalah kebenaran kenyataan hidup yang kita alami seperti adanya, kebenaran akan kenyataan akan kenyataan yang tak mengenal hitam-putih, kebenaran dari kenyataan yang pelik dan tumpang-tindih. Karya-karya lukis cat air Irwan Widjajanto seringkali mengungkapkan kompleksitas kehidupan yang menginspirasinya dengan warna-warna dan garis-garis tumpang tindih.

Pameran Irwan ini, yang berakhir pada 21 Agustus 2019, sekaligus sebagai hadiah ulang tahunnya (lahir, 2 Agustus 1970). Tentu hadiah yang istimewa di hari istimewanya dengan karya-karya yang juga istimewa. Berkarya tentu bukan hanya persoalan penguasaan teknik dan material, namun rasa, passion, dan keseluruhan atau kepenuhan jiwa yang melatarbelakangi munculnya sebuah karya akan tampak pada hasil akhirnya. Bagaimana karya itu di dalamnya terasakan jiwa, ruh, ataupun taksu yang menjadi wakil dari inti eksistensi sang perupa.

Waiting in Cat Ba (Vietnam), 38 x 56 cm, water color on paper, 2019, karya Irwan Widjayanto-Foto-A.Sartono

Menikmati karya Irwan seperti menemukan torehan jiwa dan ruh Irwan di sana dengan segala kepenuhan dan totalitas Irwan yang tidak bisa diragukan lagi. Keindahan karyanya mampu menjejakkan eskotisme karya lukis cat air. Selaras dengan tema yang diangkatnya. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here