Upacara Adat Tumplak Wajik merupakan bagian rangkaian Upacara Adat Grebeg (Garebeg) yang dilakukan Keraton Yogyakarta. Upacara ini dilaksanakan untuk mengawali pembuatan gunungan yang akan dikirab dalam Upacara Grebeg. Gunungan adalah sarana atau material paling penting dalam Upacara Grebeg.

Upacara Grebeg oleh keraton dilaksanakan sebanyak tiga kali dalam setahun, yaitu Grebeg Mulud, Grebeg Besar (Idhul Adha), dan Grebeg Syawal (Idhul Fitri). Ada pula grebeg yang lain yakni Grebeg Dal yang hanya dilaksanakan satu kali dalam sewindu (delapan tahun). Grebeg Dal dilaksanakan dalam perhitungan siklus Tahun Jawa yang jatuh pada Tahun Dal.

Upacara Tumplak Wajik selalu diawali dengan membunyikan musik gejog lesung (kothekan). Musik Gejog Lesung pada masa lalu digunakan sebagai pertanda untuk mengundang orang datang ke lokasi. Maklum, pada masa lalu belum ada alat komunikasi secanggih sekarang. Lagi pula di masa lalu penduduk masih sedikit, jarak antarrumah juga relatif jauh.

Pembubuihan boreh sebelum pembuatan gunungan di Panti Pareden Keraton Yogyakarta-Foto-A.Sartono

Bunyi-bunyian dari gejok lesung yng diiringi nyanyian (tembang) akan cepat menarik perhatian orang di kanan-kiri lokasi dengan cepat. Selain itu, musik gejog lesung juga dipercaya bisa mengusir lelembut (pengganggu dari dunia gaib).

Gunungan adalah rangkaian aneka macam makanan, sayur, dan buah yang disusun menyerupai bentuk gunung. Dalam Upacara Grebeg komponen atau isi gunungan umumnya berupa kue-kue (tiruan kue-kue) yang dibuat dari ketan dan ditancapkan pada sebatang lidi. Masing-masing kue (tiruan) kue ini bentuk dan warnanya bermacam-macam (umumnya hitam, hijau, kuning, dan merah serta warna asli ketan).

KRT Purwodiningrat dan KRT Widyocaroko Ismoyodiningrat dalam Upacara Tumplak Wajik-Foto-A.Sartono

Kue-kue dari ketan ini umumnya digunakan sebagai hiasan kemuncak jenis Gunungan Wadon dan Gunungan Pawuhan. Sedangkan hiasan pada kemuncak Gunungan Lanang umumnya berupa kue berbentuk bulat dan berbentuk ikan yang terbuat dari tepung (beras/terigu). Sedangkan tubuh dari gunungan umumnya merupakan rangkaian sayuran (kacang panjang, cabai, bawang putih, dan bawang merah).

Upacara Tumplak Wajik sebagai awalan atau penyiapan pembuatan gunungan untuk Upacara Grebeg diawali dengan laporan dan permohonan izin dari abdi dalem kepada pejabat keraton berpangkat bupati untuk memulai tugas. Setelah diizinkan abdi dalem yang bertugas akan membuat jladren (adonan) dlingo dan tepung yang juga disebut boreh yang dibalurkan pada alas yang akan mengalasi pembuatan gunungan.

Selain itu boreh tersebut juga akan dibalurkan pada kaki/tangan/punggung/ leher dari semua abdi dalem dan bahkan juga yang hadir di tempat itu (bila menghendaki). Baluran tersebut pada masa lalu sebagai cara untuk memberikan rasa hangat pada tubuh mengingat pada masa lalu banyak orang bertelanjang dada dan belum ada obat-obatan modern. Boreh tersebut juga akan memberikan daya tolak bagi serangga (nyamuk) yang akan mendekat, mencegah masuk angin, dan membuat kulit bertambah halus serta beraroma harum. Usai pembaluran boreh barulah pembuatan gunungan dimulai.

Tiga calon gunungan yang siap dibentuk menjadi gunung utuh dalam Upacara Tumplak Wajik-Foto-A.Sartono

Isi dari Gunungan, khususnya yang putri adalah wajik. Itulah yang ditumpahkan (di-tumplak) untuk kemudian menjadi pokok landasan bagi penancapan asesori gunungan supaya melekat kuat. Wajik dan segala pernak-pernik gunungan yang terbuat dari ketan itu merupakan simbol dan harapan agar kawula dan raja semakin erat bersatu dan dapat mewujudkan negara dan bangsa yang sejahtera untuk makmur bersama. Demikian antara lain seperti yang disampaikan KRT Purwodoningrat dan KRT Wiryocaroko Ismodiningrat dalam acara tersebut.

Selain itu, wajik juga menjadi simbol keeratan hubungan persaudaraan antara kawula (rakyat) dengan raja. Intinya adalah persatuan pimpinan dan rakyat yang menyebabkan negara dan bangsa menjadi kuat, adil, dan makmur. Demikianlah Upacara Tumplak Wajik di Keraton Yogyakarta yang dilaksanakan Jumat sore, 9 Agustus 2019. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here