Puisi Mim A Mursyid

0
42

Ibu

Ibu adalah kesetiaan
Pada cinta dan kasih sayang.
Sering desing tangisku
Membunuh lelap malam tenangmu,
Namun tetap kau teduh tanpa keluh.
Kerap aku bersikap tak ramah
Kala dada sempitku direnggut amarah
Sejenak pun tak pernah kau hilang tabah
Lalu engkau memeluk dan meniup ubun-ubunku,
Di sampingmu, Ibu
Jibril mengamini nafasmu.

O, tak ada yang meredam lebih piawai
Saat kenakalanku menjelma badai
Hanya semilir anginmu
Sejuk mendesir kalbu.
Teruslah, Ibu
Basuh namaku di setiap sujudmu
Lantaran aku kotor
Dan airmata doamu
Percik telaga kautsar
Yang kudamba selalu
Untuk menyucikan batinku.

Ibu, engkaulah itu
Wanita yang menuang seluruh samudera ke dada
Agar segala yang masuk ke dalam diriku:
Comberan, sampah, tinja, lumpur,
Air tuba, kencing nelayan, muntah manusia
Semua larut-sirna
Tanpa rasa, tanpa warna
Dan yang tersisa hanya warna biru keyakinan
Agar tiada gemetar kutatap langit di atas awan.

Ibu, dalam puisiku,
Metafor-metafor keder memajaskan agungmu
Tiada kalimat yang pernah indah
Untuk kuhatur padamu sebagai madah
Karena engkaulah, Ibu
Puisiku yang paling sempurna.

Madura, 2019

Ayah

Ayah,
Setiap pagi menjelang
Teduh raut wajahmu membayang
Dan rengek masa kecilku
Menyemerbak aroma rindu,
Seketika semua datang dalam kenang.

Dahulu,
Engkau ajari aku membaca
Parade huruf-huruf cuaca
Kelak aku paham
Ada yang tertulis sebelum hujan
Atau tandus kemarau berkepanjangan.
“inilah tamsil arah pengembara bakal melangkah”
Kutanam kalimat ayah
Di sum-sum dan alir darah.

Ayah, kaulah jibril
Mendekapku dalam gigil
Dan berbisik tentang rumus waktu
;perihal terawal yang kuterima sebagai wahyu.

Madura, 2019

Aku Adalah Riak Ombak Yang Merindukan Pantai

Perahu kayu melaju
Memacu deru rindu,
Tak usah bimbang
Pada gertak gelombang.
Mari tantang kabut
Dan angin rebut
Biar guntur berdebur
Biar orang bertutur
Ziarah laut ziarah kubur,
Dada busung tiada mundur
Jiwa besar tak gentar
Pada kilat menyambar
Layar menjulang ke ujung maut
Tiada yang boleh takut,
Aku adalah riak ombak yang merindu pantainya

Wahai! Bagaimana betah di perantauan
Bila kibar daun siwalan
Adalah lambai tangan-tangan
Yang paling memanggil pulang
Wahai! Antarkanlah kami ke dermaga
Pelabuhan rindu seluruh semesta.

Kini, yang asin telah tawar
Segala debar memudar
Tanamlah jangkar di lubuk hati
Tambatkan sampan pada yang abadi
Telah kutepati janji
Memelukmu kembali
Pulau Sapudi

Madura, 2018

Resonansi

Barangkali
Nikmat paling surga
Adalah menjadi
Delapan tangga nada,

Kubawa engkau
Ke puncak pejam paling tajam
Semesta bunyi gemuruh dalam ruh
Kita pun manunggal sebagai rindu.

Madura, 2019

Mencintai Kau

Mencintai kau adalah
Serupa berteduh di bawah hujan tanpa gigil
Tak perlu terasa dingin pun secuil
Atau bagaimana aku berpuisi tanpa teks
Sebab suara mesti bergema dalam angan
Bukan pada huruf yang menyusun bacaan.

Mencintai kau,
Aku hendak mengekalkan kefanaan.

Madura, 2019

Mim A Mursyid, santri pecinta seni asal Pulau Sapudi, Sumenep. Menulis puisi sejak 2014. Bergiat di Komunitas Dhamar dan Lingkar Puisi Taneyan Lanjheng. Karyanya dimuat di Radar Madura, Galeri Renjana Pena, NusantaraNews.co, Kawaca.com, Bulletin Paragraf, dll. Antologinya yang terbaru Berbagi Kebahagiaan (Penebar Media Pustaka:2019). Telp/WA : 085748667959, FB : Mim A Mursyid, Email : [email protected]

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here