Menengok Nenek Moyang Kita Sebelum Mereka Mengenal Aksara

0
22

Indonesia adalah negara yang mempunyai banyak benda peninggalan peradaban manusia purba. Jejaknya dapat ditelusuri dari pesisir timur Sumatera sampai Papua. Kehidupan masa praaksara atau prasejarah meliputi masa yang sangat panjang, mulai zaman batu hingga zaman logam.

Berdasarkan aspek sosial, ekonomi, dan budaya kehidupan manusia purba dapat dikelompokkan menjadi empat, yaitu masa berburu dan mengumpulkan makanan, bercocok tanam tingkat sederhana, bercocok tanam tingkat lanjut, serta masa perundagian atau pertukangan.

Pada masa berburu dan mengumpulkan makanan (hunting and food gathering), kehidupan manusia purba bersifat nomaden atau berpindah-pindah menyesuaikan dengan ketersediaan makanan. Diperkirakan mereka hidup berkelompok dalam jumlah kecil atau sedikit dan wilayah pergerakannya tidak jauh dari sumber air, seperti sungai dan danau. Sungai dan danau adalah penyedia sumber makanan yang melimpah terutama ikan. Peralatan yang digunakan berupa batu, tulang binatang, dan tulang ikan. Contohnya ditemukan di daerah Punung, Pacitan, Jawa Timur; dan Ngandong, Blora, Jawa Tengah.

Masa berburu dan mengumpulkan makanan ini diperkirakan terjadi selama masa Paleolithikum (Batu Tua). Manusia pendukungnya adalah Meganthropus Palaeojavanicus, Pithecantropus Mojokertensis, Pithecantropus Erectus, sampai jenis homo (Homo Soloensis, Homo Wajakensis, Homo Erectus).

Masa selanjutnya adalah masa bercocok tanam tingkat sederhana atau masa peralihan. Pada masa ini manusia purba mulai menetap atau membuat tempat tinggal. Walaupun begitu ketergantungan pada alam masih tinggi (iklim, kesuburan tanah, ketersediaan binatang buruan). Mereka masih berburu dan mencari makanan di alam, tetapi kehidupan nomaden mulai ditinggalkan. Sampah-sampah dapur berupa tumpukan kulit kerang dan siput (kyokkenmoddinger) yang dijumpai di daerah pantai Sumatera Timur Laut (antara Langsa Aceh sampai Medan) adalah buktinya.

Selain tinggal di daerah pantai, mereka juga tinggal di gua payung atau gua alam (abris sous roche), terutama yang dekat sumber air. Misalnya di daerah Sampung, Ponorogo Jawa Timur (Gua Lawa) dan Sulawesi Selatan (Gua Leang-Leang). Perpindahan dilakukan apabila tempat tinggalnya sudah dirasa tidak memadai.

Penemuan tembikar dan sisa-sisa alat dari bambu yang terbakar membuktikan bahwa mereka sudah mengenal api dan cara-cara memasak makanan. Lukisan di dinding gua, misal di daerah Sulawesi Selatan, Kepulauan Maluku, dan Papua menunjukkan bahwa mereka sudah mengenal seni. Penguburan juga sudah dikenal sebagai penghormatan terhadap yang meninggal.

Masa peralihan ini berlangsung selama masa Mesolithikum (Batu Tengah) dengan pendukung manusia yang sudah cerdas (Homo Sapiens), yaitu Papua Melanesoid.

Masa yang ketiga adalah masa bercocok tanam tingkat lanjut. Pada masa ini manusia prasejah sudah menetap lebih lama, bahkan selamanya dan daerahnya lebih luas. Dari hunting and food gathering beralih ke food producing (menghasilkan makanan). Tempat yang mereka pilih masih dekat sungai, danau, bukit, dan hutan dekat sumber air.

Mereka tidak lagi tinggal di gua, tetapi membuat rumah panggung sederhana. Rumah panggung ini untuk menghindari banjir dan juga serangan binatang buas. Pada masa ini jumlah penduduk bertambah secara cepat. Penambahan penduduk dirasa menguntungkan dalam kaitannya dengan tenaga bercocok tanam. Tanamam yang sudah dibudidayakan antara lain keladi, sukun, durian, manggis, dan rambutan. Selanjutnya berkembang ke tanaman biji-bijian seperti rumput-rumputan (jewawut, padi gogo) dan sayuran. Beternak juga sudah dilakukan.

Ketika menunggu masa panen, mereka mengisi waktunya dengan membuat kerajinan rumah tangga seperti anyaman, gerabah, alat-alat bercocok tanam, dan lain-lain. Mereka juga membuat perahu, dengan jalan memotong pohon kemudian melubanginya. Perahu ini digunakan untuk menangkap ikan. Pada saat itu diduga sudah ada kegiatan dagang yang bersifat barter yaitu barang ditukar dengan barang.

Di masa ini orang memercayai adanya kekuatan roh nenek moyang. Kepercayaan ini bahkan memunculkan kebudayaan bangunan batu-batu besar (megalithikum) misalnya menhir, dolmen, dan batu berundak yang khusus digunakan sebagai sarana pemujaan terhadap roh-roh nenek moyang. Di samping itu muncul pula kepercayaan animisme (kepercayaan adanya suatu roh atau jiwa yang melekat pada suatu benda baik benda hidup maupun mati) dan dinamisme (kepecayaan bahwa pada benda-benda tertentu baik hidup maupun mati, atau benda-benda buatan manusia memiliki kekuatan gaib dan dianggap bersifat suci, sehingga dapat memberi pengaruh pada manusia).

Masa bercocok tanam (pertanian) ini diperkirakan sudah ada ketika jaman Mesolitikum akhir (zaman Batu Tengah akhir) dan diperjelas pada masa Neolithikum (zaman Batu Baru). Ada pun masyarakat pendukungnya adalah manusia modern (Homo Sapiens) dari kelompok Proto Melayu yang datang dari daratan Asia. Baik yang melalui jalan barat dengan membawa kebudayaan kapak persegi, maupun yang melalui jalan timur dengan membawa kebudayaan kapak lonjong.

Masa yang keempat adalah masa perundagian atau masa pertukangan (masa perkembangan teknologi). Pada masa ini, manusia purba telah mencapai tingkat kemajuan yang cukup berarti terutama dalam kebudayaan. Lebih khusus lagi bidang teknologi pembuatan alat-alat, sehingga memunculkan golongan tukang (undagi).

Pada masa ini telah dikenal pula teknik melebur dan menuang logam dalam cetakan. Salah satu suku bangsa yang membawa serta menyebarkan kepandaian membuat alat-alat dari logam adalah bangsa Deutro Melayu, yang masuk ke daerah Nusantara sekitar 500 tahun sebelum Masehi. Karena bahan dasar pembuat alat-alat logam tersebut tidak terdapat di sembarang tempat, maka didatangkan dari tempat lain, terutama daratan Asia. Terjadilah hubungan dagang dan hubungan budaya. Kebudayaan Dongson, dari Vietnam adalah salah satu yang mempunyai pengaruh cukup besar. Misalnya pada pembuatan nekara perunggu (genderang, tambur), kapak perunggu (kapak corong, kapak upacara), bejana perunggu, arca perunggu, perhiasan perunggu, serta alat-alat dari besi seperti mata kapak, mata pisau, mata tombak, dan mata pedang.

Masyarakat pada masa perundagian ini juga mempunyai kepercayaan terhadap kekuatan roh nenek moyang, serta kekuatan aninisme dan dinamisme.

Kehidupan praaksara ini sedikit demi sedikit mulai hilang setelah kedatangan bangsa India pada abad ke-5 Masehi. Bangsa India inilah yang mengenalkan budaya tulis atau aksara.

 

Judul : Sejarah Indonesia Praaksara
Penulis : Drs. Herimanto, M.Pd., M.Si
Penerbit : Ombak, 2015, Yogyakarta
Bahasa : Indonesia
Jumlah halaman : viii + 103

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here