Menurut Jacques Lacan, psikoanalis dari Perancis, apa yang menggerakkan kehidupan manusia adalah hasrat. Manusia sejak dilahirkan sampai melepaskan diri dari kesatuan-kesatuan eksistensial dalam dunia real mengalami kekurangan-kekurangan, manusia dianggap selamanya “berlubang”. Rasa kekurangan selamanya mengikuti-seperti hantu menggentayangi sepanjang hidup manusia. Padalah kesatuan eksistensial dalam dunia real tidak akan pernah didapat. Perasaan yang mendekam di alam ketidaksadaran diri ini melahirkan hasrat yang tidak pernah habis terpuaskan.

Lantas, bagaimana kaitan hasrat dengan dunia seni rupa di kalangan generasi milenial (Generasi Y/Kelompok Omnivorart) yang memilih seni kontemporer sebagai jalurnya? Hal hasrat demikian dan seni rupa ala Omnivorart ini dipamerkan di Bentara Budaya Yogyakarta mulai 2-10 Agustus 2019. Ada pun personel yang tergabung di dalam kleompok ini adalah Ipan Lasuang, I Putu Adi Suanjana “Kencut”, I Wayan Sudarsana, M Puger, Kiki Juliansyah, Rangga Jalu Pamungkas, dan Valdo Manulang.

The Chaos Era Has Begun (Super-power of Ultima Persepctive Series), 275 x 140 x 425 cm, oil & acrylic on canvas, 2018, karya Rangga Jalu Pamungkas-Foto-A.Sartono

Seperti nama dari kelompok ini, yakni Omnivoart, mereka mengaku diri sebagai kelompok seni yang pemakan segala seni, segala tentang seni. Generasi muda saat ini menciptakan suatu keadaan di mana ihwal bekerja dan bermain adalah sebuah kesatuan. Artinya, keduanya tidak bisa dipisahkan. Bermain, berkarya, berkarya menciptakan karya seni.

Bila karya rupa bisa dimaknai sebagai bahasa bagi senimannya, maka ada penanda lain yang berbeda dari subjek perupa. Ketidaksadaran terstruktur yang kerap muncul dalam karya dari seniman kolektif ini memainkan peranannya dalam menciptakan identitas kolektif. Oleh karena kondisi ketidaksadaran tidak mungkin diakses sepenuhnya, yang terlihat hanya sebuah bentuk-bentuk simbol dalam karya setiap anggota di kelompok atau kolektif ini.

Tumbuh di Tengah Lautan Kering Bebatuan, 200 x 300 cm, acrylin on linen, 2019, karya Ipan Lasuang-Foto-A.Sartono

Seniman di dalam kolektif ini memiliki simbol yang khas dalam usaha mereka menciptakan karya seni rupa. Keterbukaan mereka dengan laju seni rupa global menjadi sebuah kompas bagi kelompok ini untuk terus berhasrat atas kekinian kolektif ini mereka sandang dan ditampakkan. Hasrat muda bagi generasi milenial: work + play = Art Work.

Komunitas ini hadir sebagai sebuah sampel sebagaimana generasi muda melakukan perubahan melalui kesenian khususnya seni rupa. Sebuah komunitas di mana perubahan dan pergerakan zaman adalah sebuah kelenturan dan batasan bisa menjadi sebuah pilihan untuk dilebur.

I’m Hero, 60 x 80 cm, oil on canvas, 2018, karya M Puger-Foto-A.Sartono

Komunitas ini juga memiliki keragaman asal dan latar belakang. Komunitas/kelompok seni rupa pada umumnya masih didominasi oleh latar belakang kesamaan etnis atau kesamaan gender, namun bagi Omnivoart keragaman merupakan bagian dari usaha asah kreativitas dan penemuan imajinasi baru. Demikian seperti yang diungkap oleh Citra Pratiwi sebagai pengantar pameran ini. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here