Untuk tahun 2019 ini Yogya Annual Art (YAA) memasuki tahun ke-4, mengambil tema Incumbent (petahana/pejawat) yang diselenggarakan di Sangkring Art Space, Nitiprayan, Bantul, Yogyakarta. YAA #4 ini diselenggarakan mulai tanggal 24 Juli – November 2019.

Banyak orang memercayai bahwa angka empat sebagai angka sial, yang dikaitkan dengan ramalan, mitos, atau kepercayaan tertentu. Bahkan angka empat sering dianggap sebagai tanda rintangan, hambatan, dan jauh dari keberuntungan. Apabila hal demikian kemudian dianggap sebagai sesuatu yang sungguh benar, maka orang yang meyakininya akan dicekam rasa khawatir dan takut. Bahkan tidak berani melakukan tindakan, kinerja, atau moving.

Benda-benda Membentuk#15, 90 x 100 cm, acrylic, pastel, on canvas, 2019, karya Teguh Sariyanto-Foto-A.Sartono

Pada kenyataannya kepercayaan itu tidak pernah menunjukkan korelasi secara signifikan dan teruji. Sebaliknya, ada begitu banyak kelompok kwartet yang justru terkenal dan berjaya. Ada banyak kelompok seni atau grup yang beranggotakan empat orang juga menjadi grup-grup yang sangat terkenal. Apa yang dinamakan angka empat juga harus ada sebab tanpa angka empat tidak ada angka lima dan angka tiga.

Istilah incumbent (petahana) barangkali lebih banyak bersinggungan dengan urusan politik. Dalam hal ini YAA #4 barangkali ingin mengaitkan hal itu dengan dunia kesenirupaan. Dalam dunia senirupa mungkin memang ada karya atau seniman-seniman petahana yang menunggu atau menanti “penantang-penantang” baru. Artinya, jagad berkesenian dalam hal ini seni rupa tidak lepas dari kompetisi.

Moon, 120 x 130 x 80 cm, kayu, resin, dan cat, 2018, karya Albertus Wanna-Foto-A.Sartono

Untungnya dalam berkesenian tidak ada kompetisi yang bersalut dengan kekerasan, ancaman fisik, hoax, fitnah, dan sebaran kebencian. Justru sebaliknya. Kompetisi yang ada di dalamnya adalah kompetisi untuk saling “menantang” diri sendiri yang dalam konteks sosial masyarakat Jawa boleh disebut sebagai “neter kadigdayan” (menguji kesaktian atau kemampuan) diri.

Helatan seni tahunan dengan tema Incumbent ini pada sisi lain sesungguhnya juga menunjukkan seperti apa sesungguhnya karya yang incumbent itu. Mengapa ia bisa menjadi incumbent.

Menjadi incumbent tentu saja harus memiliki syarat-syarat atau modal tertentu, nilai-nilai penting atau unggulan tertentu. Tanpa itu mana bisa menjadi incumbent. Artinya, incumbent bukanlah sesuatu yang biasa. Ia memiliki sesuatu yang kemudian dalam pusaran kompetisi berada pada posisi sebagai petahana. Petahana menunjukkan dirinya sebagai yang bertahan, kuat, dan siap berkompetisi dengan siapa pun.

Lolipop (Ada Gula Ada Semut). dimensi variable, mixed media, 2019, karya Kelompok Semut-Foto-A.Sartono

Dalam pameran YAA#4 ini orang akan segera dibuat terkesima dengan hadirnya karya di ujung halaman galeri Sangkring Arts Space maupun Bale Banjar Sangkring. Di sana orang akan segera dihadapkan dengan sebuah karya yang menunjukkan sosok patung dari Oei Hong Djien (OHD) yang dikerubungi semut. Bagi kalangan seniman (khususnya seni rupa) mungkin akan segera dapat ditangkap maksudnya. Lebih-lebih jika melihat judul karyanya “Ada Gula Ada Semut” yang menunjukkan bahwa OHD adalah “gula”. Tidak lain tidak bukan karena OHD dikenal sebagai kolektor lukisan (seni rupa) yang luar biasa. Pada sisi itu OHD bisa disebut sebagai gula bagi para perupa.

Begitu orang memasuki ruang-ruang pamer di Sangkring Art Space atau Bale Banjar Sangkring orang pun akan dibuat kagum pada karya-karya yang dipamerkan. Bolehlah dikatakan bahwa karya-karya yang dipamerkan memang layak dan pantas disebut sebagai petahana (incumbent). (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here