Puisi Ruhan Wahyudi

0
65

Kopi, Sehabis Hujan

Setelah air mata mengecup kening tanah
Secangkir kopi kunikmati selepas kau rindu
Pada padi, jagung, kacang, dan ladangmu
Dan kusiasati musim berkelindan di pundak waktu

Gapura, 2019

 

Bandungan Tempatku Berpulang

Sering kali ingatanku memutar-mutar jarum rindu
Pada pematang yang sudah rimbun tumbuhan jagung dan padi
Di musim panen secercah kehidupan telah menjadi untung
Atas tanah yang makin subur, seperti kasih sayang seorang ibu
Yang tetap mengalir sampai akhir waktu

Air susumu terus mengalir ke jantungku mengkristal dalam kalbu
Sebagai rindu yang tak mungkin lenyap pada aroma surgamu
Dan aku lahir dari titisan air benih kesuburan tak mengenal musim
Apalagi sebatang tembakau menyayat kesegaran tubuhku
Mendekap di penghujung trotoar berantakan tak berlintang

Di tanahku masih banyak rumah bertebing seratan bambu
Desa yang miskin, terkecamuk, terbentang dalam abai
Tapi di sini telah kucecap rasa kesederhanaan paling puisi
Yang menderapkan hatiku menuai mimpi abadi

(Taresna bhula ka tanah Bandungan pagghun odhi’ sampe’ mate)*
Tempatku lahir mematangkan janji
Tempatku berpulang mendinginkan rindu yang hakiki

(Taresna bhula ka tanah Bandungan panggun odhi’ sampe’ mate)*
Kasih sayang aku terhadap tanah Bandungan tetap menyala sampai mati

Bandungan, 2019

 

Terbang Ke Langit

Setiap kali burung merpati melingkar di mataku
Rasanya aku juga ingin terbang bersamanya

Tapi tidak dengan burung itu, melainkan dengan pe-sapeanpappa*
Yang dibuat ayahku, dari pelepah pisang dan sayapnya adalah tanganku sendiri, katanya

Seraya pecut yang dipintal dari imajinasi untuk memacunya
Agar aku bisa terbang tinggi ke langit, sampai di titik paling

Setiap hari ia membawaku memecah siutan angin
Mendobrak luka yang tertanam dalam tubuhku

Di tengah perjalanan ia sering kali berhenti
Menunjukkan matahari yang sedang melihatku

Tanpa merasa lelah membawaku ke alam bayangan
Untuk melihat rumahnya yang sederhana

Aduhai sapiku yang telah menemani kesepianku
Kin telah menjadi kenangan yang terlukis dalam kalbu

Ternyata sapiku telah menjadi puisi
Yang terus berpacu dengan diksi paling hakiki

Gapura, 2019
*Sapi-sapian yang terbuat dari pelepah pisang, permainan anak kecil di Madura

 

Hujan di Luar Rumahku

Gemericik air mata langit tumpah
Di balik samar jendela rumahku
burung-burung kedinginan di pohonan
Lirih suara kicau makin menanggalkan aroma tanah
Yang telah dibajak paling rahasia

Gapura, 2019

 

Siluet Sepasang Bulan

Mata yang setia melawan redupnya malam
Seorang penyair berikrar mimpi dalam hatinya paling sunyi
Tanpa rasa punah ia terus menyelimuti dengan hangat
Membajak sinar ke penghulu zaman hingga ke pangkal puisi

Namun pagi adalah tempat yang paling abadi merebahkan diri
Sebab dua belas jam ia terus tersenyum pada sketsa malam
“Tidak apa-apa, demi seorang penyair aku rela menjadi sinarnya dalam puisi”
Dari bisikan jantung angin yang membius ke dalam hati

Mata yang setia melawan redupnya malam
Telah membagikan kebahagiaan kepada penyair yang hilang
Entah kemana ia pergi dan berpulang kembali

Bandungan, 9 Februari 2019

 

Ruhan Wahyudi, lahir di Gapura Tengah, Sumenep, Madura, 06 Mei 2000, karyanya berupa puisi, cerpen aktif di KPB (Kelas Puisi Bekasi) Bekasi Jawa Barat, karyanya termaktub dalam antologi Paduan Karsa jilid 16 (Jawahir Pustaka), Paduan Karsa jilid 17 (Jawahir Pustaka), Paduan Karsa jilid 23 (Jawahir Pustaka), Paduan Karsa jilid 24 (Jawahir Pustaka), Dongeng Nusantara Dalam Puisi (Temalitera Publishing), Rua Raya (Penerbit Alra Media), Menenun Rinai Hujan (Sebuku.Net), dan karyanya termuat media lokal maupun nasional di antaranya Magelang Ekspres, Radar Banyuwangi, Radar Cirebon, Radar Madura, dan pernah menjuarai lomba cipta dan baca puisi tingkat kabupaten, Facebook : Ruhan Wahyudi Alamat: Jl. Gapura Dusun Sema RT/RW 02/05 Gapura Tengah, Gapura, Sumenep Madura, 69472. Email [email protected]

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here