Menyambut Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-74, Galeri Indonesia Kaya, Jakarta, menghadirkan ragam pelaku seni dan pertunjukan yang bertemakan ‘Patriotik’ di akhir pekan di sepanjang bulan Agustus. Pertunjukan pada Minggu 4 Agustus 2019 memadukan musik tradisi Indonesia dan orkestra bertajuk ‘Untuk Indonesiaku’ persembahan komposer muda Wishnu Dewanta bersama penyanyi soprano Pepita Salim, dan harpis muda Jessica Sudarta di panggung Auditorium Galeri Indonesia Kaya.

Ini bukan kali pertama Wishnu tampil di Galeri Indonesia Kaya, ia pernah juga membawa konsep cita rasa Indonesia yang sudah pernah diperdengarkan oleh banyak komposer luar negeri. Menurut Wishnu bagi sebagian masyarakat istilah orkestra sangat kental dengan musik klasik, namun kali ini ia menyajikan hasil eksplorasi alat musik barat bersama Pepita dan Jessica dengan sentuhan musik tradisi Indonesia.

“Banyak sekali lagu nasional di Indonesia dengan karakteristik yang khas, dari situ kami mencoba mengaransemen kembali lagu-lagu tersebut dan menjadikan musik Indonesia semakin kaya. Diharapkan dengan pertunjukan kali ini penikmat seni dapat merasakan kembali indahnya warisan budaya bangsa kita,” ujar Wishnu usai pertunjukan di Galeri Indonesia Kaya.

Komposer Muda Berbakat Wishnu Dewanta foto – Image Dynamic

Pada pertunjukan itu, Wishnu Dewanta membawakan lagu-lagu nasional yang diaransemen kembali seperti Talempong, Pak Ketipak Ketipung, Bungong Jeumpa, O Ina Ni Keke, Tanah Air, Nyiur Hijau, Melati Suci, Simfoni Raya, Negeriku, dan Indonesia Pusaka. Wishnu juga mempersembahkan lagu ciptaanya yang berjudul Untuk Indonesiaku. Pertunjukan ini semakin indah dengan vokal soprano dari Pepita Salim, alunan indah harpa yang dipetik oleh Jessica Sudarta dan iringan Bellevoix Chamber Orchestra.

Sebagai seorang komposer, Wishnu memiliki cita-cita untuk tetap konsisten dalam membuat karya yang dapat membawa kembali warisan budaya Indonesia serta mengeksplorasikan dalam bentuk komposisi baru, yaitu melalui format orkestra. Ia yakin perpaduan musik tradisi Indonesia dan orkestra akan membuat warna yang baru dan menjadikan musik Indonesia semakin kaya.

Selain aktif menjadi seorang komposer, orkestrator, dan pengaba, Wishnu bekerja sebagai penggubah musik di sebuah perusahaan animasi sejak tahun 2016. Pada tahun 2019, ia diangkat sebagai ketua sebuah yayasan bernama Silanada yang bergerak di bidang seni pertunjukan.

“Senang sekali dapat hadir dan tampil di Galeri Indonesia Kaya dan bisa bernyanyi bersama dengan para penikmat seni. Pementasan ini menjadi salah satu cara yang kami lakukan untuk menunjukkan rasa cinta kami terhadap Indonesia. Kami harap pertunjukan ini dapat menjadi persembahan yang menghibur dan menanamkan semangat nasionalis bagi generasi muda,” ujar Pepita Salim.

Pepita Salim Melantunkan Lagu-lagu Nasional foto – Image Dynamic

Pepita Salim adalah penyanyi soprano yang menyelesaikan pendidikan vokal di New England Conservatory, Boston (2018) jurusan Vocal Performance di bawah bimbingan Maryann McCormick. Seusai mendapat sarjana, Pepita berkesempatan berperan dalam musikal The King and I (2018-19), menjadikannya salah satu orang Indonesia yang berhasil mendapatkan sebuah peran dalam musikal Broadway.

Dengan musikal ini, Pepita melakukan tur Amerika Utara dan tampil sebanyak 188 kali di 48 kota berbeda. Pepita berperan di dalam ensemble dan berlaku sebagai understudy untuk salah satu peran utama yaitu Tuptim.

Jessica Sudarta Harpais Muda Berbakat foto – Image Dynamic

Jessica adalah harpais muda asal Surabaya. Ia memulai perjalanan musiknya dengan vokal dan piano di usia yang ke-4. Di usianya yang ke-13, Jessica diperkenalkan dengan harpa oleh ibu Grace Carla. Jessica pun melanjutkan studi harpanya dengan Lisa Gracia dan Rama Widi.

Selain itu, Jessica juga belajar harpa dengan Lauyee Yeung dan Dan Yu di Hongkong Harp Chamber. Di usianya yang ke-14, Jessica menampilkan Konsertino dalam debut konser tunggalnya yang dihadiri oleh 1.000 penonton. Jessica merupakan murid tahun ketiga di Peabody Conservatory of Johns Hopkins University mengambil mayor harp performance di bawah bimbingan Dr Ruth K Inglefield dan mayor musik edukasi. Hari-harinya selama studi di Amerika dipenuhi dengan mengajar serta tampil di berbagai konser.

Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation Renitasari Adrian mengungkapkan, “Sebagai negara kepulauan yang tersebar dari Sabang hingga Merauke, Indonesia memiliki keunikan dan keragaman seni budaya di setiap daerah, salah satu yang patut kita banggakan adalah musik tradisi. Sore ini, tiga seniman muda dengan segudang prestasi mempersembahkan pertunjukan hasil eksplorasi warisan budaya dalam komposisi baru. Perpaduan musik tradisi dan orkestra ini akan membuat warna baru dan menjadikan musik tradisi Indonesia semakin kaya dan semakin dinikmati oleh masyarakat luas.” (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here