Sebuah pilot project gerakan budaya hasil partnership antara komunitas, para budayawan dan seniman muda Jogja dengan Pemerintah Kota Yogyakarta digelar pada 3 dan 4 Agustus 2019 di Titik 0 (Nol) Kilometer Yogyakarta. Project bernama Jogja Cross Culture ini adalah sebuah gerakan berbasis budaya dan mengusung pula semangat ‘Gandeng Gendong’ yang diluncurkan oleh Pemerintah Kota Yogyakarta.

Sebagai penutup seluruh rangkaian acara Minggu malam 4 Agustus 2019, tampil Cross Culture Performance réUnèn. Penampilan ini diawali masuknya barisan 12 perwakilan prajurit keraton dengan panji-panjinya dengan diiringi korps musik prajurit keraton ke panggung utama. Kedatangan mereka langsung disambung musik gamelan yang telah siap di panggung bersama-sama dengan kelompok musik orkestra.

Hal ini sejalan dengan harapan réUnèn yang ingin memersembahkan harmonisasi karawitan, orkestra, choir, korps musik prajurit keraton dan seniman-seniman muda Jogja dengan seniman internasional di satu panggung dan menjadi saling melengkapi di beberapa komposisi.

Beberapa seniman musik yang tampil antara lain; Ron Reeve, Dora Gyorfi, Steven Burell, Dolly Filamentia, Tere W, Pardiman Djoyonegoro dan Nugie. Penampilan mereka diiringi oleh music director Gatot Danar Sulistiyo dan assistant music director, Bagus Mazasupa. Sedangkan bertindak sebagai composer/conductor adalah Sudaryanto dan Joko Lemazh Suprayitno.

Pengunjung Jogja Cros Culture 2019 foto – Dok Jogja Cross Culture

Pada kesempatan ini ditampilkan karya komposisi dari seniman besar seperti Layung karya Hardjo Subroto, Kinantie Sandhoong karya KGPAA Mangkoe Negoro IV dan digubah oleh Ki Hajar Dewantara menjadi notasi diatonis, Sayuk Rukun karya Ki Hadi Sukatmo, Kuwi Opo Kuwi karya Ki Tjokrowasito.

Dilanjutkan dengan komposisi yang lebih kontemporer menampilkan karya komposisi di luar keraton, karya Otok Bima Sidharta, Sapto Raharjo, dan Djaduk Ferianto.

Sebelumnya, Historical Orchestra Selaras Juang mengisi panggung Jogja Cross Culture dengan mengalunkan lagu-lagu perjuangan, seperti Hari Merdeka, Mengheningkan Cipta, Satu Nusa Satu Bangsa, dan Bangun Pemudi Pemuda. Penampilan paduan suara pimpinan Albertus Wishnu, dengan conductor Djoko Lemazh Suprayitno dan Julius Catra Henakin ini mampu menarik para pengunjung makin mendekat ke panggung.

Historical Orchestra Selaras Juang Mengalunkan Lagu Perjuangan foto – Dok Jogja Cross Culture

Gelaran Jogja Cross Culture ini diawali sejak pukul 08:00 WIB dengan Historical Trail Njeron Journey yang dilaksanakan di seputaran kawasan Kilometer 0 Yogyakarta, sepanjang Jalan Malioboro, dan di kawasan Jeron Benteng.

Historical Trail Njeron Journey adalah kegiatan yang mengajak peserta menyusuri tempat-tempat bersejarah di kawasan Jeron Benteng. Para peserta yang terdiri dari sekitar 45 kelompok, yang masing-masing kelompok terdiri dari sekitar 5 orang. Selain berasal dari 14 kecamatan yang ada di Kota Yogyakarta, peserta ada pula yang berasal dari masyarakat umum, dan wisatawan mancanegara.

Selama kegiatan ini mereka diwajibkan menjawab pertanyaan atau tugas yang diberikan panitia. Pertanyaan atau tugas tersebut sebagian besar berkaitan dengan sejarah atau budaya Yogyakarta, terutama yang terdapat di kawasan Jeron Benteng.

Sementara itu di kawasan lain di Kilometer 0 Yogyakarta, pada pukul 10.00 WIB digelar kegiatan Sketsa bareng Maestro. Kegiatan ini diikuti oleh puluhan peserta yang turut mengabadikan keindahan kawasan tersebut dengan sketsa mereka bersama seniman Yogyakarta, Kartika Affandi dan Joko Pekik. Keroncong Paramuda tampil menghibur masyarakat yang hadir di sekitar lokasi tersebut.

Sore harinya giliran anak-anak bergembira di gelaran ‘Dolananè Bocah nJobo Latar’. Di sini berbagai permainan anak-anak ditampilkan, mulai dari lomba lari karung, egrang, hingga ular tangga ukuran super besar, lengkap dengan dadu raksasanya.

Sementara selama satu jam anak-anak disibukkan dengan keseruan permainan anak-anak, ternyata para peserta njogéd njalar Jog Jag Nong diam-diam sedang mempersiapkan diri mengambil posisi di beberapa titik di kawasan Kilometer 0 Yogyakarta dan Jalan Malioboro.

Jogja Cross Culture 2019 foto – Dok Jogja Cross Culture

Diawali dengan meluncurnya sebuah mobil pemadam kebakaran yang di atasnya ada seorang anggota dari Drummer Guyub Yogyakarta (DGYK) yang memberikan aba-aba, tak berapa lama kemudian para peserta njogéd njalar yang tadi telah bersiap di beberapa titik, yang kurang lebih berjumlah 350 orang dari 14 kecamatan di Yogyakarta, serentak turun ke jalan dan menari dengan kuda lumping yang ternyata juga telah mereka persiapkan.

‘Gandeng Gendong’ yang diusung pada Jogja Cross Culture ini adalah perwujudan filosofi gotong royong berbagai elemen masyarakat yang terbagi menjadi 5 K: Kota, Kampung, Kampus, Komunitas dan Korporat. Khususnya bagi Yogyakarta, elemen ini ditambah dengan satu lagi elemen yang sakral yaitu Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here