“Usaha penjaringan seniman muda dirasa penting, bukan saja untuk merangkul dan memberi ruang bagi seniman muda di Yogyakarta, melainkan juga sebagai cara untuk menjalankan salah satu fungsi perhelatan (Biennale Jogja) ini, yakni usaha-usaha pendidikan seni,” ujar Direktur Yayasan Biennale Yogyakarta Alia Swastika,

Untuk itu tim kurator Biennale Jogja Equator #5 melakukan pendampingan intensif kepada 16 seniman/kelompok seni, dan menggelar Pameran Platform Perupa Muda Biennale Jogja XV – 2019 bertajuk ‘Dari Batu, Air, dan Alam Pikir
… Untuk Udara dan Kehendak Bebas Manusia’. Pameran ini digelar di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri (PKKH) Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, dan dibuka pada Kamis, 1 Agustus 2019.

Para seniman terpilih tersebut adalah; Riski Januar, Barasub, Meliantha Muliawan, Rokateater, Eldhy Hendrawan, Marten Bayuaji, Fika Ria Santika, Noise Brut, Pendulum, TacTic, Yosep Arizal, Wisnu Ajitama, Agnes Christina, Kukuh Hermadi, Siam Candra Artista, dan Studio Malya.

Karya Perupa Muda Biennale 2019 foto – Dok Biennale

Karya-karya ini juga direlasikan dengan narasi pinggiran; narasi yang menjalin Biennale Jogja Equator #5 Indonesia bersama Asia Tenggara. Menurut Alia, secara umum, karya-karya yang hadir dalam pameran ini memiliki kecenderungan yang sangat beragam, baik dari sisi bentuk maupun gagasan. Ini tidak lepas dari latar belakang seniman/kelompok seni terpilih yang juga bermacam-macam.

Beragam karya tersebut menyoal isu-isu terkait sejarah, arsip, mitos, seni dan kebudayaan tradisional, lingkungan, medium karya, dan persoalan hidup kekinian. Karya mereka kemudian berkembang. Tidak jarang mereka menemukan ide dan bentuk baru yang berbeda dari yang semula mereka ajukan.

Misalnya sebuah karya yang mengangkat tentang pulung gantung, kepercayaan masyarakat lokal di Gunung Kidul. Ada pula karya yang menyinggung soal kesenian ludruk yang berangkat dari observasi di Parangkusumo.

Konten Terkait:  Perspektif Generasi Z ala Tony Broer di Penutupan FTJ 2018

Kisah tentang sebuah studio foto di Jember juga hadir dalam salah satu karya di pameran ini. Dua karya lain yang juga menggunakan pendekatan arsip masing-masing berangkat dari naskah Jawa kuno dan kitab kuning.

Karya Instalasi Biennale 2019 foto – Dok Biennale Jogja

Karya-karya yang menyoal isu lingkungan antara lain berangkat dari riset artistik tentang Sungai Brantas dan tentang siklus daur ulang sampah. Ada pula karya yang coba merepresentasikan kaitan antara kondisi alam dan laku mengambil pasir untuk industri.

Narasi sejarah hadir, misalnya, dalam karya yang berangkat dari persoalan 1965. Sedangkan persoalan-persoalan hidup kekinian hadir antara lain dalam karya-karya yang menyinggung soal pusat perbelanjaan dan waktu istirahat, game online, serta pariwisata.

Karya-karya yang lebih menyoal tentang medium misalnya bisa dilihat dalam lukisan yang menyinggung soal mooi indie atau lewat dua buah karya instalasi (masing-masing kayu lapis dan songket) yang secara medium telanjur sering diasosiasikan dengan kerajinan.

‘Dari Batu, Air, dan Alam Pikir… untuk Udara dan Kehendak Bebas Manusia’ bisa diartikan sebagai ungkapan untuk merangkum narasi dan bentuk yang beragam dari pameran ini. Karya-karya dalam pameran ini akan melalui proses penjurian lagi.

Pembukaan Pameran Biennale 2019 foto – Dok Biennale Jogja

Lima karya terpilih selanjutnya akan dikembangkan dan diikutkan dalam pameran utama Biennale Jogja Equator #5 bulan Oktober mendatang. “Namun, di luar soal terpilih atau tidak, karya-karya dalam pameran ini patut dihargai, baik oleh senimannya pun publik, sebagai awalan dari karya yang masih akan berkembang,” tutur Alia.

Pameran ini berlangsung hingga 20 Agustus 2019. Buka Senin – Sabtu, pukul 10.00 – 17.00 WIB. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here