Puisi Yuliani Kumudaswari

0
106

Di Kapernaum

Tersesat, di tembok tembok rerentuhan, menjadi kerdil di antara silsilah. Ingin menjadi buih, hilang di Galilea, namun musim tak lagi menyediakan ombak.

Setangkai ranting zaitun dan cemara, tersaji di pintu gerbang. Bagi mereka para pejalan yang tak mengukur jarak. Cinta tak tertuliskan, kecuali oleh darah yang mengalir di antara lebam.

Telah tahirkah? Hati yang serupa batu, kekosongan tak berbentuk, dan kesadaran yang mulai tumbuh sebiji sesawi

Galilea, Februari 2019

 

Penyair di Koran Ibukota

aku jatuh cinta padamu melalui berbait bait puisi yang kau tulis memenuhi selembar ruang di surat kabar ibukota tempatmu hidup tenggelam dan menulis

kau tuliskan tanah tanah becek sehabis banjir surut yang menyaru di antara sungai dan jalanan tempat segala yang kau tumpangi dalam perjalananmu ke kota melayang layang tak berdayung dalam masa seabad yang membenamkan bulan

aku curiga, engkau menikmati tiap detik yang kau habiskan di atas mikrolet, atau helicak yang menyusuri tiap titik perhentian dari senen hingga mangga dua, atau kali ciliwung tempat yang cukup familiar di benakku ketika kau tuliskan segala hal itu di puisimu yang nyaring dan setajam sembilu

dan aku terpaku pada gambar yang kau puisikan , kotamu perlahan tenggelam
kubiarkan aku jatuh cinta padamu karenanya

Sidoarjo, Mei 2019

 

Akhir Musim Hujan

kamu tidak akan menemukan apa apa di sajakku
tidak tikus gendut berekor cacing, tidak lidah marun terkena tuba tinta, tidak sanggul miring kehilangan jepit
mungkin hanya nyalang hati yang membara dan batuan curam
pun ingatan penuh suara sumbang

kata kata telah lama kehilangan bunyi
di akhir musim penghujan itu, kita menenggelamkan purnama di hati yang sedingin negeri orang mati
lalu pikiranku telanjang, tanpa sehelai niat yang tertutupi
bahwa tak ada lagi gelepar kunang kunang di hitam langit

kamu tidak akan menemukan apa apa di sajakku
tidak bongkahan hati yang meleleh, tidak setangkai anyelir layu, tidak bentangan bunga bunga tebu
mungkin hanya sebaris namamu, yang bergulingan jatuh menuruni lembah
dan hilang menjadi rahasia di tanda baca yang kuhapus

lalu aku berhenti menulis tentangmu,
sebelum engkau mencariku

Sidoarjo, Mei 2019

 

Que Sera Sera

Kepada lelaki yang enggan diburu waktu
kulayangkan rahasia tentang camar yang tak pernah khawatir
ringan melintasi buih yang menyembunyikan ikan untuk sementara
dan tak pernah bertanya akankah hari berakhir percuma

Konten Terkait:  Puisi Polanco S. Achri

Tidakkah hidup berjalan dalam iramanya sendiri
hujan panas tiada berhenti dalam pola yang berulang
tetapi usia kian bergulir tak mungkin dikelabui
dan bayang bayang memanjang hingga cermin tak mampu lagi memantulkan wajahmu

Kepada lelaki yang menyelipkan waktu di kantung kemejanya
bersama wajah wajah kisah lalu yang enggan beranjak
kulayangkan pujian bagi ketegaran yang tak berlinang durja
dan pagi yang dikemas sederhana di secangkir uap kopi dan harapan yang terhirup, ada masa bagi hari raya

Jogjakarta, Mei 2019

 

Mereka Memanggilnya Mei

mereka memanggilnya Mei, tanpa embel embel, dan menjalinkan hujan di sepanjang kuncir rambutnya, semacam kemurungan yang tak juga sirna, seakan ia adalah hidup penuh luka

Mei seharusnya menikmati secangkir kopi, sepotong pastri, atau semangkuk penuh bubur mutiara campur, di trotoar khusus pedestrian bergelimang kilau matahari, seperti tempo hari ketika kita menyusuri jalan jalan di kota tua yang baru berdiri dan tak tak mau lagi dipanggil sesuai namanya

Mei semestinya mural mural di dinding kota, penuh warna riang, menutup kerompang kerompeng dinding dinding batas kota yang terabaikan, menjadi wajah ranum gadis berbalut sifon yang melambai lambai menutup lekat lekuk, kecuali dekik senyum yang sumringah, keriangan yang terpatri

Mei seyogyanya seseorang sebelah rumah yang bisa kita sapa, wajah ramah di mata sehangat matahari, sebab seharusnya hujan tak lagi bertandang, dan kekakuan lumer di pucuk pucuk tabebuya

Mei sepatutnya adalah gadis semampai berkucir beransel lebih besar dari tubuhnya, berjingkrak riang menyusuri gang gang menuju sekolah yang menyambut dengan gegap, masa muda yang bebas dari pikiran cabul dan kemaruk lelaki beringas

badai dan kesiur angin telah merajah tubuh Mei, mencoreti punggung dan semampai lengannya dengan tinta darah, dan kepahitan yang ditancapkan di dahinya , Mei telah renta dan terkubur dalam ngeri dan jeri

Mei seperti domba yang senyap dibawa ke pembantaian
dan mereka memanggilnya Mei, tanpa embel embel

Sidoarjo, Mei 2029

 

Yuliani Kumudaswari, lahir di Bandung 2 Juli 1971, menikah dan sekarang tinggal di Sidoarjo. Buku antologi tunggal “100 Puisi Yuliani” (2016), ‘Perempuan Bertato Kura-Kura’ (2017), ‘Menyusuri Waktu’ (2018), ‘Wajah Senja’ (2019). Sejumlah puisinya masuk dalam antologi bersama “Wajah Ibu” (2016), “Menyandi Sepi” (2017). ‘Perempuan di Ujung Senja’ (2017), ‘Kepada Hujan di Bulan Purnama’ (2017), ‘Membaca Hujan di Bulan Purnama’ (2018).

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here