Seni lukis dengan material cat air mungkin memang tidak sepopuler seni lukis yang menggunakan cat minyak/akrilik. Barangkali karya seni lukis cat air memang masih dipandang sebelah mata terutama oleh awam. Persoalannya mungkin karena seni lukis dengan material ini relatif kurang awet dibandingkan seni lukis dengan media cat minyak/akrilik.

Hal yang kedua, karya seni lukis cat air umumnya dibanderol dengan harga lebih rendah dari karya seni lukis cat minyak/akrilik. Akibat selanjutnya tidak terlalu banyak seniman (pelukis) yang menekuni seni lukis dengan media cat air ini. Pada sisi lain publik pun tidak terlalu terbiasa menjadi apresian terhadap seni lukis ini. Apa yang disampaikan di atas tentu saja perlu dibuktikan atau disangsikan untuk kemudian dicari jawaban dan bukti: Benarkah demikian?

Nanang Widjaja merupakan salah satu pelukis yang menekuni seni lukis cat air ini. Ternyata karya lukis cat airnya pun tidak kalah dengan karya lukis yang dibuat dengan material cat minyak/akrilik. Bahkan seni lukis cat air memiliki tingkat kesulitannya sendiri yang tidak pernah ditemukan dalam seni lukis dengan material cat minyak/akrilik. Sifat air yang memang cair demikian mudah “mblobor” dan “lepas kendali”.

Bupati Purworejo, Agus Bastian membuka resmi pameran tunggal seni lukis cat air karya Nanang Widjaj di Tembi Rumah Budaya-Foto-A.Sartono

Namun di tangan seniman lukis cat air yang berpengalaman, hal itu justru menjadi tantangan sekaligus kelebihannya. Karya-karya Nanang Widjaja yang menggelar pameran seni lukis tunggalnya di Tembi Rumah Budaya, 29 Juli-11 Agustus 2019 dengan tema Journey with Watercolor membuktikan hal itu. Pameran tunggal karya lukis cata air Nanang Widjaja ini dibuka secara resmi oleh Bupati Purworejo, Drs Agus Bastia SE MM yang telah cukup lama mengenal Nanang Widjaja.

Pameran karya-karya on the spot dari Nanang Widjaja di Tembi Rumah Budaya ini merupakan pameran road show-nya yang ke-2. Pameran di Tembi ini juga merupakan pameran tunggalnya yang ke-10. Karya-karya dari Nanang kali ini menyuguhkan tentang keragaman karakter kehidupan masyarakat di beberapa tempat, seperti di Ubud, Penang (Malaysia), kawasan Pecinan, beberapa sudut Kota Yogyakarta, pasar tradisional, sudut-sudut Kota Solo, dll.

Sketch Warna Penang, watercolor on paper, 75 x 55 cm, 2019, karya Nanang Widjaja-Foto-A.Sartono

AA Nurjaman, seorang pengamat seni menuliskan pengantarnya untuk pameran Nanang Widjaja ini. Dalam tulisan tersebut AA Nurjaman antara lain menyampaikan bahwa sejalan dengan perkembangan seni kontemporer yang semakin mengedepankan politisasi seni, Nanang Widjaja masih setia melakukan teknik melukis on the spot seperti yang dirintis Monet dan para seniman Pesagi.

Sudut Perwakilan, watercolor on paper, 56 x 38, 2018, karya Nanang Widjaja-Foto-A.Sartono

Nanang seperti tidak peduli dengan micro-politics seni dan justru beranggapan dengan munculnya teknologi seni, maka seni rupa Indonesia kehilangan dasarnya, yaitu melukis di alam, menyerap drama kehidupan masyarakat guna mengasah kepekaan estetik. Secara sengaja Nanang tidak mementingkan kemiripan detail seperti umumnya realistik. Karya-karyanya dibuat secara langsung untuk melahirkan kesan sebagaimana adanya. Penangkapan kesan suatu peristiwa yang menggugah jiwanya menjadi sesuatu yang sangat penting akan kualitas pada karya-karya on the spot-nya. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here