Yudhistira ANM Massardi membacakan penggalan novel karyanya ‘Arjuna Mencari Cinta’, yang diterbitkan tahun 1977, kini diterbitkan lagi oleh Gramedia, pada Rabu 31 Juli 2019 di Bentara Budaya, Jl Suroto 2, Kotabaru, Yogyakarta. Yudhis juga membacakan puisinya, salah satunya berjudul ‘Sajak Sikat Gigi’. Beberapa orang yang lain, seperti Merit Hindra, aktor teater dari Yogya membacakan puisi berjudul ‘Biarin’ karya Yudhis, dan Halida Wibawaty, seorang dokter mata membacakan beberapa puisi Yudhis yang terkumpul dalam buku puisi berjudul ‘Sajak Sikat Gigi’.

Kedua buku karya Yudhis, novel dan puisi, yang diterbitkan ulang, diluncurkan bersama di Bentara Budaya Yogya, dan dibacakan oleh teman-teman Yudhis, dan kawan Yudhis sejak tahun 1970-an, yang sekarang tinggal di Solo, Halim HD, memberikan perspektif bukan hanya mengenai dua buku tersebut, tetapi juga persahabatannya dengan Yudhis selama ini.

Seperti halnya Halim, Merit yang berteman lama, sejak 40 tahun lalu, sebelum membacakan dua puisi Yudhis, juga menyampaikan kenangan persahabatannya dengan Yudhis, yang cukup panjang, dan lama tidak saling bertemu, namun keduanya masih terus bersahabat.

Yudhistira ANM Massardi, foto facebook Halida

“Dulu waktu saya membaca puisi ‘Biarin’, lebih dari 30 tahun yang lalu, rasanya puisi ini panjang, kok hari ini puisi ini terasa pendek sekali,” ujar Merit setelah membaca puisi berjudul ‘Biarin’.

Halim melihat karya Yudhis diletakkan dalam konteks Orde Baru, yang pada waktu itu sudah selesai ‘bulan madunya’; dengan gerakan mahasiswa angkatan 66, dan karya-karya Yudhis merupakan eksplorasi kebebasan kaum muda pada masa itu.

Di sela-sela pembacaan penggalan novel dan puisi-puisi Yudhis, ada penampilan musik yang membawakan lagu-lagu Beatles oleh Gema Isyak dan Gandhi Asta, sehingga memberikan peneguhan kenangan pada masa lalu. Pada masa tahun 1970-an dan awal 1980-an, dunia remaja, penuh gairah dengan apa yang disebut sebagai pop. Musik pop, novel pop dan seterusnya.

Halida Wibawaty, seorang dokter mata, yang memiliki perhatian terhadap sastra, sudah beberapa kali membacakan puisi karya Yudhis dan tidak hanya membacakan di Bentara Budaya Yogya, tetapi juga membacakan di Bentara Solo. Untuk yang kesekian kali, dia membacakan puisi Yudhis, untuk kali ini puisi yang terkumpul dalam buku ‘Sajak Sikat Gigi’.

Yudhis memang tidak hanya dikenal sebagai novelis dan penyair, tetapi juga dikenal sebagai jurnalis. Pada tahun 1970-an, karya-karya Yudhis, terutama ‘Arjuna Mencari Cinta’ dan ‘Sajak Sikat Gigi’ memberikan fenomena sastra di kalangan anak muda, karena sastra lebih didominasi karya-karya yang (seolah) dianggap serius, dan Yudhis menabraknya dengan mengekspresikan apa yang ingin diungkapkan kaum muda pada masa itu.

Merit Hindra, foto facebook Halida

Dan, apapun yang dikatakan orang, terhadap, sebut saja, keberhasilan Yudhis dalam berekspresi, diresponsnya dengan cara ‘biarin’, dan puisi yang berjudul ‘Biarin’ memang sering dibacakan pada waktu itu.

Ketika setelah 40 tahu lalu sempat menjadi ramai, kali ini, ‘Arjuna Mencari Cinta’ dan ‘Sajak Sikat Gigi’ kembali dihadirkan di hadapan publik. Tentu, publiknya sudah bebeda, anak muda sekarang sudah akrab dengan dunia digital. Berbeda dengan anak muda semasa Yudhis masih muda: pada masa itu bacaan masih dianggap sesuatu yang mewah. Dalam kata lain, ‘Arjuna Mencari Cinta’ dan ‘Sajak Sikat Gigi’ (di) hadir (kan) di tengah kaum muda yang (terus) berubah, seperti Novel Yudhis, yang waktu itu juga (mengajak) berubah. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here