Humba, sebutan akrab untuk Sumba, telah menjadi tempat istimewa bagi sutradara Riri Riza dan Miles Films. “Sumba telah menjadi bagian cerita dari banyak film Indonesia. Film ini adalah sebuah sisi dari Sumba masa kini, yang masih setia dengan tradisi namun menghadapi tantangan zaman modern,” tutur Mira Lesmana, produser Miles Film, akhir Juli lalu. Film ini adalah catatan pribadi Riri Riza tentang Sumba, khususnya Sumba Timur dan juga tentang impian dan harapannya akan film.

Dimulai dari keinginan membuat sesuatu yang spesial di Sumba, karena menurutnya selalu ada sesuatu yang baru ketika mengunjungi Sumba. Sudah kali kedua sang sutradara membuat film dan selalu terpukau dengan keindahan alamnya, hal tersebut merupakan wujud ekspresi kecintaannya terhadap Sumba.

Ketika penggarapan film ini Riri Riza mencoba menangkap dan menggali budaya masyarakat Sumba, dan akhirnya menemukan bagaimana kematian dalam kepercayaan lokal Marapu adalah peristiwa penting yang menjadi sentral dalam kehidupan masyarakat Sumba.

Bersamaan dengan itu, masyarakat Sumba dihadapkan dengan isu-isu kontemporer, seperti kesulitan perekonomian, konsumerisme dan persoalan pengolahan limbah. “Pada titik inilah saya merasa ada banyak hal yang ingin saya sampaikan, dan saya tidak ingin membatasi diri pada keterbatasan medium seni,” ujar Riri Riza.

1. Pemutaran Film Humba di Empire XXI Yogyakarta Bersama Riri RIza foto – Indra

Film Humba Dreams memenangkan CJ Entertainment Award di Asian Project Market (APM) Busan International Film Festival pada tahun 2017. Bercerita tentang Martin (diperankan oleh JS Khairen), seorang mahasiswa sekolah film di Jakarta, yang pulang ke Sumba untuk sebuah tugas yang tak mudah. Perjalanan mempertemukan Martin dengan Anna (Ully Triyani) dan pertanyaan tentang Humba dan dirinya perlahan menemukan jawaban.

Sebagai pembuat film, interaksi dengan (orang) Indonesia dan kehidupannya adalah sesuatu yang kaya. Menjalin persahabatan dengan penduduk lokal itu luar biasa, seakan tak cukup jika hanya karena film semata.

Sumba adalah pengalaman yang sangat kompleks. Salah satu cita-citanya adalah “membongkar” Indonesia agar mudah diakses. Jangan sampai negeri ini menjadi negeri yang centralistic (sangat Jakarta/Jawa) supaya kita semua berkesempatan memahami Indonesia lebih dalam. “Sebagai pembuat film, saya harus belajar tentang manusia untuk dapat menceritakan manusia,” kata Riri Riza. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here