Detail Upacara Kematian Berbagai Golongan dalam Masyarakat Bali

0
29

Bagi masyarakat Bali upacara kematian mempunyai akar sejarah yang jauh di masa lampau. Di dalamnya terdapat endapan nilai-nilai, norma-norma dan aturan-aturan sebagai aspek ideal. Walaupun begitu ada suatu kecenderungan, semakin tinggi kedudukan sosial dan kasta seseorang, semakin tinggi pula tingkatan upacara yang dilaksanakan.

Buku ini membahas tentang upacara kematian masyarakat Bali (Hindu), yang dibagi menjadi Bali Dataran dan Bali Aga. Pada Bali Dataran ada enam golongan yaitu golongan Pande, Pasek, Bujangga, Wesia, Ksatria dan Brahmana. Sedangkan pada Bali Aga ada dua yaitu masyarakat Tenganan dan Trunyan.

Upacara kematian pada masyarakat Bali Dataran ada tiga tahap penting atau utama, yaitu ngaben (pembakaran mayat untuk memisahkan antara roh dan badan wadag), maligia/nyekah/nutugang (penyucian roh/jiwa) dan ngelinggihang (menempatkan roh/jiwa si mati yang telah suci pada tempatnya). Tetapi pada masing-masing golongan tetap ada ciri khas atau tata cara tersendiri.

Pada masyarakat Tenganan dan Trunyan tidak mengenal adanya pembakaram mayat/jenazah. Di Tenganan upacara kematian juga ada tiga tahap. Tahap pertama, mayat dikubur di lokasi kuburan. Tahap kedua, muhun (membangunkan arwah, dengan membuatkan perwujudannya atau petrem). Tahap ketiga, nebus (membawa petrem ke Bale Agung untuk diupacarakan).

Sedangkan di Trunyan, mayat dibawa ke sema atau kuburan yang terletak di tepi danau. Mayat diletakkan di kuburan tetapi tidak ditimbun tanah, melainkan ditutupi pakaian adat. Beberapa saat kemudian dibuatkan perwujudannya atau sawe. Sawe dibawa ke kuburan, diperciki air suci dan dipagari ancak sesaji. Masyarakat Trunyan menyebut upacara ini dengan toya cerire (ngaben dengan tirta atau air). Upacara terakhir adalah ngeroras atau berdoa untuk penyucian roh.

Walaupun mempunyai tata upacara yang berbeda, pada dasarnya upacara kematian merupakan penghormatan terhadap jenazah dan roh/jiwa, saluran untuk membesarkan dan menghibur hati kerabat yang ditinggalkan, serta mengembalikan keseimbangan sosial yang terganggu karena kematian seseorang. Dalam upacara ini juga terlihat sikap-sikap kehidupan dan krisis-krisis yang melanda sesuai pandangan hidup serta paham masyarakat tentang alam semesta. Bagi si mati, berarti tata cara untuk mengembalikan unsur pembentuk tubuh (jiwa dan raga) ke asalnya.

Konten Terkait:  Gerabah, Karya Tradisi yang Telah Bertahan Ratusan Tahun

Di dalam buku ini penulis membahas upacara kematian di Bali pada setiap golongan secara terperinci. Baik tata cara atau jalannya upacara, saat atau waktu yang dipilih, sesajian yang digunakan, peserta upacara, serta anjuran dan pantangan yang harus ditaati.

Judul : Upacara Tradisional (Upacara Kematian) Daerah Bali
Penulis : Dra. Si Luh Swarsi, dkk
Penerbit : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1985, Jakarta
Bahasa : Indonesia
Jumlah halaman : vii + 325

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here