Trajectory, Pameran Warisan Karya Seniman Besar I Nyoman Sukari

0
34
Barongsai, 145 x 200 cm, OOC, 2001, karya I Nyoman Sukari-Foto-A.Sartono

Trajectory: Posthumous Solo Exhibition of I Nyoman Sukari yang dilaksanakan si Taman Budaya Yogyakarta, 26 Juli-12 Agustus 2019 adalah sebentuk perjalanan reflektif akan kekaryaan almarhum I Nyoman Sukari serta capaian estetika pemikirannya semenjak zaman Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) Yogyakarta hingga akhir hayatnya, tahun 2010.

Melalui deretan periode karyanya dapat terasakan getaran semangat, spirit karya-karyanya yang dibentuk melalui proses menemukan kembali nafas perenungan karakter diri yang menjiwai kreativitas seniman kontemporer. Pameran karya-karya Sukari yang digelar di Taman Budaya Yogyakarta ini diharapkan mampu meletakkan kembali nama besar Sukari ke dalam medan seni rupa serta kesadaran sejarah akan capaian seniman Bali yang fenomenal di Indonesia, khususnya Yogyakarta.

I Nyoman Sukari mulai dikenal di kalangan kolektor karena pameran Spirit ’90 yang dilaksanakan pada bulan Februari 1994. Saat itu ia dan kawan-kawan sekelasnya dari Fakultas Seni Rupa ISI (ASRI) Yogyakarta berpameran di gedung Pura Budaya Yogyakarta. Pameran tersebut sukses besar dalam hal penjualan karya. Bos Mc Donald, yakni almarhum Bambang Rachmadi dari Jakarta memborong banyak karya saat pembukaan pameran.

Berburu I, 145 x 250 cm, OOC, 2003, karya I Nyoman Sukari-Foto-A.Sartono

Oei Hong Djien (OHD) yang datang ke pameran sehari setelah pembukaan juga memborong karya dalam pameran ini. Tidak hanya karya Sukari yang ia beli namun juga karya dari teman-temannya. Menurut OHD dari sekian karya itu karya Sukari memang paling menonjol. Peristiwa di tahun 1994 ini menggemparkan publik seni rupa Yogyakarta.

Seniman pun mengalami pasang surut juga di dalam perjalanan kariernya. Demikian pula halnya dengan Sukari. Oleh karena itu jika harus memberi angka untuk karyanya itu, maka angkanya juga akan bervariasi. Akan tetapi jika kita bisa menemukan karya yang kualitasnya top, kita akan terpesona tanpa bisa mengucapkan kata-kata karena lukisan Sukari sarat emosi dan untuk mengertinya tidak perlu pekerjaan otak yang berat, tetapi lebih cocok menggunakan mata dan rasa karena hati kitalah yang tersodok. Istilah “greng” sangat tepat untuk mengevaluasi karya Sukari. Demikian ungkap OHD dalam tulisannya atas pameran Sukari di TBY ini.

Apa yang dilakukan Sukari di tahun 1994 dengan pameran Spirit’94 telah memicu booming pasar seni, khususnya lukisan. Booming itu berlangsung hingga tahun 2000-an. Pada era ini banyak orang membeli lukisan untuk investasi. Karya seni tersebut dibeli untuk kemudian dijadikan sebagai barang dagangan. Pada sisi ini pelukis/poerupa bisa diombang-ambingkan oleh selera pasar melalui para pembeli (pedagang) lukisan.

Drawing on Canvas Variable Dimension (salah satui karya drawing I Nyoman Sukari) periode 2008-2009-Foto-A.Sartono

Rupanya Sukari sangat awas dan waspada terhadap situasi semacam itu. Ia memilih mengambil jarak dari keriuhan pasar dan tetap berada dalam lorong kewajaran. Tentu saja Sukari tetap menjual karyanya kepada sejumlah kolektor/art dealer, namun tetap dalam batas-batas kewajaran. Maksudnya, tidak sampai terjadi karya Sukari berada dalam peredaran pasar yang tumpah-ruah sehingga tak mampu lagi dikendalikan oleh senimannya. Oleh karena itu pula Sukari tidak mengalami turbulensi dan kontraksi terkait pasar.

Banyak orang melihat bahwa Sukari memiliki lompatan kreativitas yang dahsyat. Tak pelak di tahun 1994 kiprahnya memicu booming lukisan. Ia mampu menciptakan karya seni yang monumental, memiliki genuine creativity yang menghasilkan karya-karya besar (masterpiece), ia mempunyai pengetahuan yang luas mengenai nilai-nilai estetika, nilai-nilai tradisi, dan teknik mencipta yang matang. Oleh karenanya lukisan Sukari sebagai refleksi kehidupan masyarakat mengundang keindahan, rasa kemanusiaan, kecintaan dan nilai spiritual yang tinggi.

Family, 150 x 200 cm, OOC, 2000, karya I Nyoman Sukari-Foto-A.Sartono

Pameran ini membuktikan semuanya itu. Sejak awal karier Sukari hingga pada akhir hidupnya. Perlu diketahui juga bahwa pameran tunggal karya I Nyoman Sukari ini merupakan hasil kerja sama antara Sarasvati Art Management, OHD Museum, serta beberapa pelukis Bali yang tergabung dalam Sanggar Dewata Indonesia dan juga istri almarhum, Nyoman Aryaningsing.
(*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here