Menjalani kehidupan di dunia bisa dipandang sebagai sesuatu yang berat, lebih-lebih jika manusia menemui banyak kendala, tantangan/rintangan. Demikian gambaran beratnya kehidupan. Iridescent, itulah tema yang diangkat dalam pameran di Galeri RJ Katamsi, ISI Yogyakarta. Pameran senir upa oleh Kelompok Tani Rupa ini berlangsung mulai 21-31 Juli 2019.

Iridescent adalah hal yang berkait dengan beratnya kehidupan dan sekaligus keikhlasan dalam menjalaninya. Hal ini dimaksudkan juga sebagai jangan pernah menyesal jika penyesalan itu tidak akan membuatmu berkembang. Menyesal pada kegagalan barangkali boleh juga, namun tidak boleh membuat diri terpuruk. Jadi, jalani hidup dan kehidupan ini apa pun yang terjadi dengan penuh syukur dan ikhlas.

Local Food, Mix Media, 41 cm (4 panel), 2019, karya Andi Ramdani-Foto-A.Sartono

Pada sisi itu mungkin juga perlu diingat bahwa manusia tidak akan pernah tahu rahasia Tuhan. Tidak tahu apa rencana Tuhan dalam dirinya. Bagaimana itu terjadi juga tidak akan pernah disadari oleh manusia. Kesadaran itu mungkin datang setelah semuanya terjadi (lewat).

Barangkali juga hal demikian itu kemudian disebut sebagai hikmah. Kurang lebih demikianlah hakikatnya menjalani hidup dan kehidupan itu: syukur dan ikhlas. Jika jatuh segeralah bangkit dan terus berjalan. Sekalipun berat teruslah melangkah dengan ketulusan sebab hanya itulah yang dapat dilakukan manusia untuk terus menjalani hidup dan kehidupan. Jika tidak demikian barangkali hidup manusia itu segera berakhir.

Persoalan lainnya, bisakah ikhlas mencintai seni dari sisi bukan seniman? Karena sesungguhnya seni adalah “persaingan” tanpa henti. Tidak ada kata lelah dan istirahat. Pertarungan yang sesungguhnya adalah melawan waktu dimana kreativitas selalu menuntut untuk menemukan hal-hal baru. Perjalanan dan perjuangan suatu saat akan berhenti, menyerahkan setiap proses pada sejarah. Begitulah karena hidup itu pendek sedangkan seni itu abadi.

Perang Tanpa Akhir, Hardboardcut and Acrylic on Canvas, 140 x 244 Cm (3 panel), 2019, karya Angga Sukma Permana-Foto-A.Sartono

Apa yang disebut sebagai iridescent mungkin menjadi pertanyaan, dari mana munculnya warna-warni dalam diri dan karya? Mungkin dari seorang petani tua di desa atau mungkin dari seorang wanita yang pernah menyusuinya, atau perempuan sederhana di dapur yang menyiapkan secangkir kopi. Mungkin juga warna-warni itu berasal dari sesuatu yang tidak pernah kita sadari sebelumnya dan sepenuhnya karena pada intinya warna kehidupan seseorang merupakan bagian kecil dari warna-warni dunia.

Time Traveler Monalisa, Acrylic on Canvas, 100 x 150 cm, 2018, karya Suciati Umanah-Foto-A.Sartono

Iridescent adalah warna-warni perbedaan yang saling terhubung menciptakan kemungkinan-kemungkinan. Warna itu menghubungkan setiap kehidupan menjadi satu kesatuan. Seseorang tidak dapat mengakuinya sebagai milik sendiri, juga tidak bisa berlepas diri dari yang lain. Mewarnai kehidupan sekitar berarti sedang mencampurkan milik kita dengan warna di luar sana. Hal ini merupakan kerelaan untuk saling bertemu. “Beda” memunculkan perhatian, “sama” memunculkan kebersamaan. Demikian antara lain pengantar dari Janu Pu dalam pameran ini. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here