Angelica Liviana Ciptakan Suasana Hangat Lewat Concert at The Museum

0
42
Memainkan salah satu masterpiece Schubert, Wanderer Fantasy untuk solo piano-foto-Indra

Berkiprah lebih dari 10 tahun sebagai pianis, Angelica Liviana menggelar konser resitalnya di Museum Tembi Rumah Budaya pada Kamis, 25 Juli 2019. Segudang pengalaman pernah ia lakoni dalam memainkan karya-karya musik klasik, musik untuk balet, hingga musik kontemporer. Selain kesibukannya sebagai pianis, Angelica Liviana juga seorang guru piano, pecinta buku, dan juga kolaborator seni profesional.

Concert at The Museum, seperti namanya, adalah sebuah konser yang sengaja diselenggarakan di museum. Konser ini berlangsung sangat alami, membawa suasana yang berbeda dengan konser pada umumnya, beda halnya dengan konser-konser yang diselenggarakan di auditorium atau gedung konser. Mewujudkan suasana intim, akrab, hangat, dan tidak berjarak dengan audiens menjadi salah satu misi dari konser di museum ini.

Membuka penampilannya Livi – panggilan akrabnya – memainkan karya Franz Schubert (1797 – 1828). “Wanderer” Fantasy in C Major untuk solo piano adalah salah satu masterpiece Schubert, sekaligus memberi gambaran potret kemasyhuran sang komponis yang mengabdikan hidup untuk musik. Walau usianya cukup pendek, Schubert paling mewakili aliran Wina yang otentik, karena lahir dan banyak berkarya di sana—ketimbang komponis aliran Wina lainnya.

Flowers, bersama Iqbal Harja (biolin) dan Cendy Sukma (flute)-foto-Indra

Franz Liszt menyebutnya sebagai “musikus paling puitis,” dan Beethoven tak ragu memberinya pujian khusus: “tak ada komponis yang sekuat perasaannya”. Tak kurang dari seribu karya telah dipungkaskannya hingga menjelang tutup usia. Tak ayal gelar “komponis paling produktif” layak disematkan padanya.

Setelah jeda sejenak, tiga karya berikutnya tak kalah menakjubkan dari komponis Indonesia ; Flowers (Vishnu Satyagraha), Dalam Doaku (Ananda Sukarlan/Sapardi Djoko Damono), dan Gelisah (Alfian Adytia). Ketiga lagu tersebut merupakan bagian dari album pertamanya bertajuk “Moods” dan beberapa lagu lainnya. Direkam pada 2017 dan dirilis oleh Art Music Today dalam bentuk fisik dan digital.

Flowers disusun untuk format piano trio, bersama flute dan biolin. Karya ini bersahaja dan mudah diingat, karena kesabarannya mengikat suasana yang tidak melompat-lompat dari detik pertama. Bercerita tentang bunga tentunya, bunga adalah lambang peneguhan ikatan batin dalam relasi antarmanusia.

Gubahan apik berhasil dinyanyikan Hanna Azizia (sopran) dan Albertus Rahardyan (bariton)-foto-Indra

Dalam Doaku adalah “musik sastra” gubahan Ananda Sukarlan (untuk sopran dan bariton) yang berangkat dari prosa penyair senior Sapardi Djoko Damono. Karya ini cenderung lebih kompleks, karena penggubah harus menemukan titik kesesuaian musik-nyanyian yang tidak sekadar mempertimbangkan bagaimana prosa ditranslasikan ke dalam melodi lagu, namun juga bagaimana harmoni pada piano berperan sangat penting untuk mendukung seluruh (intensitas) durasinya.

Karya penutup malam itu adalah Gelisah, disusun untuk piano, violoncello, dan kendang Sunda. Sangat kontras dengan tiga karya sebelumnya. Alfian Adytia, komponisnya, mengeksplorasi multi-idiom, warna bunyi, melodi-harmoni dalam ketegangan yang indah sekaligus ambisius penuh kegelisahan.

Tersirat ambisi, Longginus Alyandu (cello), Ibenk Silmy (kendang Sunda)-foto-Indra

Penampilan malam itu menuai decak kagum, tepuk tangan audiens turut mengapresiasi sang pianis beserta seluruh kolaborator. Pun sebelum acara ditutup tak lupa Livi mengucapkan banyak terima kasih pada, Tembi Rumah Budaya, Forum Musik Tembi, Art Music Today serta seluruh kolaborator dan komposer. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here