Puisi Romy Sastra

0
49

Purnama Kesekian di Tembi

engkau di masa lalu di tanah tak berpenunggu
mencari jejak kehidupan yang padam
di bumi yang kelam
lampu-lampu kemajuan diterangi kerajaan
hidup terus berjalan

engkau di masa lalu merayu kehidupan
tentang tunggul yang berdebu menjadi hijau
di mana cinta menebar kisah di masa silam
tirani menyemai sejarah yang panjang
oh, Yogyakarta
lestari negerimu di tanah bertuah

engkau di masa lalu adalah pejuang tanpa pamrih
tapakmu bernanah menjejaki gunung l adang dan sawah
kini kunikmatiseluruh waktu
tentangjasa yang kau titipkan di mataku

aku di masa kini, menikmati bahagia
kudatangi kota-kota yang berbenah
sebab, Yogyakarta membangun manusia dengan budaya
akubanggasuatukemajuanbumijawa

aku di masa kini, di punggungku berlari sayap-sayap tumbuh di hijaunya daun-daun generasi
tentang orang-orang yang kutemui di tembi
mereka memetik bintang di langit
dari purnama semalam di pentas yang sunyi
kugaungkan satu puisi ini hingga malam temaram
dan purnama kesekian di tembi masih menerangi

Jakarta, 5 Juli 2019

 

Kereta Terakhir

Kereta tiba pukul 23:30 di pos duri
wajah-wajah srikandi lelah berdaki
datang dari Jakarta menuju Tangerang
platform yang kau jelang pulang
sampai pukul 1 kurang
di perjalanan malam
tak lagi kau ingati di mana bintang-bintang
sudah berapa lama tertidur dik?
Esok mentari ‘kan tetap bersinar
kau tepar sedangkan dunia terus berputar

Jakarta, 03 Juli 2019

 

Berkaca Melihat Rupa

Jangan pernah bercinta di dada candra
Kalau hanya mau manisnya saja
Ketika malam tiba, kau terluka dan tak tahu obatnya sakit, untuk apa pandai menari
Jika tarian sendiri tak dipahami
Sedangkan lantai selalu berjungkit
Menarilah bersama angin!
‘kan kau dapatkan kedamaian di dalam sunyi
kado yang dihantarkan lewat angin
sepoinya berharap menyejukkan batin
kenapa aksara dikirim berhias ego sendiri
Semestinya dir ibercermin

pada uluran tinta yang manis
kritis di bibir menabu rgula
kenapa dianggap pahit?
karena yang pahit memang sulit dicerna

berkaca diri …
karena berkaca paras itu jelas sekali
teliti sebelum membeli
adalah kehati-hatian naluri

Jakarta, 05, Juli 2018

 

Seruling Pecah Tak Bernada

Seruling rindu bertanya pada angin
ke mana sepoi berlalu
titipkan pesan di hati nyonya
lentikkan jemari lambaikan tangan
adakah nyanyian rindu pada janji
yang dulu dikoar-koarkan
untuk gita sebuah rasa

seruling bambu bertanya pada merdu
embusan napas gembala senja
titipkan rasa pada semut merah
beriring jalan menyapa mesra
kenapa takhta tuan tak berjaya
satu juta semut akan meruntuhkan singgasana

seruling malam bertanya pada lagu
kidung mendayu lenakan kalbu
nyanyian malam kian sedih
pungguk merindu bulan berlalu
mengurai cerita kasih yang tak sampai

puisiku untuk si nyonya tua itu
pesankan pada raja nan bertakhta
yang lagi duduk di singgasana mewah
manggut-manggut di meja di tengah kota
kebahagiaan masa depan negeriku
semakin diterkam elang-elang serakah
kaki tangan berlenggok tak bertelinga
terpedaya sudah pada benalu tak kenal malu

langit kian rendah
kaki tuan menginjak wibawa sendiri
siang berganti malam
terik padam malam temaram
ibu memanggil pulang
kembang setaman mewangi
berbaktilah!
Kenapa torehan jasa dibiarkan ternoda
Ketika sejarah dikenang tak berguna

Jakarta, 26 Juni 2018

Romy Sastra lahir di Nagari/Desa Kubang, Kecamatan Bayang, Pesisir Selatan, Sumatera Barat pada tanggal 11 Juli 1976, anak kedua dari enam bersaudara, bersuku Tanjung dari pihak Ibu, dan Ayah bersuku Melayu. Apresiasi karya-karyanya dalam antologi bersama:

Antologi “Embun Pagi Lereng Pesagi” penerbit Perahu Litera, antologi puisi “Ayah Bangsa” penerbit Rose Books, antologi puisi “Simfoni Pagi” penerbit Pustaka kata bersama Agung Pranoto dkk, antologi puisi 55 Penyair SKANDAL SASTRA UNDERCOVER, antologi puisi “Sebutir Garam di Secangkir Air” Teras Budaya, antologi puisi “Ketika Kata Berlipat Makna” Teras Budaya, antologi puisi Gunung Sahilan Riau, antologi Puisi Soekarno Sejarah dan Cinta, Bengkulu, antologi puisi “Wangian Kembang” dan sejumlah antologi puisi yang lain.

Romy ini juga menulis pada blog pribadinya blogsastrajendra.blogspot.co.id. Di samping itu, karyanya dapat juga ditemui di beranda Facebook, Instragram, dan link RPS Ruang PekerjaSeni Club.

Selain aktif di rumah literasinya Dapur Sastra Jakarta (DSJ), Romy Sastra ikut mendirikan grup Sastra SBM, Sastra Bumi Mandeh Pesisir Selatan Sumbar, bersama kawan-kawan penggiat literasi dari Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here