Pada masa kolonial Yogyakarta terkenal sebagai penghasil gula yang melimpah karena ada 19 pabrik gula di wilayah itu. Akan tetapi pada saat Agresi Militer Belanda II (1948) hampir semua pabrik gula tersebut dibumihanguskan oleh para pejuang. Dari 19 pabrik gula (PG) yang hingga kini masih melangsungkan kegiatan hanya tinggal PG Madukismo yang merupakan “wajah baru” dari PG Padokan.

Dari 19 pabrik gula itu, PG Sendangpitoe merupakan salah satu pabrik gula yang terletak di sisi barat selatan Kabupaten Sleman, tepatnya di Desa Sendangrejo, Kecamatan Minggir, Kabupaten Sleman, Yogyakarta.

PG Sendangpitoe merupakan pabrik gula termuda dari semua pabrik gula yang ada di Yogyakarta. Sedangkan pabrik gula tertuanya adalah PG Gondanglipuro yang didirikan di Ganjuran, Bambanglipuro, Bantul, tahun 1862.

Lapangan Mbabrik bekas PG Sendangpitoe Juli 2019-Foto-A.Sartono

Sekalipun Yogyakarta memiliki wilayah geografis yang relatif sempit dibandingkan provinsi lain namun di Yogyakarta pernah berdiri 19 pabrik gula. Keseluruhan pabrik gula yang ada di Jawa pada masa keemasan produksi gula berjumlah 179 buah. Oleh karena itu pula Yogyakarta sering disebut juga sebagai “The Land of Sugar”. Puncak produksi gula di Jawa terjadi pada tahun 1925 yang pada saat itu dihasilkan 2.000.000 ton gula oleh 179 pabrik gula.

Lapangan Mbabrik bekas PG Sendangpitoe di Minggir Sleman, Juli 2019-Foto-A.Sartono

PG Sendangpitoe pada awalnya merupakan perkebunan tembakau (tabaksonderneming). Pada tahun 1920 Koloniaale Bank membeli bekas perkebunan tembakau milik NV Vereenigde Klatensche Cultuur Maatschappij dan kemudian mengubahnya menjadi perkebunan tebu. Kemudian pada bulan April 1922 PG Sendangpitoe memulai giling perdana. Namun, PG Sendangpitoe hanya beroperasi hingga tahun 1931 karena ditutup akibat merugi sebagai efek dari krisis ekonomi global. Kegiatan produksi dan hasil dari perkebunan tebu kemudian dipindah ke PG Medari.

Konten Terkait:  Jumat Paing Hari Sangar, Tidak Baik untuk Berbagai Keperluan

Bangunan PG Sendangpitoe hancur karena dibumihanguskan oleh pejuang RI dan penduduk sekitar agar tidak jatuh ke tangan Belanda. Sisa PG Sendangpitoe dan menyisakan struktur pondasi di sebelah timur lapangan. Lapangan bekas PG Sendangpitoe ini dikenal dengan nama Lapangan Mbabrik. Istilah “mbabrik” untuk nama lapangan ini mengacu pad pengertian pada istilah/kata “pabrik”. Pabrik yang dimaksudkan adalah Pabrik Gula Sendangpitoe di masa lalu.
(*)

Sumber:
Pameran Suikerfabriek “Jogja yang Hilang”, Bentara Budaya Yogyakarta, Desember 2018.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here