Salah satu bangunan kolonial yang telah dicagarbudayakan di wilayah Purworejo, Jawa Tengah adalah Gereja GPIB (Gereja Protestan Indonesia bagian Barat). Gereja GPIB Purworejo ini terletak di Jl Urip Sumoharjo No 24, Plaosan, Desa Purworejo, Kecamatan Purworejo, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.

Gereja ini merupakan Gereja Kristen Protestan yang dulu dikenal juga dengan nama Indische Kerk. Pada awalnya gereja ini dikenal juga dengan sebutan “gereja pemerintah” karena pada masa lalu gereja ini pernah dipimpin oleh pendeta yang menjadi pegawai pemerintah.

Gereja GPIB Purworejo didirikan pada tanggal 12 November 1876 dengan arsitektur bergaya Eropa dengan pilar dan pilaster bergaya Yunani (neoghotic). Dilihat dari struktur bangunannya Gereja GPIB Purworejo dapat dibagi menjadi dua kelompok, yakni bangunan utama dan bangunan pelengkap. Bangunan utama terdiri dari satu ruangan dengan satu buah pintu utama dan lima buah pintu penghubung.

Pintu utama Gereja GPIB Purworejo-Foto-A.Sartono

Untuk penerangan dan ventilasi terdapat delapan buah jendela. Tiga buah jendela masing-masing terletak di sisi kanan dan kiri dinding bangunan dan dua buah jendela terletak di bagian depan bangunan serta mengapit pintu utama. Jendela-jendela ini memiliki bentuk melengkung lancip pada puncaknya.

Secara fungsional bangunan utama memiliki tiga ruangan, yaitu ruang mimbar, ruang jemaat, dan ruang transit. Emper depan dari bangunan ini diberi atap berbentuk melengkung setengah lingkaran. Genta atau lonceng diletakkan pada menara yang dibangun tepat di bagian atas tengah dari wajah bangunan. Menara tersebut merupakan “terusan” atau sambungan dari pilar dan pilaster di bagian depan bangunan.

Gereja GPIB Purworejo dilihat dari depan-Foto-A.Sartono

Keberadaan Gereja GPIB Purworejo ini tidak lepas dari pewartaan Injil yang dilakukan oleh Christina Petronella atau Nyonya Phillips. Disebutkan bahwa pewartaan tersebut dilakukan dengan tidak mudah atau “penuh kesulitan”.

Konten Terkait:  Jarrasanda (3) Tidak Kesepian Lagi

Jemaat mengalami berbagai perubahan, namun jemaat Kota Purworejo memilih tetap dalam asuhan zending. Sehubungan dengan hal itu, pada tanggal 28 Januari 1900 Ds L Andriaanse menetapkan jemaat Purworejo sebagai jemaat mandiri di bawah asuhan Gereja Gereformeede Nederland yang mengutus Andriaanse sebagai pendeta utusannya. Jemaat ini untuk Jawa bagian selatan termasuk jemaat yang tertua. Demikian seperti keterangan yang diterakan pada papan di depan bagian kiri gereja tersebut. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here