Puisi Anjrah Lelono Broto

0
84

Rujuk

kerinduan ini kalahkan segala maha
caladi seperti tak miliki lagi patukannya
roda-roda serasa kehilangan putarannya
dedaun jatuh pun urungkan arah turunnya
— jika sajak adalah buluh
maka empu rindu ini hanya pelempar sauh
di teluk nun jauh

penabur benih kerinduan ini sedang menguliti bayangan
dia enggan ada yang lain di dalam cermin
apalagi binar pandangnya serupa
apalagi sungging senyumnya serupa
apalagi kekasih pujaannya (juga) serupa
— andaikata sajak adalah sangkar
maka ajakan untuk sudahi tengkar
tengah terujar

Mojokerto, 2019

 

Sebelum Arjuna Menjelma Palguna

eits, siapa yang memaksa kini
untuk cederai janji di depan selaksa saksi
akan megah mahligai di benderang cahaya surgawi
kau biarkan dia duduk di sandingmu
sementara jendela kamarmu tak terbelenggu

sebagai palguna, patah hati adalah menu makan pagi

memimpi perempuan bersuami, layaknya anggraeni,
tak hanya tentang kuncup bunga yang pungkiri
mekarnya mahkota, ruap wangi, juga harga diri
semisal ada drona di antaranya
bukanlah tanda jadi bahwa pelangi akan dimiliki

sebagai palguna, aku enggan patah hati

Mojokerto, 2019

 

Mari

Jikalau kenyataan kota demikian bengisnya,
mengapa engkau tak pulang? Bukankah
menari di pagi hari dianjurkan dokter cantik di televisi?

“Kota seyogyanya menjadi ibu
bagi siapa saja yang menyapanya”,
bisik perempuan sintal yang tak lagi muda
namun masih kau sisakan uang
untuk membeli seikal kecupan

Mari jatuh cinta kembali, menulis puisi,
dan pinggirkan kenyataan kota ini
barang dua-tiga waktu lagi

Surabaya, 2019

 

Dari Lembah

dari Lembah; kesaksian akan terangkan
langit di atas ruam luka

yang mengatup pun ternganga

bebatang palem dengan daun melambai
juga mengingatkan – masa terpendam
yang ditindih dan ditindih oleh fiksi
urban hingga kata salut terperam
tanpa jeda kemudian hilang

yang ternganga pun mengatup

“Di boulevard ini mungkin kita
sedemikian keji mencurangi
peradaban sebuah kota?”

yang mengatup pun ternganga

ruam luka memang tak laik dipelihara
dari Lembah; kita dilarang saling melupa

Mojokerto, 2019

 

Tak Ada Sua

butir-butir air di tepi pagar
mengantar pulang tanpa kelakar

urung sudah sediaku menulis sua
karena hujan meniup kuyup
juga gigil di hati dekil
sementara telah kulewatkan
beberapa gerbang kota
hingga sekarang tubuh
basah hanya beberapa langkah
dari pagar rumah

bisa jadi ada pesan tersembunyi
kepada para pecinta sejati
dari petir yang datang sesekali
aku tak membacanya, tetapi

aku memilih kembali pulang
tinggalkan pagar di belakang
meski kita sama di riung hujan
dan bebunga hortensia diam menyaksikan

Surabaya, 2019

 

Anjrah Lelono Broto, tinggal di Trowulan-Mojokerto, Jawa Timur. Aktif menulis esai, cerpen, serta puisi di sejumlah media masa (berbahasa Indonesia dan berbahasa Jawa); di antaranya Media Indonesia, Lampung Post, Riau Pos, Radar Mojokerto, Radar Surabaya, Harian Surya, Harian Bhirawa, Banjarmasin Post, Surabaya Post, Surabaya Pagi, Duta Masyarakat, Solo Pos, Wawasan, Pikiran Rakyat, Nusantaranews, Galeri Buku Jakarta, Jendela Sastra, IdeIde, Litera, Kawaca, Pojok Seni, Jaya Baya, Panjebar Semangat, Kidung. Beberapa karya tunggalnya adalah Lilih (antologi geguritan, 2004), Negeri Di Angan (antologi esay, 2008), Esem Ligan Randha Jombang (antologi geguritan, 2010), Emak, Sayak, Lan Hem Kothak-Kothak (antologi cerpen berbahasa Jawa, 2015), dan Nampan Pencakan (Himpunan Puisi, 2017). Terundang dalam agenda Muktamar Sastra (Situbondo, 2018), dan karya naskah teaternya “Nyonya Cayo” meraih nominasi dalam Sayembara Naskah Lakon Dewan Kesenian Jawa Timur (DKJT) 2018. Dapat disapa di e-mail: [email protected], FB: anjrahlelonobroto, IG: anjrahlelonobroto, dan Whatssapp: 085854274197.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here