Kelompok Ketoprak Distra Budaya yang beranggotakan para penyandang tuna netra tampil di “Pasar Rakyat Kampung Terban”, Sabtu 13 Juli 2019. Selain ketoprak tuna netra Distra Budaya, pada acara yang digelar di Pasar Terban ini, para warga Kelurahan Terban, Kota Yogyakarta, juga tampil lewat berbagai potensi kesenian dan budaya.

Distra Budaya menampilkan lakon berjudul Lambang Sari Edan, sebuah cerita mengenai seseorang yang ingin merebut istri seorang penguasa. Menurut Pak Getir, yang menjadi penggagas lakon, inspirasi cerita ini ia dapatkan dari kisah Kerajaan Kediri.

Kelompok milik Yayasan Mardi Wuto ini didirikan pada tahun 2002 atas prakarsa Pak Harjito dan beranggotakan para penyandang tuna netra dari lima kabupaten/kota Provinsi DIY. Untuk penampilan di Pasar Rakyat Kampung Terban ini, mereka berlatih sebanyak empat kali di rumah Pak Harjito di daerah Gayam.

Penampilan Keroncong Purbo Rahayu foto – Dok FKY 2019

Seluruh persiapan, mulai dari latihan ketoprak, busana, make up, dan musik, mereka lakukan secara mandiri. Ketika berdandan pun mereka hanya diarahkan dan melakukan segala persiapan dengan tangan mereka sendiri. Peralatan musik yang mereka gunakan pada penampilan kali ini pun sederhana, yaitu alu dan lesung padi, kendhang, dan gendang paralon.

Penampilan berlangsung hingga sekitar pukul 22.30 WIB. Para penonton yang tadinya menonton dari sisi pasar kemudian merapat karena penasaran dengan penampilan Ketoprak Distra Budaya. Mereka tidak merasa minder atau berkecil hati. Justru apresiasi dari para penonton membuat mereka semakin bersemangat untuk berkarya.

Pasar Terban memang sengaja dipilih menjadi titik untuk menyelenggarakan “Pasar Rakyat Kampung Terban” yang merupakan salah satu agenda acara Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) 2019. Antusiasme masyarakat sangat tinggi terhadap acara ini. Dari sore hingga acara ditutup sekitar pukul 22.30 WIB, warga sekitar maupun pengunjung lainnya memenuhi halaman depan Pasar Terban untuk menonton gelaran di kampung urban ini.

Seluruh kelompok usia menampilkan berbagai kesenian yang dikembangkan di Kelurahan Terban. Misalnya, dari kelompok anak-anak menampilkan tari kreasi “Tlatah Bocah Kali Belik”, kelompok remaja menampilkan kesenian jathilan, dan kelompok dewasa-orang tua menampilkan macapat.

Kirab Bregodo Purbonegoro foto – Dok FKY 2019

“Kampung Terban dipilih karena kampung ini dinilai paling siap dengan potensi kesenian dan budayanya, dan merupakan kampung budaya di tengah kota. Harapannya, FKY 2019 dapat menjadi ruang untuk memaksimalkan potensi seni dan budaya, khususnya untuk warga Terban,” kata Paksi Raras Alit sebagai ketua FKY 2019 dalam sambutannya.

Lurah Terban, Anif Luhur Kurniawan SIP, mengaku sangat bangga bahwa daerahnya dipilih untuk menyemarakkan FKY 2019. Ia menambahkan, kelompok-kelompok kesenian yang tampil dipersiapkan hanya selama satu bulan sebab mereka sudah terbiasa tampil dan melakukan latihan rutin.

“Setiap kelurahan memiliki ciri khas masing-masing. Dari Kelurahan Terban kesenian yang paling kuat adalah jathilan. Jathilan kami pernah tampil di Taman Mini Indonesia Indah,” ujarnya bangga. Ia berharap melalui gelaran kesenian ini masyarakat dapat lebih peduli dan tergerak untuk melestarikan budaya Jawa.

“Pasar Rakyat Kampung Terban” dibuka dengan kirab dari Bregodo Purbonegoro dan dilanjutkan dengan penampilan tari jathilan kelompok Turonggo Bekso Code Laras yang dilakukan para pemuda. Kelompok Hadroh Nababa Al Hidayah yang beranggotakan ibu-ibu pun menyumbangkan suaranya. Setelah magrib, penonton diajak berdendang bersama Keroncong Purbo Rahayu yang menyanyikan lagu-lagu keroncong klasik Indonesia.

Jathilan Turonggo Bekso Code Laras foto – Dok FKY 2019

Malam semakin temaram, penampilan terus berlanjut. Giliran para anak dan remaja putri menyuguhi penonton melalui kebolehannya dalam gerak tari, yaitu tari kreasi dan tari klasik Angujiwat dari Sanggar Sekar Parijhoto. Menuju ke penghujung acara, kelompok macapat dari RW 04 dengan seragam beskap dan kebaya kembang-kembang merah menghibur penonton melalui tembang dan parikan yang berisi nasihat. Sangat menarik bahwa dalam sebuah kelurahan terdapat kelompok macapat yang berlatih secara otodidak, namun terus berjalan.

Selain penampilan kesenian dan budaya di atas, Pasar Rakyat Kampung Terban juga dimeriahkan oleh stand kuliner yang diisi perwakilan dari 12 RW di Kelurahan Terban. Dagangan mereka pun bermacam-macam, mulai dari jajanan pasar seperti bakwan dan timus hingga makanan berat seperti mie oriental, pempek, dan pecel. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here