Kata atau istilah Dieng sering dimaknai sebagai edi dan aeng (indah dan unik). Pun sering dimaknai sebagai Di dan Hyang (tempat para dewa). Merujuk pada nama dan makna-makna itu orang boleh mengamini bahwa Dieng memang wilayah yang indah, udara yang sejuk dan bersih, alam yang hijau, pegunungan atau perbukitan yang berderet-deret, kawah, danau, hutan, lahan pertanian, dan langit yang selalu biru.

Pantas jika tempat semacam ini oleh para nenek moyang dikatakan sebagai tempat para dewa. Ketinggian dan keindahan alamnya dianggap pantas dan sakral untuk hal itu.

Terdapatnya kompleks Candi Dieng dan terakhir dengan ditemukannya Ondho Budho (Tangga Budha) di tengah-tengah perbukitan yang menjadi ladang tanaman kentang menunjukkan bahwa kompleks Candi Dieng telah dirancang dan dibangun sedemikian rupa sehingga menjadi tempat yang sakral sekaligus nyaman karena dukungan infrastrukturnya yang terencana dan tergarap dengan baik. Sehingga dapat terhubung dengan pemukiman (desa-desa) yang jauh dengan lokasi percandian. Temuan Ondho Budho menjadi bukti bagaimana masyarakat di zaman itu membuat fasilitas yang baik, kuat, dan indah untuk keperluan mobilitas orang, baik untuk urusan ibadah maupun kegiatan sehari-hari.

Candi Gatotkaca dilihat dari arah Museum Kailasa dengan setting gunung, kabut, dan danau-Foto-A.Sartono

Dari sekian benda atau bangunan arkeologis di Dieng, Candi Gatotkaca merupakan salah satunya. Candi ini Gatotkaca terletak di Dusun Dieng Kulon, Kelurahan Batur, Kecamatan Karangsari, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Candi Gatotkaca terletak di sebelah barat Kompleks Percandian Candi Arjuna, pada tepian jalan menuju Candi Bima di seberang Museum Kaliasa.

Nama Gatotkaca diberikan penduduk berdasarkan nama tokoh wayang dalam cerita Mahabarata. Candi Gatotkaca diduga dulu juga merupakan satu kompleks percandian, sama seperti kompleks Candi Arjuna, Candi Setyaki, dan lain-lain.

Candi Gatotkaca dilihat dari sisi belakang-Foto-A.Sartono

Candi Gatotkaca memiliki denah bujur sangkar dengan arah hadap candi ke barat. Batur candi setinggi 1 meter dibuat susun dua pintu masuk. Bagian atap Candi Gatotkaca telah mengalami kerusakan berat sehingga tidak tampak lagi. Oleh karena itu pula sosok Candi Gatotkaca kelihatan seperti candi bertingkat karena penampilan bagian atasnya terlihat seperti konstruksi yang disiapkan untuk bangunan bertingkat.

Nama asli dari candi ini tidak pernah diketahui. Penamaan nama tokoh wayang yang diterapkan pada candi-candi di Dieng menandakan bahwa cerita wayang begitu melekat dalam ingatan masyarakat setempat. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here