Bagaimana jadinya jika beberapa seniman lintas disiplin berkolaborasi dan meyuguhkan karya mereka bersama-sama? Seniman yang terdiri dari perancang busana, penari, musisi, seni performatif, serta sastra ini tampil pada sebuah acara bertajuk “Panggih”. Bertempat di Museum Monumen Diponegoro, Tegalrejo, Yogyakarta, Senin 15 Juli 2019, pertunjukan ini diusung dengan membangun ruang dialog antara dua elemen budaya dalam tradisi masyarakat Jawa.

Elemen pertama adalah seputar peran busana sebagai salah satu perwujudan identitas kolektif sebuah masyarakat. Sementara elemen kedua berkaitan dengan pangan yang diwujudkan melalui tradisi dhahar kembul (makan bersama). Kedua elemen tersebut dikemas para seniman yang berkolaborasi untuk mewujudkan sebuah pertunjukan lintas disiplin.

“Panggih”merupakan salah satu rangkaian program Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY 2019) yang digelar sepanjang 4 – 21 Juli 2019. Para seniman yang terlibat di kolaborasi ini terdiri dari Nita Azhar (perancang busana), Anter Asmorotedjo dan Anterdans (penari), Umar Haen (musisi) Dapoer Bergerak (performatif), dan pembacaan narasi dari Andi Sri Wahyudi.

Bentuk kolaborasi dari perancang busana Nita Azhar dengan penari Anter Asmorotedjo dan Anterdans foto – Dok FKY 2019

Ketua Umum FKY 2019 Paksi Raras Alit menjelaskan bahwa busana, dalam hal ini busana Jawa, merupakan salah satu cerminan paling nyata dari interaksi antarbudaya. Akulturasi menciptakan dorongan kepada kreasi baru untuk menyikapi keragaman yang saling memengaruhi.

“Kami ingin menyuguhkan hal itu. Tajuk “Panggih” ini kami dudukkan sebagai representasi pertemuan lintas disiplin seni dan budaya yang khas terjadi di Yogyakarta,” ujarnya.

Nita Azhar memajang karyanya berupa hasil dari membaca ulang dan merekonstruksi busana laskar perang Jawa Diponegoro melalui sumber-sumber tertulis. Hasil rancangan busana tersebut dikenakan pada karya instalasi yang terbuat dari kerangka kerucut, yang melambangkan dari semesta menuju sang pencipta.

Pada bagian kepala dari karya instalasi tersebut terbuat dari tanah liat, yang melambangkan asal muasal manusia dari tanah dan akan kembali ke tanah. Sementara untuk bagian tangan, dibuat dari ranting akar kopi, sebagai presentasi sarana dan alat untuk berkarya.

Kemudian sebagai pembaca narasi yang mengantarkan suguhan karya lintas disiplin ini dari babak demi babak, diserahkan pada Andy Sri Wahyudi yang malam itu berkostum kaos tipis putih, celana hitam, dan seikat padi yang dikenakan di kepala layaknya wig. Naskah yang dibawakannya tersebut adalah hasil karya seorang penulis sekaligus aktor, Gunawan Maryanto.

Pertunjukan Tarian Sakral PANGGIH foto – DOk FKY 2019

Di bagian seni tari, tampil koreografer Anter Asmorotedjo bersama enam orang penari dari kelompok Anterdans yang tediri dari Olivia Tamara Dayastuti Wirid, Caprina Puspita, Nabila Rifani Rahmawati, Pinta Puspita Meilasari, Harin Setyandari, dan Rizka Yuana Putri. Suguhan karya mereka dihadirkan dengan iringan musik karya Danang Rajiv Setyadi.

Usai pertunjukan tari yang melahirkan suasana sakral tersebut, para penonton yang terdiri dari tamu undangan dan warga sekitar Tegalrejo, dihibur dengan penampilan Umar Haen. Penyanyi dan petani asal Temanggung yang telah meluncurkan album pertamanya ‘Gumam Sepertiga Malam’ ini membawakan lima buah lagu yang erat hubungannya dengan kehidupan keseharian, seperti ‘Jogja Tempat Kita Belajar’, dan ‘Kisah Kampungku’.

Bukan hanya itu, semua yang hadir di pertunjukan ini dipersilakan menikmati ‘sate kene’, makanan yang terinspirasi dari sejarah Ratu Ageng Teglarejo, yang merupakan nenek Pangeran Diponegoro. Ia mampu menciptakan kemandirian pangan dengan mengolah sumber daya alam yang melimpah.

Rekonstruksi Pakaian Diponegoro foto – Dok FKY 2019

Berbahan dasar lima hasil bumi utama Tegalrejo pada masa itu, ‘sate kene’ terdiri dari umbi-umbian (pala kependhem) yang berada di bagian paling bawah sate. Menyusul kemudian di bagian atasnya kue apem yang berasal dari beras, dilanjutkan panganan dari ketan, dan paling atas potongan pisang. Sate yang selain ditusuk juga dijepit dengan bambu ini kemudian dihidangkan di wadah dari daun pisang berteman cacahan nangka matang, diguyur santan kental dan sirup gula merah.

Hidangan ‘sate kene’ ini adalah hasil karya komunitas ‘Dapoer Bergerak’ yang mengolahnya secara live cooking selama pertunjukan program ini. Secara garis besar, ‘sate kene’ melambangkan kemandirian yang dibangun dari pemahaman terhadap lingkungan sekitar, yang kemudian diolah untuk kepentingan bersama. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here