Undress(ed) adalah tema yang dipilih dua seniman perempuan, yakni Camelia Janualita dan DH Mahardika dalam pameran seni rupa mereka di Bentara Budaya Yogyakarta, 16-21 Juli 2019. Bertindak sebagai kurator dalam pameran ini adalah Hendra Himawan.

Tema ini sengaja diangkat untuk menelisik proses kreatif mereka, yang berhadapan dengan kompleksitas paradigma pemikiran tentang: seni, perempuan, dan seniman perempuan. Membicarakan ruang gerak perempuan dalam berkesenian yang memiliki beban ganda antara tuntutan berkesenian dan posisi diri sebagai perempuan. Pada kenyataannya banyak seniman perempuan berhenti berkarya karena habis waktunya untuk urusan rumah tangga.

Broken and Forgotten, 39 x 20 x 66 cm, pecahan kaca, resin, 2019, karya DH Mahardika-Foto-A.Sartono

Oleh karena itu, seniman perempuan terus-menerus merumuskan strategi di tengah kesenjangan akses, regenerasi, dan medan seni yang cenderung didominasi laki-laki dan patriarki. Bagi Diana dan Camel polemik dan dilema ini adalah tentang bagaimana menggeser paradigma dan menempatkan diri dalam medan yang tepat. Dengan demikian, persoalan penciptaan tidak terkontaminasi hal-hal politis maupun kewajaran dalam diri perempuan yang terkadang dipolitisir.

Pilihan ini sangat politis meskipun tidak berbicara dalam konteks wacana Politik (P besar). Praktek seniman hari ini sangat politis karena mereka merunut kembali kompleksitas personal sebagai individu perempuan dalam medan kesenian (politik, p kecil). Barangkali apa yang dibicarakan sangat subjektif, domestik, dan individualis, namun di situlah tantangannya.

Until There Is No End, 78 x 40 x 173 cm, cat marka jalan, glassbead, almari kayu, tekstil, mesin jahit, 2019, karya Camelia Janualita-Foto-A.Sartono

Undress(ed) berbicara tentang bagaimana dua seniman perempuan yang menelanjangi dan meluruhkan segenap pemikiran, isu, dan polemik (identitas dan posisi seniman perempuan) yang berpendar di sekitar mereka untuk kembali pada esensi penciptaan karya seni itu sendiri. Sikap dan statemen ini ditunjukkan melalui pergulatan kedua seniman dalam realitas praktik berkarya, pilihan material dan perluasan medium yang menjadi bahasa ungkap dalam kosa rupa yang beragam.

Karya yang mereka hadirkan adalah karya-karya tiga matra/dimensi (patung dan objek), sebuah pilihan medium yang jarang diambil oleh seniman perempuan kebanyakan. Isu yang diangkat dua seniman ini mungkin lebih bersifat domestik, suatu hal yang sangat dekat dengan kehidupan mereka yang antara lain meliputi hobi, cerita tentang anak, keluarga, dan pengalaman keseharian yang dilihat, dialami, dan diresapi oleh mereka yang kebetulan adalah perempuan. Sisi feminin terkadang nampak jelas, bias, bahkan hilang sama sekali dari karya mereka.

Stand by Me, 56 x 27 x 150 cm, pecahan kaca, resin, 2019, karya DH Mahardika-Foto-A.Sartono

Undress(ed) adalah soal bagaimana kedua seniman perempuan ini membaca dan mengolah pengalaman personal mereka dalam bahasa seni, bahasa yang mereka percayai cukup demokratis di tengah masyarakat yang mudah membangun stigma minor bagi perempuan yang hidup dalam dunia seni. Demikian pengantar yang disampaikan dalam pameran ini.(*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here