Indonesia Mask Festival (IMF) 2019 yang diselenggarakan di Museum Ullen Sentalu, 5-6 Juli 2019 diisi dengan dua mata acara pokok, yakni performance (pertunjukan tari topeng) dan pameran dengan tema Tribal Masks Ekshibition. Khusus untuk performance ditampilkan para penari dari Wasi Bantolo & Wan’ya Bala Art, Wisnu Wicaksono & Cakil Squad, Kridha Beksa Wirama, dan Pawiyatan Ullen Sentalu.

Sedangkan pameran topeng menampilkan topeng-topeng dari Asmat, Sepik, Dayak, Belu, Lombok, Komoro, dan lain-lain. Topeng-topeng dari beberapa suku di Indonesia ini mampu menyedot pengunjung yang penasaran ingin tahu atau melihat langsung bagaimana wujud topeng-topeng dari suku-suku tersebut serta apa fungsi praktis, estetis, maupun simboliknya.

Salah satu topeng untuk upacara Hudoq-Foto-A.Sartono

Salah satu topeng yang terkenal dan digunakan oleh suku Dayak Bahau, Busang, Modang, Ao’heng dan Penihing adalah topeng yang digunakan dalam Upacara Hudoq. Suku-suku tersebut tinggal di sekitar Mahakam Hulu, Kalimantan Timur. Hudoq diartikan sebagai “menjelma”. Dalam Hudoq tampil 11 penari dengan mengenakan topeng aneka topeng berukir menjelma menjadi satwa dan binatang perusak tanaman seperti tikus, burung, dan lain-lain (ada sekitar 13 jenis hama).

Di samping mengenakan topeng-topeng tersebut mereka juga mengenakan kostum yang terbuat dari pinang, kulit kayu yang dihiasi rumbai-rumbai dari daun pisang atau daun kelapa mirip hewan hama. Tarian ini berdurasi 1-5 jam dan baru selesai ketika ketika dua manusia Hudoq keluar mengejar Hudoq hama. Tari atau Festival Hudoq ini digelar setiap tahun dengan tempat berpindah-pindah di sebuah lapangan terbuka dengan penonton mengelilingi arena.

Salah satu topeng untuk memerankan cerita Panji-Foto-A.Sartono

Topeng merupakan benda masa lalu yang sampai sekarang masih bertahan serta setiap bangsa memilikinya dengan bentuk dan variasinya sendiri. Ada yang dikenakan hanya menutupi bagian mata saja, seluruh wajah, separuh wajah, seluruh kepala, sebagian anggota badan, atau seluruh badan.

Bahan yang digunakan untuk pembuatan topeng juga bermacam-macam. Ada yang terbuat dari tanah liat, keramik, kayu, logam, kertas, kain, batu, hingga campuran (gypsum, raisin). Kegunaan topeng pun bermacam-macam. Ada yang digunakan untuk upacara ritual, seni pertunjukan, penutup wajah mayat, totem, ataupun koleksi.

Salah satu topeng dari Papua-Foto-A.Sartono

Indonesia memiliki sejarah panjang tentang pertopengan. Diperkirakan sejak zaman Prasejarah hal itu sudah ada. Beberapa di antaranya terekam dalam motif hias tempayan, nekara, kapak, sarkofagus, atau bekal kubur. Topeng emas untuk bekal kubur di antaranya ditemukan di Situs Pasir Angin (1.000 SM) di sekitar Bogor. Topeng penutup muka jenazah dari masa lampau juga ditemukan di Gilimanuk, Makassar, dan Jawa Timur. Ada pula yang terpahat dalam motif pada bejana yang ditemukan di dekat deretan patung megalitik di Bada, Sulawesi. Selain itu, ada pula Topeng Cermet (ceramic metal) di Gua Made hingga Topeng Barong Brutuk di Trunyan, Bali.
(*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here