“Kamu mau ke Jogja? Seru tuh pasti. Jalan-jalan di Malioboro, belanja-belanja cantik di Beringharjo, ke Tebing Breksi, makan gelato, wisata alam, gak? Pasti ke Pantai Indrayanti kan? terus – insert top 10 pilihan masyarakat saat berlibur ke Jogja- Have fun, ya!”

Aduh, so last year banget.

Jadi, di dalam kereta Bengawan yang melaju cepat ke Yogyakarta, saya search tempat yang kalau saya bikin Insta Story langsung pada reply “Di mana nih??” “Tempatnya instagram-able!” “Ih ngiri! Aktivitasnya seru banget. Besok OTW pokoknya”.

Niatnya, di perjalanan kali ini, saya ingin belajar sesuatu, terkhusus kebudayaan tempat yang akan saya datangi. Dan akhirnya pilihan saya jatuh pada Tembi Rumah Budaya.
Tidak susah untuk menuju ke Tembi Rumah Budaya. Bagi yang menggunakan mobil pribadi, tinggal letakkan alamat Tembi Rumah Budaya yaitu Jl Parangtritis Km 8,4 Timbulharjo, Sewon, Bantul di aplikasi Maps, dijamin sampai ke pintu masuknya. Sedangkan yang travel sendirian kaya saya, no worries! Karena sekarang transportasi online sudah banyak di Yogyakarta.

Badegan Salah Satu Bale Inap di Tembi foto – Wulan Octoviani

Di Tembi Rumah Budaya, ada yang namanya Museum Tembi. Di museum inilah, terdapat berbagai koleksi sejarah yang berkaitan dengan budaya Jawa. Dari koleksi keris yang berjumlah ratusan, wayang kulit, wayang golek, topeng-topeng, berbagai tombak, mainan tradisional, batik, motor dan sepeda kuno, naskah-naskah kuno, dan masih banyak lagi.
Selain melihat koleksi sejarah, kita dapat melihat peragaan cara membuat benda-benda kesenian tersebut. Dari menatah topeng kayu, menyungging wayang kulit, membatik, menjamas keris hingga melukis wayang yang biasanya dimulai dari pukul 10.00-15.00 WIB.

Dan yang tak kalah mengejutkan, kita dapat melihat langsung rumah-rumah tradisional khas Jawa. Rumah yang berusia 50 sampai 70 tahun dijadikan life museum sehingga kita yang ada di masa sekarang masih bisa menyaksikan sekaligus menikmati keindahan bangunan dengan bergaya limasan dan berdinding kayu pada zaman dahulu. Rumah-rumah ini diangkut dari berbagai daerah di Jawa lalu direkonstruksi.

Rumah tradisional khas Jawa ini selain dinikmati bisa ditinggali juga. Ya, kita bisa turut merasakan tidur di dalam rumah khas zaman dahulu. Nah, inilah mengapa Tembi rumah Budaya bisa dibilang paket lengkap, 2in1. Selain bisa belajar banyak tentang budaya Jawa dengan menyaksikan langsung koleksi museum dan melihat peragaan, kita bisa menginap dan berelaksasi melepas kepenatan.

Di Tembi Rumah Budaya terdapat 9 bale inap yang tentunya berbeda-beda arsitektur serta fasilitasnya. Nama-nama bale inap ini kebanyakan diambil dari daerah rumah-rumah tradisional ini berasal. Di sisi pintu masuk, terdapat deskripsi jenis bale inap. Salah satu bale inap yang saya tempati bernama rumah Badegan, sebuah rumah panggung tradisional Sunda yang dibuat pada tahun 1954. Yang unik dari rumah ini adalah adanya kolam sehingga untuk mencapai rumah kita harus menyeberang jembatan.

Ketika memasuki rumah Badegan, akan disambut dengan satu double bed serta dua single bed. Kamar mandinya juga ada dua, dengan hiasan bebatuan sebagai lantai. Selain itu, meski ini rumah zaman dahulu tapi tetap disesuaikan untuk kenyamanan menginap seperti AC dan juga Wi-Fi.

Oh iya, di dalam rumah gak ada televisi. Televisi hanya ada satu dan itu diletakkan di restoran atau nama lebih akrabnya Warung Dhahar Pulo Segaran. Jadinya, ketika kita mau menonton televisi, kita harus menontonnya juga dengan yang lain, bisa sambil makan. Kaya zaman dahulu gitu lah pokoknya. Dulu, kalau mau menonton televisi pasti masyarakat berkumpul di satu tempat atau satu rumah yang mempunyai televisi. Karena gak semua orang punya televisi waktu itu.

Sarapan Pagi di Pulo Segaran foto – Wulan Octoviani

Omong-omong soal Warung Dhahar Pulo Segaran, disini lah tempat semua orang berkumpul dari sekadar menonton televisi, berbincang-bincang, anak-anak bermain permainan tradisional congklak yang disediakan dan juga tentu aja, makan.

Menu makanan di Warung Dhahar Pulo Segaran diambil dari Serat Centhini, karya sastra Jawa terbesar yang menghimpun segala macam ilmu pengetahuan dan kebudayaan Jawa. Ada juga makanan ala angkringan yang murah. Paket menginap di Tembi juga sudah termasuk makan 3x (pagi, siang, malam) serta camilan-camilan. Wah, kok bisa?

Karena tembi sebagai bale inap ingin memberikan rasa ‘kaya di rumah nenek (dan juga kakek, karena si kakek yang beli rumahnya)’. Di rumah nenek, apalagi kalau rumah nenek di desa, kita seolah gak usah pusing. Tidur nyaman dan juga jauh dari bising keramaian. Begitu bangun tidur, langsung disuguhin teh atau kopi dan juga gorengan sebagai cemilan. Sehabis itu, dilanjutkan dengan makan pagi bersama-sama yang tentunya porsinya dalam jumlah besar. Nanti siang kalau laper, makan lagi. Begitu juga dengan makan malam. Yah begitulah kasih sayang seorang nenek.

Jadi baper inget nenek. Karena rasanya kaya beneran ada di rumah nenek, sih. Untung aja waktu ke warung gak kelepasan teriak, “Nek…” buat minta makan.

Beristirahat semalam di dalam rumah tradisional zaman dahulu dan menghabiskan waktu di Tembi Rumah Budaya bagaimana rasanya? Persis dengan apa yang digadang-gadangkan oleh Tembi Rumah Budaya: masa lalu selalu aktual.

Tembi, baik dengan Museum Tembi maupun Tembi sebagai bale inap mampu membuat masa lalu kini hadir kembali di hadapan kita. Kita dapat merasakannya, di era sekarang, tanpa harus repot-repot memikirkan bagaimana caranya membuat mesin waktu untuk kembali ke masa lalu.

Koleksi Museum Tembi Rumah Budaya foto – Wulan Octoviani

Lewat koleksi wayang kulit di museum Tembi, misal. Kita dapat mengetahui cerita tentang Ramayana atau Mahabharata. Merasakan membuat batik, sekalipun itu batik cap tetapi tetap membutuhkan tingkat ketelitian yang tinggi. Koleksi Topeng yang berbeda warna, berbeda pula jenis sifat atau karakter yang dibawakan.

Akhirnya, keputusan untuk mengunjungi Tembi Rumah Budaya dalam perjalanan ke Yogyakarta kali ini meninggalkan rasa puas dan kesan yang mendalam. Selain belajar banyak hal baru tentang budaya Jawa, saya dapat melepas rasa penat karena dilayani dengan baik oleh staf Tembi Rumah Budaya dari kenyamanan menghabiskan waktu di dalam bale inap, perut kenyang, hingga keramahan staf yang berada di sana. Benar-benar paket lengkap deh Tembi Rumah Budaya, tuh! (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here