Puisi Heru Mugiarso

0
54

Puisi Di Jantung Tembi

buat Ons Untoro

Berpuluhpuluh frasa bersayap
Serupa laron merubung bolam di kelam malam
Adakah oase di jantung Tembi
Ataukah hanya menepi dan sejenak jeda
Dari ingar Yogyakarta?

Berpuluh majas berhamburan di demarkasi senja
Serupa negeri fiksi di teras sebuah benua
Barangkali kami akan tetap bertahan di sini
Selama paruparu bernafas menghirup segar uar puisi.

Tembi Rumah Budaya ,Yogya, 4 Mei 2019

 

Jalan Rindu

Seutas jalan rindu ke alamatmu
Terbungkus rapi sepanjang nadiku
Dan kubiarkan ia berdenyut
Ketika selintas citra wajahmu lewat dan aku terhanyut

Kubiarkan umur cinta memanjang
Jauh lebih panjang dari usia percintaan kita
Kerna sesungguhnya aku sangat butuh ruang
Buat menyendiri dan hanya bayangmu setia menemani

Seutas jalan rindu (mungkin) mengantarku ke alamatmu
Yang hurufhurufnya perlahan mengabur
Karena tanpa sengaja tahuntahun berlalu
Dengan setiapkali menggali lubang kubur.

2019

 

Kamis Putih

Seekor merpati merayakan kepaknya di antara bulubulu putih
Gugur menyerpih
Seorang gadis menahan tangis
Ketika menyeberang di antara parafrase pengakuan dosa yang perih

Bukankah ini kamis putih? seseorang tibatiba bertanya.

Barangkali akan dikenang perjamuan dan siasat berkhianat
Juga tandatanda kabung

Dari riwayat abad
Yang nyaris terselubung.

2019

 

Kitab Puisi

Kertaskertas berbau imaji terhimpun
Mewartakan berita yang tak pernah disampaikan jam
Karena ia perih
Karena berlari di depan waktu

Maka, ketika tersulap jadi kitab
Tak semuanya ikhlas membukanya
Barangkali ia semacam kotak pandora
Yang membuat seseorang cemburu sekaligus paranoia

2019

 

Di Dadamu

Di dadamu ada degup yang tak sanggup kuterjemah
Bahkan dengan bahasa cinta paling sederhana
Kerna mungkin aku harus siap mendaki terjalnya bebukitan
Dan sepasang gunung biru dalam lukisan kanakkanak silam

Di dadamu ada debar yang kutangkap
Dari riang ombak berselancar
Karena gemuruh lautan
Akhirnya harus pulang ke pantai dan tertambat di pelabuhan

Di dadamu ada padang padang terbuka
Lahan di mana para kuda jantan berlarian
Mengendalikan gairah syahwat yang liar
Sedemikian bergejolak namun tak tertahankan

2019

————–

Heru Mugiarso, lahir di Purwodadi Grobogan, 2 Juni 1961. Menulis puisi sejak masih duduk di bangku SMP.  Karya-karya berupa puisi, esai dan cerpen serta artikel di muat di berbagai media lokal dan nasional.Antologi puisi tunggal yang telah terbit : Tilas Waktu  (2011) dan Lelaki Pemanggul Puisi (2017). Novelnya bertajuk  Menjemput Fatamorgana terbit  tahun 2018. Sekitar tujuh puluhan judul buku  memuat karya-karyanya. Penghargaan yang diperoleh adalah Komunitas Sastra Indonesia Award 2003 sebagai penyair terbaik tahun 2003. Namanya tercantum dalam buku Apa dan Siapa Penyair Indonesia (2017). Sebagai narasumber acara sastra pada program Bianglala sastra Semarang TV. Juga, Pembina Komunitas Lentera Sastra mahasiswa jurusan Bimbingan Konseling Unnes. Sehari-hari ia bekerja sebagai dosen Universitas Negeri Semarang. Alamat rumah : Jl Bukit Kelapa Sawit IV/30-31 Perum Bukit Kencana Jaya Tembalang Semarang 50271 , email :  [email protected]no HP/WA 081325745254

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here