Infantri: Riwayat Panjang Tulang Punggung TNI AD

0
19

Pasukan infanteri bagi militer Indonesia ibarat senjata utama Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD). Keberadaan pasukan infanteri ditata, dibina dan disusun dalam organisasi yang bersifat operasional taktis. Ada dua sifat pokok yang perlu diperhatikan yaitu daya gerak serta daya tembak.

Pada awal kemerdekaan, pasukan infanteri Indonesia (yang baru lahir) benar-benar menjadi pasukan pejalan kaki dalam arti sebenarnya. Pasukan infanteri ini dapat dikatakan cukup efektif. Pukulan pasukan Belanda sering dimentahkan dengan strategi bertempur yang mampu menyebar untuk menghindari serangan, kemudian melakukan regrouping dalam bentuk kantong-kantong perlawanan. Ketika tentara Belanda lengah, pasukan Indonesia muncul, menyerang kemudian menghilang. Keberhasilan dan kemenangan ini mampu menghapus kekhawatiran beberapa pihak terhadap kebijakan pemerintah tentang Reorganisasi dan Rasionalisasi (Re-Ra) tentara Indonesia. Re-Ra mempunyai tujuan membentuk tentara yang profesional, efektif dan efisien di bawah satu komando.

Sebelum tahun 1949 persenjataan di lingkungan batalyon infanteri TNI sangat bervariasi. Hal ini dipengaruhi oleh perjuangan revolusi kemerdekaan 1945-1950, di mana segala senjata digunakan, dan pasukan juga dari berbagai latar belakang. Hal ini menyulitkan ketika harus menyediakan amunisi dan suku cadang karena bermacam-macam yang harus disediakan.nUntuk mempermudah perawatan, penyediaan suku cadang, pola latihan dan amunisi kemudian diadakan standardisasi.

Jejak tugas pasukan infanteri di Indonesia sangat banyak. Mulai dari perang melawan Belanda, sampai menghadapi sesama anak bangsa. Menumpas pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) yang berpusat di Jawa Barat, Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) yang berpusat di Sumatra Barat, sisa-sisa Partai Komunis Indonesia di daerah Blitar (operasi Trisula), Fretilin di Timor Timur, Gerakan Aceh Merdeka, Organisasi Papua Merdeka. Di antara tugas-tugas tersebut mungkin yang paling ‘menyedihkan’ adalah ketika menghadapi ‘kawan’ sendiri, yaitu (eks) batalyon infanteri 426 yang memihak DI/TII.

Buku ini memaparkan sejarah perjalanan panjang infanteri Indonesia, pengembangan pasukan, persenjataan, keterampilan, kemahiran dan lain-lain. Selain menghadapi sesama manusia, mereka juga harus siap menghadapi ‘ganasnya’ alam. Salah satunya yang ‘terkenal’ adalah malaria di bumi Irian.

Judul : Infanteri. The Backbone of the Army
Penulis : Priyono
Penerbit : Mata Padi, 2012, Yogyakarta
Bahasa : Indonesia
Jumlah halaman : x +139

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here