Setelah proklamasi kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 1945, situasi politik di Indonesia sangat kacau. Jakarta semakin tidak kondusif untuk menjalankan pemerintahan NKRI. Maka diputuskan mulai 4 Januari 1946, pemerintahan RI dipindahkan ke Daerah Istimewa Yogyakarta hingga akhir Desember 1949.

Belanda berusaha lagi untuk melakukan penjajahan ke Indonesia. Bahkan sampai terjadi Agresi Militer I dan II. Yogyakarta terus dibombardir oleh Belanda. Seluruh wilayah di Yogyakarta menjadi sasaran serangan Belanda, tidak terkecuali wilayah Bantul, yang terletak di sebelah selatan Kota Yogyakarta.

Daerah Ngoto menjadi salah satu saksi bisu serangan Belanda di wilayah Bantul. Ngoto pada tanggal 27 Juli 1947, heboh karena sebuah pesawat Dakota VT-CLA carteran RI yang membawa bantuan obat-obatan diserang oleh pesawat P-40 Kittyhawk Belanda, dan akhirnya jatuh di daerah itu. Beberapa pahlawan RI gugur, seperti Komodor Udara Agustinus Adisucipto dan Abdurrachman Saleh.

Seorang pengunjung melihat koleksi peta rute gerilya Jendral Sudirman di wilayah Jawa-foto-suwandi

Pada masa perang revolusi, beberapa wilayah Bantul, seperti Imogiri menjadi tempat pengungsian sekaligus pertahanan pasukan TNI setelah Kota Yogyakarta dikuasai oleh Belanda. Tempat itu menjadi strategis juga untuk menyusun siasat serangan balik ke Belanda, karena medannya yang sulit sehingga terlepas dari pantauan Belanda, baik dari sisi udara dan darat. Begitu pula dengan wilayah-wilayah lain di Bantul, seperti Pandak, Kotagede, Banguntapan, Bangunjiwo, dan daerah lainnya, menjadi daerah pertahanan TNI di masa perang revolusi.

Bantul yang banyak berperan dalam perang revolusi tahun 1945 hingga 1949 dapat dilihat dalam Pameran Keliling yang diselenggarakan oleh Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta (MBVY) yang bekerjasama dengan Dusun Nogosari I & II, Desa Wukirsari, Kecamatan Imogiri, Bantul.

Peserta kerajinan kulit yang ikut menyemarakkan acara pameran keliling Museum Benteng Vredeburg di Wukirsari, Imogiri, Bantul-foto-suwandi

Pameran Keliling bertempat di Joglo Wisata Wayang Wukirsari, terletak Dusun Nogosari II, diselanggarakan pada tanggal 9—13 Juli 2019. Tema pameran adalah “Merawat Kebhinekaan Memperkokoh Nasionalisme”. Selain pameran keliling, juga diselenggarakan Merti Dusun Nogosari. Acara pameran keliling dimeriahkan pula dengan acara pentas seni, koesplus-an, workshop arkeologi, pemutaran film, wayang cakruk, dan pagelaran wayang kulit.

Abdul Halim Muslih, Wakil Bupati Bantul melihat koleksi pedang dalam pameran keliling di Wukirsari, Imogiri, bantul-foto-suwandi

Dalam Pameran Keliling tersebut, MBVY menampilkan berbagai koleksi, di antaranya: pedang milik Duljiman dan Wakir, gogok dan poci, lumpang dan alu, peralatan minum, tas ransel, sepeda, dan beberapa ilustrasi gambar dan foto. Dalam pameran keliling tersebut, dibuka oleh Wakil Bupati Bantul, H Abdul Halim Muslih dan dihadiri pula oleh beberapa instansi terkait, seperti Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Yogyakarta, Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Yogyakarta, dan museum-museum di Bantul. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here