Indonesia Mask Festival (IMF) yang diselenggarakan di Museum Ullen Sentalu, Sabtu, 6 Juli 2019 merupakan acara yang terselenggara atas kerja sama pengelola museum Ullen Sentalu di Yogyakarta, Museum Topeng Panji (Malang) dan seniman/budayawan. Hal itu merupakan salah satu cara untuk melestarikan kesenian topeng sebagai warisan budaya yang menjadi salah satu identitas kebangsaan.

IMF di Indonesia dilaksanakan di beberapa kota, yakni Yogyakarta, Surakarta, dan Malang. IMF juga merupakan salah satu cara agar karya seni ini dapat diakui dunia sebagai world heritage. Demikian antara lain seperti yang disampaikan Daniel Haryono selaku Director of Museum Ullen Sentalu.

Museum Ullen Sentalu yang ketempatan untuk penyelenggaraan IMF tahun 2019 di samping menyelenggarakan Pameran Topeng juga menyelenggarakan seni pertunjukan topeng. Ada banyak topeng yang dipamerkan di Ullen Sentalu yang di antaranya berasal dari berbagai suku di Indonesia, seperti Asmat, Komoro, Dayak, Belu, Lombok, Sepik, dan lain-lain. Topeng-topeng dari berbagai suku ini memberikan informasi pengetahuan tentang aneka ragam topeng di Nusantara lengkap dengan fungsi atau kegunaannya. Baik itu untuk kegunaan yang bersifat profan atau sakral.

Opera Dyah Kayungyun dalam IMF 2019 di Museum Ulllen Sentalu-Foto-A.Sartono

Seni pertunjukan topeng yang ditampilkan di Museum Ullen Sentalu pada kesempatan ini adalah Tari Gedrug, Tari Klana Sembunglangu, Opera Dyah Kayungyun, dan Tari Srimpen Topeng Kusumajati Pitaloka.

Tari Gedrug yang ditarikan oleh empat orang anak dengan mengenakan topeng buto (raksasa) dan menggunakan krincing di bagian betis dimaknai sebagai perwujudan iblis yang menyeramkan. Semula topeng ini dibuat oleh empu yang tidak boleh melakukan kesalahan dalam proses membuat topengnya karena fungsinya untuk ritual, namun dalam perkembangannya semua itu digunakan untuk pertunjukan kebudayaan.

Tari Klana Sembunglangu pada prinsipnya menunjukkan tentang Klana Sewandana yang jatuh hati kepada Galuh Candra Kirana sehingga tanpa sadar “menggandrung” Sembunglangu (abdinya). Opera Dyah Kayungyun menggambarkan cerita Panji dari titik tolak perempuan yang dalam jatuh cintanya tidak pernah bertemu dengan sang pria idaman hati hingga digambarkan seperti matahari dan rembulan yang saling menatap tapi tidak pernah bertemu. Tari Srimpen Topeng Kusumajati Pitaloka menggambarkan tiruan Tari Srimpi yang menggambarkan perjuangan Dyah Pitaloka dalam membela kerajaannya, Kerajaan Pajajaran.

Tari Gedrug dalam IMF di Ullen Sentalu-Foto-A.Sartono

IMF pertama kali diselenggarakan di Benteng Vastenburg Surakarta pada tahun 2014. Untuk tahun 2019 ini, yang IMF diselenggarakan mulai tanggal 4-9 Juli 2019 mengusung konsep pertunjukan seni topeng dan pameran seni kerajinan topeng. Ada pun tema IMF tahun 2019 ini adalah Soul of The Mask. Tema ini merujuk pada pengertian bahwa topeng menjadi salah satu media ekspresi jiwa manusia. Topeng dapat menggambarkan aneka ekspresi, perasaan, dan juga gagasan manusia. Topeng juga merupakan artefak seni yang sudah dikenal manusia sejak masa prasejarah.

Tari Klana Sembunglangu dalam IMF 2019 di Museum Ullen Sentalu-Foto-A.Sartono

Topeng juga memiliki nilai-nilai praktis, ekspresif, estetis, sekaligus juga dapat digunakan untuk keperluaan yang bersifat religius atau magis. Topeng pada masa prasejarah umumnya digunakan untuk kepentingan-kepentingan ritual. Pada masa kemudian topeng juga banyak digunakan untuk kepentingan ekspresi estetis bagi sebuah seni pertunjukan. Topeng dapat dibuat dari material kayu, kulit kayu, kain, gibsum, tanah liat, kulit, logam, dan sebagainya.
(*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here