“Penyair tahun 1980-an kalau tampil membaca puisi tangannya di angkat dan satu kakinya maju ke depan” kelakar Rakhmat Giryadi sambil tangannya diangkat dan kaki kanannya maju ke depan. Ia mengatakannya sebelum membacakan puisi di Tembi Rumah Budaya sekitar 4 tahun lalu. Tentu hadirin tertawa mendengar kelakar Giryadi, panggilannya.

Giryadi, bersama beberapa temannya di antaranya Aming Amnoedhin, Widodo Basuki dan Suharmono K mengisi Sastra Bulan Purnama dengan satu pertunjukan yang disebutnya sebagai ‘ludruk puisi’. Satu perpaduan antara membaca puisi dan pertunjukan ludruk, yang menghadirkan tawa.

Dan ludruk puisi itu meninggalkan kenangan untuk pertunjukan Sastra Bulan Purnama. Giryadi bersama Aming dan beberapa temannya, pada kali berikutnya kembali tampil di Sastra Bulan Purnama, tentu dalam tahun yang berbeda. Tidak ketinggalan Pipie J Egbert, perempuan penyair dari Surabaya ikut dalam rombongan itu.

Kabar duka datang dari teman-teman di Jawa Timur, melalui media sosial, salah satunya  Aming Aminoedhin, salah satu dari sejumlah sastrawan dari Jawa Timur, yang sering kontak dengan saya, menyampaikan bahwa Rakhmat Giryadi, pada Senin, 8 Juli 2019 pukul 06.16 telah dipanggil Tuhan.

Saya tertegun mendengar kabar itu. Memang perihal dia opname di rumah sakit  saya mendengar, dan ketika Suharmono K, kawannya dari Jawa Timur, membaca puisi di Sastra Bulan Purnama Juni 2019, menyampaikan kabar sakitnya Giryadi, dan kita bersama mendoakan supaya dia segera sehat dan kembali ludrukan di Sastra Bulan Purnama.

Cerpen dia dimuat di Harian Kompas edisi Minggu, 7 Juli 2019 denga judul ‘Pohon Gayam’. Rupanya itu merupakan cerpen terakhir yang dimuat di media cetak, dan kita tidak menduga, bahwa Giryadi akan begitu cepat pergi dalam usia 50 tahun.

Beberapa kali saya dan Lik Gir, ia sering dipanggil begitu oleh teman-temannya, saling kontak dan saya selalu menanyakan: “Kapan ludrukan puisi lagi?” Karena dia mempunyai jadwal kegiatan yang cukup padat, sehingga harus menyediakan waktu untuk pergi ke Yogya, dan jadwal itu belum tersedia sampai hari ini.

Konten Terkait:  Orang yang Lahir pada Mangsa Surya XII Punya Watak Welas Asih

“Wah, nembe kathah dados juri niki pak Ons (Wah, waktunya sedang banyak untuk menjadi yuri pak Ons,” begitulah dia merespon ajakan saya.

Rakhmat Giryadi bersama Widodo Basuki dan Aming Aminoedhin, saat luduran puisi di Amphytheater Tembi Rumah Budaya

Giryadi, selain produktif menulis puisi dan karya sastra lainnya, juga seringkali bertindak sebagai juri lomba baca puisi atau juga menjadi narasumber dalam seminar sastra dan kebudayaan. Pendeknya, waktunya selalu diisi dengan kegiatan kebudayaan. Hasil karya yang dibukukan sudah cukup banyak, tidak hanya menulis puisi, tetapi juga menulis karya lakon. Beberapa karyanya, termasuk pernah menggarap naskah drama  di antaranya ialah: Kumpulan cerpen  Mimpi Jakarta, (2006). Puisinya termuat dalam “Luka Waktu’ (1998), ‘Duka Atjeh, Duka Kita Bersama’ ((2004), ‘Malam Sastra Surabaya’ (Malsasa 2005), dan Malam Sastra Surabaya (Malsasa 2007). Ia juga pernah menulis skenario “Ruamahku Rumahmu (2006),

Selain itu dia juga pernah mengggarap  puluhan naskah drama dalam rentang tahun  1994 sampai tahun 2007. Beberapa di antaranya “Orang-Orang Bawah Tanah (1994), ‘Monolog Provokator (1996), ‘Monolog Teriakan Sunyi’ (2004), ‘Nyai Ontosoroh’ (2007) dan sejumlah  lakon lainnya.

Giryadi juga pernah menulis beberapa naskah drama, di antaranya berjudul: ‘Orde Mimpi’ (1994), ‘Monumen’ (1997 dan ‘Serpihan Kaca Pecah’ (1997), ‘Terompet Senjakala (2003), dan beberapa naskah monolog, di antaranya berjudul “Monolog Peperangan’ (2000), ‘Bingkai Kanvas Kosong’ (2003) dan ‘Retorika Lelaki Senja’ (2005).

Rakhmat Giryadi dilahirkan di Blitar, 10 April 1969, dia tinggal di Sidoajo. Karya-karya banyak dimuat di media cetak, seperti Kompas, Jawa Pos, Suara Merdeka, Sinar Harapan, dan Horison.

Kini Giryadi telah pergi, dan tak akan kembali. Selama jalan Lik Gir, karyamu akan selalu abadi. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here