Puisi Eka Yuli Andani

0
78

Sajak Kenangan

Aku masih teringat ketika
Sepucuk surat kuterbangkan
Bersama derasnya air hujan
Saat kita lenyap dalam permainan
Di teras rumah senja itu

Telah kulangitkan rasa indah ini
Kepada sang bayu
Berkelana mencari jati diri

Tapi, suratku tersangkut
Di sepucuk daun yang menguning
Dan setelah kulihat kembali
Maknanya telah berubah
Menjadi segelintir angan yang tertutup kabut
Hingga kuputuskan untuk
Menapaki lembah curam di pulau itu
Sejengkal demi sejengkal
Mengambil hatimu yang masih tertinggal
Di relung lembah kala itu

Purwokerto, 1 Desember 2018

 

Seusai Bangun Tidur

Kulangkahkan jejak pandang
Melihat rembulan jatuh di atas bayang
Mendengar suara gaduh di keheningan malam

Sebuah kursi panjang di depanku
Telah menanti kehangatan
Untuk menikmati aroma melati suci
Yang tumbuh merekah di seberang jalan sana

Sekejap mulutku tak bisa terbungkam
Mataku tak dapat dikedipkan
Sedang jantung berdegup sangat kencang
Menjumpai keindahan langit yang tertutup awan

Sepasang kelelawar berkejaran
Melintasi dua bintang di antara awan
Yang memancarkan isi langit
Dan menitipkan satu pesan untuk bumi
“Jagalah malam, dan jangan biarkan ia menangis”
Maka kelelawar itupun terjatuh bersama tepisan angin
Menyampaikan pesan dari langit
Kepada sang bumi tanah jejak yang ku injakkan

Purwokerto, 22 November 2018

 

Izinkan Aku Melukis Wajahmu

Izinkan aku melukis wajahmu
Dari titik garis bola matamu
Kujadikan ia berpasangan indah
Sebagai baswara kehidupan

Izinkan aku melukis wajahmu
Dengan kuas dahayu yang dama
Mengukir setiap lekuk bidangnya
Hingga tergores sayatan di kalbu

Dan kau izinkanku melukis wajahmu
Agar arumi jiwamu yang
Kupancangkan di dinding pelangi
Sekelebat menggetarkan nadiku

Purwokerto, 5 Maret 2019

Gerimis Di Penghujung Senja
Bersama Ibu

Konten Terkait:  Puisi Ahmad Radhitya Alam

Hari itu…
Kau aku berjalan bersama
Di bawah senja yang hampir ujung
Dengan langkah memberat

Rintik hujan perlahan menyelinap
Di antara bayangan senyummu
Dipelupukku
Tanda perpisahan tiba

Kau berjuang untukku
Aku pun akan demikian
Kugayuh sepeda dengan gugup
Menatap hujan yang bermain bersama angin

Seketika itu, kutitipkan doa
Pada gemericiknya air langit
Untuk menjagamu, ibu
Hingga kutinggalkan gelisah indah

Purwokerto, 31 Desember 2018

 

Untuk Pejalan

Aku tak bisa memandang wajahmu
Malalui celah hujan yang
Menyergap perjalanan kita
Senja itu

Aku juga tak bisa menahan tubuhku
Untuk tidak menerima hasrat darinya
Yang menipuku, menipumu, dan
Menipu alam semesta

Aku hanya bisa berlindung di dalam
Kehangatan suaramu
Saat pejalan benar-benar ada
Di hadapanku

Pendhapa Wakil Bupati Banyumas, 1 April 2019

 

Eka Yuli Andani, kelahiran Klaten. Beralamat di Desa Tanjungtirta, Kec. Punggelan, Kab. Banjarnegara. Saat ini sedang belajar di IAIN Purwokerto Jurusan Pendidikan Agama Islam. Ia juga bergiat di Sekolah Kepenulisan Sastra Peradaban (SKSP) Purwokerto. Beberapa puisinya telah terdokumentasi ke dalam beberapa antologi, seperti: Kelopak Cinta Bidadari (Laditri Karya, 2018), Imajinasi Aksara (Naisastra, 2019), Pilar Puisi 5 (Cinta Buku, 2019), dan beberapa karyanya terpublish di Nusantaranews.com, Majalah simalaba.net, Negeri kertas.com, serta Koran Madura. Penulis dapat dijumpai di Ig: ekayuliandsweet15, fb: Eka Yuliandani, atau Hp: 082324478916.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here