Riwayat Pembangunan Jalan Trans Jawa yang Penuh Nestapa

0
29

Marsekal Herman William Daendels datang ke Jawa (Batavia) pada tahun 1808. Daendels adalah utusan Louis Napoleon yang sedang ‘berkuasa’ Belanda, karena pada saat itu Belanda diduduki Perancis. Louis adalah adik Napoleon Bonaparte, penguasa Perancis. Tugas utama Daendels adalah mengamankan Jawa dari serangan Inggris.

Setiba di Batavia, Daendels segera bertindak. Pemerintahan dibuat sentralisasi dengan birokrasi modern yang lebih efisien. Para bupati dimasukkan ke dalam peta administrasi dan masuk sistem kedinasan Belanda. Untuk memermudah mobilisasi pasukan dan juga transportasi, Daendels membuat jalan di sepanjang Pulau Jawa. Tanggal 5 Mei 1808 ia menginstruksikan pembangunan Jalan Raya Pos (De Grote Postweg).

Hanya dalam waktu setahun (1808-1809) bentangan jalan dari Anyer, Jawa Barat, sampai dengan Panarukan, Jawa Timur, rampung tersambung. Panjangnya kurang lebih 1.000 kilometer. Jalan ini dapat terselesaikan dalam waktu singkat karena tangan besi Daendels. Sehingga tak heran apabila banyak kisah muram dan penderitaan di dalamnya.

Jalan tersebut sebenarnya tidak semuanya baru. Daendels memanfaatkan jalan-jalan pedesaan yang sudah terbentang sepanjang Jawa. Antara Batavia dan Surabaya, Daendels mendirikan 50 stasiun pos. Jalur pertama yang dikerjakan adalah Buitenzorg (Bogor) lokasi istananya sampai Cirebon. Lebar jalan 7,5 meter sesuai standar Eropa, berbatu dan berpasir agar dapat dilalui kuda pada saat musim hujan. Melalui jalan tersebut Daendels melakukan koordinasi (lebih tepatnya perintah) kepada bupati dan aparat daerah. Di antaranya instruksi penanaman kopi, dan melalui jalan tersebut kopi diangkut.

Saat pelaksanaan pembangunan ternyata tidak semulus hitungannya. Ada lokasi-lokasi tertentu yang berat dan sulit dibuat. Seperti Megamendung-Cianjur-Parakanmuncang-Sumedang-Karangsambung. Banyak kuli yang menjadi korban, karena kelaparan, kelelahan atau penyakit. Tetapi hal ini tidak menyurutkan niat Daendels, yang pada dasarnya berwatak keras, sombong, angkuh dan kejam. Pembuatan jalan tetap diteruskan karena dianggap penting.

Untuk menekan anggaran, sebagian biaya dibebankan ke bupati-bupati setempat, dan yang kena pada akhirnya juga rakyat. Hanya pada rute-rute tertentu yang berat, Daendels mau mengucurkan dana. Daendels juga mengumpulkan 38 bupati se Jawa dan meminta mereka untuk meneruskan pembangunan ke Semarang, lalu Surabaya dan berakhir di ujung timur.

Jalan yang pengerjaannya penuh kisah kekelaman ini, pada saat sekarang menjadi jalan industri. Ia masih menjadi sebuah jalan trans Jawa satu-satunya. Jalur jalan ini telah membawa banyak
perubahan, baik perubahan yang positif maupun negatif.

Judul : Jalan Pos Daendels
Penyunting : Seno Joko Suyono, dkk
Penerbit : KPG + Tempo Publishing, 2017, Jakarta
Bahasa : Indonesia
Jumlah halaman : ix + 128

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here