“Wayahe wayahe…..” sebuah frasa yang akhir-akhir ini viral di media sosial dikumandangkan oleh Roni Udara saat membuka lagu terakhir hasil dari kolaborasi terakhir Ciao Lucifer dan Rubah di Selatan, Kamis, 27 Juni 2019 di Pendopo Tembi Rumah Budaya.

Penonton yang duduk di karpet maupun kursi lantas berdiri dan menari bersama. Perpaduan musik eletronik nan modern dengan sentuhan etnik khas Rubah di Selatan sukses membuat penonton yang hadir terkejut dan terkagum. Tullo menutup dengan manis pertunjukan malam itu.

Ciao Lucifer adalah sebuah grup musik asal Amsterdam yang beranggotakan Marnix Dorrestein (gitar, vokal) dan Willem Witz (drum, vokal), sepasang teman yang bersahabat selama belasan tahun. Ciao Lucifer awalnya merupakan proyek senang-senang di kala Marnix dan Willem didera patah hati. Berjalannya waktu, mereka mulai melihat Ciao Lucifer dengan berbagai kemungkinan dan peluang, salah satunya adalah peluang untuk bepergian.

Ciao Lucifer bersama Penonton yang Hadir foto-Gevi Noviyanti

Sejalan dengan kehendak semesta, Erasmus Huis, Pusat Kebudayaan Belanda, mengajak Ciao Lucifer untuk menggelar tur di indonesia. Tur tersebut akan digelar di tiga kota, yaitu Yogyakarta, Solo, dan Jakarta.

Diawali dengan proses residensi yang berlangsung selama hampir dua minggu di Tembi Rumah Budaya, Ciao Lucifer menggarap beberapa karya baru dan juga berkolaborasi dengan grup musik lokal. Rubah di Selatan, salah satu grup musik asal Yogyakarta yang beberapa waktu lalu merilis album perdana, menjadi teman kolaborasi pertama mereka dalam tur kali ini.

Ciao Lucifer di Tembi Rumah Budaya foto – Gevi Noviyanti

Relasi antara Ciao Lucifer dan Rubah di Selatan merupakan sebuah relasi yang unik. Persahabatan mereka berawal dari pertemuan saat Rubah di Selatan menggelar tur di Eropa tahun lalu. Saat itu Rubah di Selatan perform di sebuah acara bertajuk A Day in The Forest yang ternyata diinisiasi oleh Marnix dan Willem. Persahabatan mereka tidak berhenti hanya di situ. Saat Ciao Lucifer mengabarkan tentang kunjungannya ke Yogyakarta dan kemungkinan mengenai kolaborasi, Rubah di Selatan menyambut baik hal tersebut.

Kolaborasi antara Ciao Lucifer dan Rubah di Selatan merupakan hasil dari respon mereka terhadap musik satu sama lain. Selama tiga hari mereka berproses dalam suasana yang hangat dan cair hingga melahirkan dua buah karya berjudul Divide the Sun dan Tullo.

Divide the Sun merupakan sebuah karya yang menceritakan tentang proses bertemunya dua orang yang akhirnya menjadi teman. Dalam proses ini mereka mengalami fase up and down yang justru membuat mereka menjadi pribadi yang lebih dewasa.

Selanjutnya ada Tullo yang merupakan cara Rubah di Selatan menyambut Ciao lucifer datang ke Indonesia. Melalui Tullo, Rubah di Selatan mengajak Ciao Lucifer mengenal Indonesia dengan keragamanan budayanya. Tullo merupakan sebuah lagu dengan gabungan Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia. Di tengah lagu, Rubah di Selatan menyelipkan berbagai macam kekhasan Indonesia mulai dari tari kecak, seruan ‘Horas!’, juga potongan lagu Sinanggar Tulo.

Konser musik tersebut dibuka oleh Rubah di Selatan dengan Mata Air Mata dan dilanjutkan dengan lagu Little Fox. Setelahnya Ciao Lucifer menyapa penonton yang hadir dengan hangat. Selama hampir 40 menit, mereka mengajak menonton untuk menikmati karya-karya mereka yang diselingi dengan obrolan maupun gurauan.

Residensi Ciao Lucifer dan Rubah di Selatan di Tembi Rumah Budaya foto – Gevi Noviyanti

Marnix dan Willem bergantian bercerita mengenai musik, persahabatan, pengalaman dan kesan berada di Indonesia, serta kolaborasi dengan Rubah di Selatan. Beberapa kali baik Marnix maupun Willem mengucapkan “Mantul, mantap betul!!!” dengan riang di atas panggung yang disambut dengan tawa penonton.

Ciao Lucifer menuturkan bahwa mereka membuat lagu dalam Bahasa Inggris agar bisa dipahami oleh banyak orang. Dan hal tersebut terbukti di konser kemarin. Karya mereka seperti Anywhere, In While I Out, dan Robots dibawakan dengan apik. 40 menit pun belalu dengan singkat. Ciao Lucifer sukses menarik perhatian penonton yang datang ke Tembi Rumah Budaya.

Di penghujung acara, Ciao Lucifer mengajak Rubah Di Selatan untuk kembali naik ke atas panggung. Datanglah momen yang sudah ditunggu oleh penonton. Suasana panggung semakin menyenangkan. Semuanya menari bersama dengan riang saat Divide The Sun dan Tullo dibawakan.

Konser malam itu ditutup dengan momen foto bersama. Ciao Lucifer menggelar konser di Lokananta Solo pada 3 Juli 2019 dan di Erasmus Huis Jakarta pada 6 Juli 2019. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here